Jumat, 27 Februari 2009

CATATAN KAKI SEORANG PEJALAN KAKI

Refleksi Singkat Perjalanan dari Mertoyudan ke Candi Ganjuran


Transformasi Makna Peziarahan
Di awal semester II ini, sebagian warga MU sedang dijangkiti gila ziarah. Ya…, sebuah upaya yang dilakukan untuk menyadari Tuhan berkarya di dalam kehidupan kita ini ini. Untuk menghayatinya, kami bahkan melakukan hal yang cukup ekstrem yakni dengan berjalan kaki ke tempat-tempat ziarah. Bahasa kerennya mah perigrinasi. Ya… semua itu kami lakukan untuk mencoba menghayati makna ziarah.
Terus terang, selama di seminari ini, saya mengalami sebuah transformasi mengenai pemaknaan ziarah. Dulu, saya lebih menganggap ziarah sebagai sebuah perjalanan jalan-jalan dengan embel-embel rohaninya. Ya…, namanya juga embel-embel maka sisi rohaninya hanya terasa sebagai tempelan saja. Ziarah terasa tidak lebih dari sekedar rekreasi. Ya… bolehlah ikut sekedar rosario atau jalan salib bersama rombongan. Tapi catat…., bukan itu yang saya inginkan sebetulnya karena semua itu terasa membosankan dan terus terang sangat monoton. Maka, begitu selesai berbagai ritual keagamaan yang aneh-aneh itu, rasanya diriku terlepas dari belenggu yang menyiksa. Paling enggak, hal yang wajib dilakukan selain sekedar jalan-jalan dan melihat panorama adalah belanja. Ya…tidak perlu yang mahal-mahal cukuplah yang murah meriah saja namun bisa mewakili bahwa saya setidaknya pernah berziarah di tempat itu. Ya… dulu hidupku terasa dangkal tanpa makna.
Namun, sejak saya berada di seminari, semua paradigmaku tentang ziarah berubah 180 derajat. Mungkin, proses formatio di seminari ini memaksaku untuk melihat sesuatu secara lebih dalam. Ziarah saya maknai sebagai miniatur dari kehidupan. Ya…kehidupan yang selalu mengarah kepada sumber kehidupan yakni Tuhan sendiri. Kita diajak untuk peka melihat tanda-tanda dari Tuhan di dalam kehidupan kita yang selama ini agak tersamarkan karena berbagai kesibukan dan hingar bingar kehidupan.

It’s Show Time
Tentunya, saya tidak tinggal diam melihat fenomena yang seperti ini. Maka, saya memutuskan untuk ikut dan larut di dalam eforia yang ada di medan ini. Awalnya…, saya sudah berencana ikut di dalam koloninya Ticus dkk. Namun, di kemudian hari rencana itu saya batalkan karena saya di ajak oleh koloni yang lebih bisa memrepresentasikan diriku. Ya koloni ini adalah klan awamis. Sebuah koloni yang bisa disebut sebagai kelompok anomali di tempat pendidikan calon imam. Koloni ini terdiri dari saya sendiri, Tama, Pradana, Arista, Aven, Kintel, Ampli, dan Binar. Saya rasa di dalam koloni ini saya merasa lebih “in” sebab merasa memiliki kesamaan nasib dan sepenanggungan. Selain itu, saya ingin membuktikan bahwa hidup rohani calon awam sekalipun tidak kalah dengan para calon imam. Memang ada kesan persaingan dalam hal ini namun menurutku ini justru adalah hal yang baik yang membawa kebaikan juga.
Kami memutuskan untuk pergi ke Ganjuran. Mungkin, ini adalah adalah jarak terjauh yang pernah saya lakukan selama saya hidup dengan berjalan kaki. Saya membayangkan perjalanan ini seperti perjalanan seorang abdi dalem ke kraton untuk meminta sowan ke Sang Ratu yakni Yesus Kristus sendiri.
Sehari sebelum berangkat, kami semua diajak Romo Nano SJ, pamong kami untuk membuat mind set dalam perjalanan ini, paling enggak biar tujuan kami dalam perjalanan ini bisa semakin jelas. Mindset yang saya tuliskan antara lain ingin menambah motivasi hidupku yang terasa akhir-akhir ini redup padahal beberapa bulan ke depan saya akan menghadapi UAN dkk dan bersiap hidup “mandiri” selepas dari seminari. Selain itu, saya merasakan mendapatkan pengalaman rohani bagaimana sepenuhnya Tuhan berkarya dalam hidup ini. Dengan mindset seperti ini saya merasakan adanya roh yang membimbing saya sepanjang perjalanan. Ya… roh itu memacu semangatku.
Sebelum berangkat, sebetulnya, hatiku sedang gundah. Bagaimana tidak…? Masak tiba-tiba saldo keuanganku jadi berwarna merah minus Rp.800.000,00. Maka, sebelum berangkat saya agak uring-uringan karena hal ini. Tapi untunglah pangkal masalahnya sudah terpecahkan sehingga tidak menjadi beban lagi sebelum perjalanan.
Segala amunisi dan persediaan logistik selama perjalanan sudah siapkan. Kelihatannya, dari segi persiapan, diriku terasa lebih “wah” daripada yang lain meskipun hal itu membuat penampilanku agak culun karena memakai kaos kaki panjang yang sama sekali tidak serasi dengan celana pendekku yang saya pinjam dari Ari. Tapi hal itu bukanlah masalah bagiku karena saya rasa kenyamanan selama perjalanan lebih penting daripada sekedar penampilan.

Let’s Go, Babe…!
Dengan semangat 1945, kami memulai langkah pertama kami dengan semangat apalagi dengan diberi sedikit wejangan dan doa dari Fr. Agus. Namun, langkah itu tidak bertahan lama. Baru di depan kantor polisi Mertoyudan, langkah kami harus berhenti. Bukan karena kelelahan atau hujan tapi karena Ampli terpaksa kembali untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di seminari. Untung ada Tama yang siap sedia membawa permen sehingga waktu untuk menunggu Ampli tidak terasa membosankan.
Perjalanan dilanjutkan. Langkah kami sama sekali tidak terhenti selama lebih dari 4 jam karena kami masih terbakar oleh semangat. Hujan yang menghadang, diselingi panas terik matahari yang terasa menyengat dan dilanjutkan lagi dengan hujan deras sampai malam tidak menyurutkan niat kami. Aneh memang, cuaca bisa berubah secara ekstrem tapi kami rasa justru inilah bumbu yang memperkaya perjalananan kami.
Rasanya kaki ini lama-kelamaan makin terbiasa dengan melangkah sehingga bisa melenggang dengan otomatis tanpa perlu diatur lagi. Rasa lelah atau pun bosan hilang sirna larut di dalam obrolan dan canda tawa. Ya…, meskipun obrolan ini terasa tanpa arah tapi justru itulah kenikmatannya.
Suasana riang memenuhi hati kami, bahkan Arista, Tama, dan Binar bernyanyi-nyanyi dengan gerakan yang agaknya cukup aneh sampai saya sendiripun agak malu melihatnya. Maklum, di jalan beberapa orang yang melihat mereka senyum-senyum sendiri. Saya mengerti apa yang ada di otak mereka, tapi untunglah lama-lama mereka jadi diam karena bosan atau kelelahan. Tapi itulah trik yang cukup ampuh untuk mengalihkan perhatian kami dari rasa capek atau bosan. Di sekitar Muntilan, langkah Aven dan Kintel mulai agak menjauh dari rombongan inti, sebab lecet-lecet mulai menggrogoti kaki meskipun tidak nampak terlalu parah.
Dihalaman toko di antara Muntilan-Salam, kami beristirahat sejenak. Saya dan Ampli mencari semak-semak untuk “memongkar muatan”. Tiba-tiba dihadapan kami berhenti motor dengan helm full face yang menutupi kepalanya. Siapa gerangan? Mungkinkah pemilik toko yang kami pakai untuk beristirahat. Ternyata orang itu adalah “Bebek” Alvian, teman eks seminaris. Seperti biasa, respon kami terhadap orang ini agak tidak terlalu antusias. Rasanya ada selubung yang mungkin adalah paradigma kami yang menghalangi kami bisa bebas bersosialisasi dengan orang itu. Meskipun begitu, kami coba tetap empatik meskipun terkesan agak dipaksakan. Ya…, seharusnya paradigmaku tidak boleh buruk kepada orang-orang tertentu karena hal itu hanya akan membuat diriku semakin terkungkung. Memang, saya sadari sulit mengubah paradigma yang seperti itu tapi itu harus saya lakukan kalau saya mau maju. Toh… semua orang punya sisi baik dan buruk. Saya sudah seharusnya melihat seseorang secara lebih utuh sebagai pribadi karena disitulah kunci dalam berelasi

Celana Dalam Menguji Emosiku
Kadang, bercanda memang diperlukan untuk mencairkan suasana yang tegang Namun kalau berlebihan, tentu ceritanya akan lain. Kebetulan, Ampli menemukan sebuah celana dalam di jalan dan ketika hendak dibuang, Binar mengambilnya dan melemparkannya pada Tama. Awalnya, Tama tidak sadar kalau sebuah celana dalam bersanding di punggungnya. Ketika sadar, ia hendak melempar balik ke Binar. Binar berhasil mengelak. Kebetulan saya berada di belakang Binar sedang asyik-asyiknya mengamati pemandangan. Tiba-tiba, plok…celana dalam yang saya duga milik wanita jika dilihat dari tekstur dan penampangnya bersarang di wajahku. Pasir-pasir yang ada di celana dalam itu berhamburan dan sebagian menempel di wajahku karena keringat memang membasahi seluruh badanku.
Saat itu, berbagai perasaan persatu padu, mulai dari kaget, marah, malu dll yang rasanya sulit didefinisikan. Untunglah diriku bisa mengendalikan emosiku dan kemarahanku tidak diekspresikan mengingat perjalananan kami belum sampai seperempat bagian dari total seluruhnya. Saya tidak mau jika karena kemarahan saya, suasana di dalam rombongan ini jadi kacau dan tidak nyaman lagi. Maka, yang bisa saya lakukan hanyalah tersenyum. Ya… segalanya terkendali meskipun biasanya di dalam kondisi seperti ini saya bisa marah besar apalagi karena lelah bisa saja emosiku memang tidak stabil
Oh iya… ada perasaan yang saya lupakan yakni takut. Sebenarnya, saya curiga pada celana dalam itu, jangan-jangan itu adalah bekas PSK atau orang gila. Bagaimana kalau di dalam celana dalam itu ada virus dkk. Hi…ngeri. Tapi, saya tetap coba berpositif thinking. Jangan sampai pikiran-pikiran semacam itu malah membuatku jadi tidak mood melanjutkan perjalananan. Untung saja saya sudah baca buku The Secret…, jadi ketakutan semacam itu tidak terlalu menggangguku. Ya…dengan berpositif thinking segalanya akan jauh lebih baik.

Jalan Masih Panjang
Akhirnya, kami sampai juga di perbatasan propinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Tentunya hal ini adalah momen yang sangat penting bagi kami. Maka, kami melakukan ritual perbatasan dengan gerakan patah-patah yang benar-benar aneh bin konyol sambil berteriak-teriak mengatakan kata Jogja. Terus terang, kami merasa sangat bersukacita telah mencapai Salam sebab menurut masterplan yang telah kami buat, kami akan beristirahat di Tempel yang tidak jauh dari Salam.
Di Tempel kami beristirahat sambil menikmatinya hangatnya mie ayam. Fuih… gila…,mie ayamnya benar-benar maknyus dan terasa pas di tengah hujan yang cukup dingin. Sebuah perpaduan sempurna apalagi jika disantap bersama-sama. Saking nyamannya, sampai-sampai saya jadi malas melanjutkan perjalanan. Namun, hal itu tidak boleh terjadi, kadang saya ditantang untuk keluar dari wilayah nyaman untuk mendapatkan sesuatu yang berharga di dalam hidup
Setelah kami menyantap mie ayam sampai habis dan asam laktat yang menyebabkan kami pegal-pegal sudah terasa hilang di otot otot kami, kami melanjutkan perjalanan. Target perjalanan kami selanjutnya adalah terminal Jombor.
Pada paruh perjalanan kami yang kedua ini, kami rasa kecepatan dalam berjalan semakin lambat karena kami sering beristirahat karena kami mulai merasa lebih cepat lelah dan kadang kram datang secara tiba-tiba tanpa kompromi. Ya…, kami sadar kemampuan fisik kami semakin lemah karena kami telah berjalan cukup jauh dan memang fisik kamipun memiliki keterbatasan sekalipun telah dipaksakan. Perjalanan ini memaksa kami untuk sedikit lebih bertebal muka. Ya…istirahat pun bisa dimana saja bahkan di emper toko sampai-sampai banyak orang yang heran melihat kami. Ketika perbekalan air mulai habis, Arista dan Binar berinisiatif meminta air ke sebuah restoran Padang dan syukur kepada Allah karena misi ini sukses tanpa mengeluarkan uang sekalipun.
Terus terang, secara fisik, saya masih kuat dan untungnya, saya memakai rompi dan kupluk “Slankers” yang bagiku sangat berguna untuk melawan dinginnya malam sehingga bisa melenggang dengan nyaman. Mungkin, karena kupluk ini, ada orang yang sampai mengira rombongan ini adalah rombongan orang yang mau nonton konser di Yogya.
Terminal Jombor yang kami kira jaraknya tidak lebih dari “sepelemparan batu” dari Salam ternyata sangat jauh tak dinyana. Berulangkali kami melihat lampu merah di jalan dan semangat kami makin terpompa karena mengira lampu merah itu adalah Jombor. Namun dugaan kami meleset sampai tiga kali. Ya…kadang memang tidak terlalu baik jika kita terlalu mengharapkan sesuatu ketika harapan itu sirna, rasanya segala perjuangan yang telah kami lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Kami mencoba selalu berpositif thinking bahwa semakin kami melangkahkan kaki paling enggak kami semakin dekat dengan tujuan kami. Bagiku, perjalanan ini adalah sebuah sarana untuk belajar bersabar dan bertekun. Toh kami berjalan ini mempunyai sebuah visi yang baik.
Saya jadi kasihan pada Kintel karena kakinya lecet dan hal itu menyebabkan ia berjalan agak lebih lambat dan sering beristirahat. Tiba-tiba saja di dalam diriku muncul inisiatif untuk meminjamkan kaos kaki yang saya kenakan. Ya… meskipun kaos kaki ini sudah penuh dengan keringat dan sedikit bau tapi saya rasa hal ini sedikit banyak dapat menolong Kintel. Rasanya ada perasaan bertanggung jawab terhadap teman satu koloni dan paling enggak di sinilah momen yang pas di mana saya bisa belajar berbagi meskipun hal ini mengandung akibat kaki saya jadi ikut lecet. Kebersamaan semacam ini sepertinya membangkitkan rasa solidaritas di antara kami.
Akhirnya…, kami sampai juga di Jombor dan untuk merayakan hal ini kami kembali bersantap makan. Rencananya kami akan makan mie rebus jawa tapi karena pembelinya begitu membludak jadi target kami beralih ke mie rebus biasa di depan terminal Jombor. Sambil menunggu sajian terhidang kami semua mengobrol kecuali Arista yang asyik menikmati tidur sesaatnya yang begitu pulas.

Yogyakarta Undercover
Awalnya, kami berencana koloni kami akan pecah di Jombor. Saya bersama Tama, Pradana dan Ampli akan pergi ke Ganjuran melalui Kota Yogyakarta sedangkan ,Arista, Aven, Kintel, dan Binar melalui ring road. Namun, rencana itu gagal karena kami mengira di dalam kebersamaan seperti ini kami merasa lebih baik dan nyaman. Meskipun kami nampak tidak setia pada komitmen tapi kami telah mempertimbangkan hal ini dan melihat ada nilai yang lebih tinggi dari sekedar komitmen awal yang kami buat. Bagiku kelompok ini akan lebih solid jika kami tetap bersama.
Ketika memasuki kota Jogja, kami melihat dunia malam secara lebih nyata. Di sana-sini berseliweran “bidadari”. Istilah ini berasal dari seorang sopir yang kami jumpai di Jombor. Ia telah memperingatkan akan banyak “bidadari” namun kami belum menangkap maksud yang sebenarnya. Kami baru mengerti maksudnya setelah kami melihat keadaan yang sebenarnya mulai dari genus “bidadari” asli sampai” bidadari” jadi-jadian meskipun dari segi bodi tidak kalah dengan “bidadari” asli. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kami berjalan tidak berjauhan meskipun strategi ini tidak sepenuhnya sukses karena beberapa kali kami tetap digoda dengan kata “Bronies”[1].
Kebetulan, malam itu adalah malam minggu maka tidaklah salah jika kami menjumpai banyak orang di depan club-club malam di Yogya. Gila…, dingin-dingin seperti ini, banyak cewek masih kuat berpakaian minim. Memang sih…,hal seperti ini cukup memberi penghiburan tersendiri bagi kami sendiri dan sejenak melupakan segala kesusahan kami. Tapi, hal itu tidak membuat konsentrasi kami buyar dalam menjalani perjalanan ini karena kami sadar kami berjalanan kaki seperti ini masih dalam konteks ziarah.
Jalanan kota Yogyakarta yang sepi sedikit demi sedikit menguras energi yang kami miliki. Rasanya, fisik kami sudah sangat kelelahan dan beberapa anggota koloni sudah nampak tidak bisa bertahan lagi. Karena melihat kondisi seperti itu, rasanya kami tidak tega terus melanjutkan perjalanan. Agar anggota koloni yang sedang tidak fit itu mendapatkan perawatan yang baik, maka kami putuskan untuk sementara beristirahat di rumahnya Ampli. Memang sih, kelihatannya kami hanya ingin mendapatkan kenyamanan dalam ziarah ini dan tidak seheroik teman-teman lain yang sudah melakukan perjalanan ke Ganjuran tanpa henti. Tapi, kami menyadari hal ini bukanlah sepenuhnya kehendak kami tetapi memang keadaan yang memaksa. Lagipula, perjalanan Magelang-Yogyakarta sudah cukup banyak memberi kesan yang mendalam bagi kami. Di rumah Ampli, kami beristirahat seadanya. Tidur berjajar layaknya ikan pindang yang akan dijual di pasar. Entah karena badan Arista yang kepanjangan atau kursi tamunya yang kependekan, Arista mesti tidur dalam posisi melipat tapi sungguh, ia nampak sangat menikmatinya. Saya kira posisi itu dilakukan agar badan menjadi lebih hangat.

Semangat Pagi yang Terbakar Matahari… !
Keesokan paginya kira-kira pukul 6.30 kami berangkat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Semangat kami tumbuh lagi bersamaan terbitnya matahari pagi. Udara nan segar kami hirup dan energi yang telah kami dapatkan dari Soto yang menjadi teman sarapan kami rasanya cukup untuk memulai kembali sebuah perjalanan. Badan yang kemarin rasanya pegal dan sakit, kini sama sekali tidak kami rasakan.
Layaknya seorang yang hendak pergi ke medan perang, segala hal kami siapkan baik-baik meskipun nampak seadanya. Perjalanan pagi ini sangat menyenangkan. Kami kembali ceria dan bercanda. Obrolan panjang lebar mulai dari ngegosip sampai ngomongin politik dilakukan untuk mengusir rasa bosan. Tidak terasa, kaki kami telah melangkah dan mengantar kami di jalan ring road. Berarti tidak lama lagi kami akan sampai di Kabupaten Bantul. Menurut perkiraan kami, tidak akan lama lagi sekitar 2 jam kami akan sampai di Ganjuran.
Aspal mulai panas dan perjalanan telah kami lakukan telah memakan waktu 2,5 jam namun kok kami tidak sampai-sampai juga ya…. Meskipun begitu kekesalan kami mulai terobati karena tidak lama kemudian kami melihat gerbang kabupaten Bantul. Kembali, ritual perbatasan kami lakukan. Pada masa-masa ini kami masih kompak dan berjalan tidak berjauhan. Kami beristirahat beberapa kali di beberapa titik yakni pasar Bantul, Depan Mesjid Agung Bantul. Pemandangan daerah Bantul nampak sudah baik lagi tidak seperti dua tahun yang lalu ketika daerah ini dilanda gempa bumi. Segalanya sudah berjalan normal. Memang sih, dibeberapa tempat ada satu dua rumah yang masih puing-puing.
Matahari semakin meninggi, niatku untuk berjalan tanpa alas kaki diurungkan karena aspal pun ikut-ikutan menjadi panas. Sekarang, rombongan kami mulai pecah. Saya, Aven dan Kintel berada di rombongan di belakang. Rombongan di depan makin lama makin tidak nampak seiring semakin jauh jarak yang memisahkan kami. Kembali, lecet-lecet mulai muncul di kakiku. Rombongan belakang ini semakin lama semakin jauh dengan rombongan depan karena beberapa kali kami mesti beristirahat. Energiku rasanya pun turut menguap karena panasnya jalanan ini. Ternyata Bantul itu luas juga ya…, dengan mengais-ngais energi yang masih ada di dalam diriku saya coba tetap bertahan berjalan. Terus terang, saya kesal pada rombongan yang ada di depan sebab mereka jalannya cepat sekali dan nampak tidak mempedulikan kami yang sedang sengraran di belakang. Namun, saya coba pendam rasa kesal ini toh bila kekesalan ini diteruskan hanya akan membuang energi dengan sia-sia
Di dekat sebuah perempatan di Pal Bapang, Akhirnya, kami serombongan berkumpul lagi.
Ingin saya curahkan semua kekesalan ini pada mereka namun apa daya mereka pun nampak sangat kelelahan. Saya mengerti mereka berjalan cepat-cepat karena ingin cepat sampai di Ganjuran dan tidak mau terbakar matahari lebih lama.
Kayaknya, rombongan ini melakukan kesalahan dalam membuat strategi. Seharusnya semalam, kami tetap berjalan agar kami sampai di Ganjuran pagi hari. Alih-alih karena keterbatasan fisik kami, kami beristirahat di rumah Ampli sehingga perjalanan kami molor sekitar 7 jam sehingga kami tidak hanya tersiksa karena lelah tetapi juga oleh sengatan matahari. Ya…apa boleh buat semuanya telah terjadi. Satu-satunya jalan adalah menjalani segala sesuatu yang telah kami lakukan.

Semuanya Rusak karena Kesalahpahaman
Meskipun rasa kesal tadi sudah saya pendam tapi ada keinginan untuk mencoba bergantian kini saya akan berjalan di bagian terdepan dan biarlah mereka yang meninggalkan kami berjalan di belakang. Entah karena saya terlalu semangat atau ingin buru-buru sampai agar tidak kepanasan, tanpa kami sadari kami kini malah jauh meninggalkan rombongan yang ada di belakang. Sejenak Saya, Tama, Binar beristirahat. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya, rombongan belakang mulai nampak dikejauhan. Saya sebetulnya ingin menunggu mereka yang ada dibelakang karena saya pun tadi mengalami bagaimana penderitaan tertinggal di belakang. Dari kejauhan Ampli melampaikan tangan tapi kami tidak mengerti apa yang dikatakannya.
Binar menganggap kode yang diberikan Ampli sebagai tanda agar kami terus jalan. Maka saya dan Binar melambaikan tangan sebagai tanda kami akan berjalan lagi. Keadaan panas membuat kami ingin segera sampai. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di Ganjuran dan minum karena perbekalan air yang kami miliki telah habis.
Ternyata, kode yang diberikan oleh Ampli itu adalah kode supaya kami berhenti. Kami baru mengetahui dan menyadari bahwa mereka yang ada dibelakang berjalan lambat karena Arista tiba-tiba kakinya kram di jalan Bambanglipuro. Maka, Binar dan Tama pun segera bergegas ke Ganjuran untuk mengambil motor supaya dapat menolong Arista dan rombongannya.
Namun, sia-sialah perjuangan Binar dan Tama karena Arista beserta rombongannya telah sampai di candi. Di candi kelihatannya, rombongan itu sudah kepayahan dan Ampli pun meluapkan kekesalannya terhadap kami, rombongan yang sudah meninggalkan mereka.
Kami semua tiba di Ganjuran Pk 12.30.Sebetulnya, semua ini tidak akan terjadi jika saya dan rombongan yang ada di depan menangkap apa yang dikatakan oleh teman-teman di rombongan belakang. Saya rasa kesalahpahaman seperti ini bisa jadi berakibat fatal namun untunglah hal-hal buruk tidak terjadi atas kami. Seharusnya di dalam rombongan kami selalu bersama agar kami dapat tahu keadaan rekan-rekan kami dan bisa saling menyemangati. Dari diri saya sendiri, saya sadar bahwa saya terlalu egois dan ingin cepat-cepat sampai di Ganjuran. Dari peristiwa ini, saya belajar banyak hal khususnya bagaimana saya seharusnya tidak egois. Memang, keadaan waktu itu begitu sulit. Namun, justru disanalah saya bisa memaknai persahabatan yang sejati. Saya kayaknya bisa menjadi gambaran teman yang tidak baik dan setia karena saya lebih mengutamakan egois dan kepentingan diri saya dibandingkan rasa kebersamaan yang telah kami bina di sepanjang perjalanan ini. Terus terang, di candi, bukanlah kemenangan bagaimana saya bisa menaklukan jalan Magelang-Ganjuran yang sulit tetapi justru sebaliknya yang saya rasakan adalah sebuah kekalahan karena saya tidak mampu mengendalikan diri saya dan menyebabkan teman-temanku yang menjadi sengsara.

Tuhan Menyapaku di Candi
Untunglah suasana kembali mencair di candi, hubungan relasi yang tadinya agak awut-awutan kini baik kembali. Kini, kami bisa bercanda lagi. Selepas melepaskan lelah dengan goler-goleran ala kadarnya di bawah pohon di parkiran paroki, saya memutuskan sejenak untuk bermeditasi. Di candi saya rasakan betapa Tuhan mengajariku banyak hal dalam perjalanan ini. Saya bisa semakin mengenal diriku dan teman-temanku secara lebih dalam. Saya bersyukur karena saya bisa sampai di sini bersama teman-teman dengan baik-baik saja. Sedikit-demi sedikit saya bisa menerima diri saya kembali. Saya sadar bahwa saya ini adalah seorang manusia yang tidak bisa selalu sempurna.
Saya coba resapi bahwa perjalanan ziarah ini bisa dianalogikan dengan sebuah perjalanan hidup yang saya akan lalui di masa yang akan datang. Kehidupan itu adalah sebuah peziarahan panjang dengan Tuhan yang menjadi tujuannya. Hidup itu adalah sebuah proses yang penuh dengan dinamika. Kadang berjalan menyenangkan dan kadang penuh hambatan. Semua itu bergantung bagaimana kita bisa memandang kehidupan. Bagiku, hidup adalah sebuah proses yang dipenuhi dengan tantangan. Semakin kita bisa keluar dari wilayah aman kita dan berani menghadapi tantangan, semakin maju selangkah lebih depan daripada diri kita sebelumnya. Dengan berani menghadapi tantangan, kita diajak untuk semakin bisa mengembangkan diri kita.
Terus terang, saya tidak mengira bahwa kami sudah berjalan kaki selama sekitar 21 jam. Saya yakin, saya bisa melakukan perjalanan ini tentu tidak lepas dari campur tangan Tuhan yang turut berkarya. Saya yakin Tuhan Tuhan selalu mendampingi saya tidak hanya di dalm perjalanan ini saja tetapi juga seluruh perjalanan hidupku. Bagiku, Tuhan adalah Gembala yang Baik. Saya tidak akan pernah kekurangan jika saya berjalan bersama dia. Hidupku dipenuhi dengan kelimpahan rahmat dan bagiku, hal itu haruslah selalu saya sadari. Saya yakin Tuhan selalu membuka jalan di setiap langkah hidupku tak terkecuali di dalam masalah yang sulit sekalipun.
Di depan candi saya memohon kepada Tuhan agar saya senantiasa menyadari segala kebaikannya dan saya pun selalu disadarkan agar selalu bersyukur kepada Tuhan. Saya sadar diriku adalah makhluk yang lemah, Tuhanlah yang selalu menopang aku dan tanpa kekuatan Tuhan, saya bukanlah apa-apa. Satu hal yang pasti adalah di dalam perjalanan ini saya bisa menemukan kembali kekuatanku kembali.
Terus terang, perjalanan ke candi dengan berjalan kaki ini membangkitkan rasa percaya diriku. Saya mampu melakukan hal yang sulit sekalipun. Bagiku, hal ini sangat penting, sebab beberapa bulan ke depan saya akan menghadapi banyak hal yang penting di dalam hidupku yakni ujian dan beberapa hal yang menyertai hidupku selepas saya meninggalkan seminari. Beberapa waktu ini, hidupku selalu dihinggapi perasaan takut karena beberapa bulan ke depan saya akan meninggalkan seminari dan ada perasaan belum siap di dalam diriku untuk menghadapi kehidupan di luar. Jadi, tidak sia-sialah perjalanan ini dan rasanya rasa capek,pegal, dkk sudah terbayar impas bahkan lebih dengan berbagai makna kehidupan yang saya dapatkan dalam ziarah ini.
[1] Istilah yang agak aneh, tapi kami coba mereka-reka maksud yang sebenarnya dan kami mengambil kesimpulan bronies memiliki kepanjangan Brondong manis. Agak geli memang ketika mendengarnya tapi kami tetap berpegang teguh bahwa kami ini adalah sejenis Homo sapiens bukan Zea mays. Meskipun begitu kami akui mereka tidak salah menyebut kami manis karena memang begitu kenyataannya sih.

Ketika Hidup Menjadi Sebuah Seni

Sebuah Tinjauan Film" Modigliani



Renoir: "Are you mad?"Modigliani tersenyum, melalui bahasa tubuh ia menyampaikan: "Kegilaan saya sedikit."
Disadari atau tidak, banyak hal di dunia ini relatif dan sangat tergantung dari bagaimana cara kita memandangnya. Itulah peran dari paradigma. Paradigma bisa diasosiasikan dengan kaca mata. Apa yang kita pandang disangat dipengaruhi oleh jenis kacamata yang kita pakai. Bisa jadi hal-hal yang indah dan penuh warna menjadi gelap dan nampak suram ketika kita mengenakan kacamata hitam. Begitu pula sebaliknya. Film Modiglinani membantu kita melihat hidup dengan cara berbeda. Hidup adalah seni. Keindahan itu akan terpancar dari setiap goresan pengalaman yang akan mewarnai kanvas kehidupan itu sendiri dan memberi makna bagi orang yang menjalannya jika kita jeli dan peduli melihat sesuatu secara lebih mendalam.Amedeo Clemente Modigliani (12 Juli 1884 - 24 Januari 1920), adalah seorang pelukis berdarah Yahudi-Italia, kelahiran Livorno, Italia. Dedo atau Modi, panggilannya. Sebagai seorang pelukis, ia mencurahkan banyak waktu dan perhatiannya untuk menghasilkan karya lukisan. Didukung oleh lingkungan masyarakat Italia yang begitu mengapresiasikan seni dengan begitu tinggi, Modigliani berkembang menjadi seorang pelukis yang mampu menjadikannya sekasta dengan maestro seni Pablo Piccaso.

Banyak orang di sekitarnya menganggap Modigliani adalah sosok gila. Bagaimana tidak, sakit TBC yang mendera paru-parunya sama sekali tidak menyurutkan kebiasaannya mengkonsumsi alkohol dan drug. Selain itu, ia pun sering menari-nari di sekitar sebuah patung tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi, ekspresi semacam ini adalah cara Modigliani melihat dan menikmati hidup ini secara berbeda.

Film Modigliani secara garis besar mengantarkan penontonnya memperoleh makna pencarian jati diri melalui seni. Ia menciptakan seni tidak sekedar hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi hidupnya. Tapi justru sebaliknya, dari sanalah ia dapat menggali makna dengan sangat dalam dan itulah yang membuat karyanya menjadi sangat bernilai. Salah satunya terekam dalam dialog Modigliani dan Jeanne, kekasihnya “Bagaimana saya bisa menggambar matamu jika saya tidak tahu gambaran dari jiwamu”. Modigliani sangat mengerti bahwa ekspresi mata merupakan ekspresi dari jiwa seseorang. Ia berusaha melihat sesuatu secara mendalam dan mengabadikannya dalam lukisan hal-hal yang tidak sanggup dilihat oleh orang lain.

Sedikit demi sedikit, kritik sosialpun disisipkan dalam film ini. Gambaran masyarakat eropa pada masa itu mengenai rasisme terhadap orang keturunan Yahudi digambarkan secara gamblang diwakili oleh Ayah Jeanne. Modigliani harus berjuang keras meluluhkan hati Ayah Jeanne yang sudah dibelenggu dengan paham rasisme.

Gambaran perang pun dikritik dalam film ini. Ketika selegiun pasukan Perancis memasuki kotanya dan disambut oleh warga dengan panji-panji kebesarannya. Justru Modigliani melihatnya secara berbeda dalam pertanyaan klise” Apakah mereka sadar untuk apa dan siapa mereka berperang?”

Alur konflik terbangun pun terjalin dengan sangat bagus. Persaingannya dengan Pablo Piccaso tidak membuatnya jatuh pada permusuhan yang tidak produktif dan merugikan tetapi justru mengantarkannya melahirkan sebuah karya seni terbaik. Ia berhasil memenangkan kompetisi berhadiah 5000 Frank yang diikuti oleh para master lukis. Sebuah obsesi yang sangat menggunggah hati.

Film ini dibalut dengan kisah cinta Modigliani dan Jeanne yang sangat memikat meskipun nampak sangat ironik. Disini cinta yang disajikan tidak jatuh pada kisah yang picisan tapi justru sebaliknya terkesan sangan mendalam. Cinta dimaknai dalam bingkai keabadian.

Ia berjuang mati-matian mendapatkan akta perkawinan sebagai syarat untuk mendapatkan hak asuh anaknya yang diambil paksa oleh ayah Jeanne. Tepat pada malam pengumuman pemenang hasil kompetisi, Modigliani justru menghabiskan waktunya di bar tanpa uang sepeserpun. Satu-satunya modal yang dimiliki oleh Modigliani adalah keyakinannya memenangi 5000 frank. Apa yang ia lakukan harus dibayar mahal. Modigliani tewas dianiaya karena tidak membayar apa yang ia minum. Ironi sangat jelas digambarkan dalam film ini. Scene orang-orang mengagumi lukisannya di kompetisi harus dipertentangkan scene Modigliani yang terbujur kaku di atas salju.

Kisah ini tidak berhenti hanya sampai itu. Sebuah paradok romantis yang mungkin bagi sebagian orang sangat tidak masuk akal dimulai. Jeanne yang mengandung memutuskan terjun bebas dari lantai dua rumahnya dan tewas seakan-akan ingin menyusul Modigliani.
Disinilah kekuatan cinta tergambarkan seperti kisah Romans Romeo dan Juliet atau Hamlet karya Shakespears. Cintalah yang mempersatukan mereka dan tidak ada hal yang dapat memisahkan mereka bahkan termasuk kematian itu sendiri.

Keunikan film ini adalah deskripsi sosok Modigliani yang digambarkan bersama dengan dirinya sendiri ketika masih kecil berdialog bersama. Hal ini adalah gambaran bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari masa lalunya. Pengalaman seseorang terdahulu adalah pembentuk kepribadian seseorang di masa sekarang.

Film dengan alur maju mundur ini dipenuhi berbagai bumbu yang menghibur dan mendidik meskipun terkesan agak berat dicerna. Bisa dijadikan sebagai referensi renungan bagi orang yang sedang belajar untuk mengerti makna bahwa hidup ini adalah sebuah proses seni.

Tuhan, Gembalaku yang Baik

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau
Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku

Ia menuntunku di jalan yang benar,
Oleh karena nama-Nya
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman
Aku tidak takut akan bahaya,
Sebab engkau besertaku
Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku
Engkuai mengurapi kepalaku dengan minyak
Pialaku penuh melimpah
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku
Dan aku akan diam dalam rumah Tuhan
sepanjang masa

Jalan Panjang Sebuah Proses Pilihan

Sebuah Sinopsis buku Antara Kabut dan Tanah Basah

Selama liburan saya coba isi dengan menghabiskan buku Antara Kabut dan Tanah Basah. Buku ini mengisahkan perjalanan Dewabrata dalam mencari bunga Utpala. Meskipun buku ini berlatarkan cerita wayang, Saya rasa buku ini sangat cocok untuk dalam proses formatio di Seminari. Saya bayangkan bunga Utpala adalah panggilan hidup seseorang khususnya untuk menjadi imam. Ya…, banyak sekali pelajaran mengenai hidup di balik segala kisahnya. Hal yang paling menarik dari buku ini adalah ketika Dewabrata bersumpah tidak akan pernah menyentuh wanita sepanjang hidupnya dan akhirnya dewata mendengarnya serta menganugerahkan kemampuan untuk mengatur kematiannya sendiri. Selain itu, cerita ini juga dibalut dengan kisah cinta Dewabrata dengan dua wanita Buku ini meskipun berlatarkan kisah pewayangan tapi cukup mampu menarik pembaca sekarang. Saya coba bayangkan Dewabrata adalah diri saya dan bunga utpala adalah tujuan hidup saya. Proses pencarian tujuan hidup saya rasakan kadang begitu sulit. Butuh ketekunan dalam pencariannya. Memang, tidak jarang banyak hambatan yang saya rasakan kadang menghadang tapi saya kira justru hambatan samacam itulah yang membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik. Proses pemilihan juga diajarkan di dalam buku ini, pilihan yang tentunya membawa konsekuensi tersendiri bagi pemilihnya. Bagiku, segala konsekuensi bisa jadi berkat atau bahkan sebuah kutukan tergantung pilihan yang dipilih. Maka proses memilih bisa menjadi sangat penting karena bisa mempengaruhi hidup kita selanjutnya. Sekali kita memilih, akan sangat sulit sekali untuk mengubahnya. Pernah saya membaca sebuah buku mengenai seseorang janganlah bekerja secara keras saja tetapi secara cerdas. Cerdas dalam hal ini saya anggap sebagai kemampuan seseorang dalam memilih yang di dalamnya dibutuhkan kejelian dan kearifan. Semakin jeli dan arif seseorang berarti semakin baik pilihan yang diambil oleh seseorang

emanuel agung wicaksono
Seminari menengah Mertoyudan

The Serendipity

Sebuah Refleksi Singkat Proses Formatio di Seminari Mertoyudan


Preambule Singkat
Layaknya sebuah bangunan yang sedang dibangun, saya merasa diriku sedang dibangun di dalam formatio di seminari ini. Enggak terasa ya…, udah hampir empat tahun saya menjalani kehidupan di seminari ini dan kini saya sudah berada di detik-detik akhir kehidupanku di seminari. Rasanya terlalu banyak hal yang berharga yang saya dapatkan di seminari ini untuk saya lewatkan begitu saja. Maka, dari tulisan kecil ini, saya mencoba menggali kembali berbagai hal yang saya dapatkan di seminari ini.

Seminari, Kebetulan dalam Rencana Tuhan
Rasanya terlalu banyak hal kebetulan yang membahagiakan di dalam hidupku ini (serendipity). Salah satunya adalah proses formatio yang telah saya lalui di seminari ini. Mungkin, agak naif kalau saya mengatakan hal ini adalah sebuah kebetulan. Tapi, saya rasa hal ini adalah sebuah kebetulan yang sangat baik bagiku jika saya melihat kembali sejarah hidupku mengapa saya bisa sampai terdampar di seminari ini.
Kehidupanku di seminari ini rasanya adalah sebuah proses pembalikkan kehidupan. Bila saya menilik kembali kehidupanku sebelum masuk seminari, rasanya hidupku jauh diubah melalui berbagai formatio yang saya dapatkan di seminari ini. Saya yakin hal ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Saya percaya Tuhanlah di belakang itu semua. Semua kebetulan yang saya sadari itu tidak lain adalah bagian rencana Tuhan. Saya imani Tuhan selalu memberikan rencana yang terbaik bagiku dan saya harus selalu mensyukurinya. Memang sih, kadang Kebaikan Tuhan itu tidak selalu saya sadari karena kadang saya kurang menyertakan Tuhan di dalam hidupku dan terlalu terfokus pada diriku atau masalahku.

Tuhan, Sang Arsitek Agungku
Bagiku, Tuhan adalah Arsitek yang agung. Ia hendak membangun diriku menjadi pribadi yang baik. Ia mengenal aku bahkan melebihi aku mengenal diriku sendiri. Memang, di dalam diriku masih banyak kelemahan yang terasa menghambat. Tapi, saya punya keyakinan, Tuhan menciptakan aku baik adanya. Maka, saya ingin sekali mempersembahkan hidupku untuk selalu dekat dan menjadi abdi hidupku.
Memang sih, awalnya saya merasa saya adalah orang yang gagal di seminari ini karena saya tidak melanjutkan proses imamatku ke jenjang berikutnya. Untunglah, Seminari masih bermurah hati menyediakan waktu dan perhatiannya padaku sehingga saya masih bisa menikmati berbagai hal yang rasanya sudah bukan hakku lagi dan saya harus mensyukuri hal ini. Rasanya sudah terlalu banyak hal baik yang telah diberikan padaku. Seminari telah membantuku memutuskan panggilan hidupku dan menyadarkan aku atas segala hal yang ada di belakangnya. Saya yakin Tuhan berkarya dibalik semua hal itu dan saya rasa hal itu akan baik bagiku.

Refleksi, Material Berharga bagi Kehidupanku
Saya rasa material yang diberikan di seminari ini adalah material yang terbaik dan dipilihkan secara khusus, tidak sekedar asal comot tapi benar-benar material yang benar-benar berkualitas bagi kehidupan seseorang. Sedikit banyak, saya sudah dapat menimati dampak dari formatio di seminari ini. Salah satu hal yang paling menonjol dari formatio yang berdampak bagiku adalah refleksi.
Refleksi banyak membentukku. Refleksi membantuku menyadari diriku dan
mengenal diriku secara lebih dalam. Refleksi juga mendorong aku untuk selalu memaknai hidup secara lebih positif sekalipun dalam peristiwa-peristiwa yang buruk sehingga meskipun hal buruk terjadi padaku, saya masih bisa melihat hal positif. Hal positif inilah yang memberiku kekuatan untuk menjalani kehidupan selanjutnya
Refleksi mengajakku berduc in altum. Ia mengajari aku bagaimana caranya mamaknai kehidupan sehingga hari-hari yang saya lalui dapat saya petik makna dan makna itu adalah pelajaran yang berharga bagi hidupku. Sejak saya mengenal refleksi, saya jadi lebih bisa melihat hidup sebagai sebuah proses belajar yang terus menerus.
Refleksi membantuku mengolah emosiku. Terus terang, emosiku sangat labil. Bila tidak hati-hati, emosi ini bisa jadi menghambat kehidupanku. Pernah suatu ketika saya merasa benar-benar lumpuh karena saya tidak mampu mengolah emosi. Melalui refleksi inilah, saya mencoba tenang dan mengatur emosiku.
Selain itu, refleksi mengajak saya untuk selalu menyadari banyak hal baik ada dan terjadi di dalam diri saya. Oleh karena itu, saya mencoba selalu bersyukur. Saya percaya, orang yang bersyukur itu adalah orang yang bahagia karena ia akan melihat hidup itu sebagai rahmat. Rahmat itu akan menunjukan peran Tuhan dalam hidup saya sehingga saya tidak perlu khawatir atas apa yang akan terjadi pada diriku karena Tuhan adalah jaminan hidupku.
Refleksi adalah sebuah instrumen yang khas yang dimiliki seminari untuk membantu para seminaris menjadikan hidupnya lebih berisi. Dari refleksi yang saya lakukan, sedikit banyak saya bisa melihat sesuatu secara lebih menyeluruh sehingga membantuku untuk mampu memutuskan berbagai hal di dalam hidupku. Saya harap dan ingin tradisi refleksi menjadi bagian dari kehidupanku selalu sehingga selalu memperkaya diriku di dalam setiap langkah yang kulakukan

Tuhan Tidak Bekerja Sendirian
Ya…, Tuhan tidaklah bekerja sendirian dalam membentukku. Di seminari ini, saya merasakan Tuhan hadir membentukku melalui orang-orang yang saya temui di sekitarku. Para staff khususnya staff kepamongan memberiku saya berbagai hal baru yang saya lihat penting bagi hidupku. Mereka memberiku perhatian secara total dan mau menegurku ketika saya melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan tidak membuahkan hukuman melainkan pengertian.
Saya kira orang tua punya andil yang sangat besar dalam membentuk diriku. Mereka selalu mendukungku dan mencintaiku. Memang sih, kadang saya agak tidak cocok dengan orang tua, tapi hal itu bukanlah sebuah masalah yang besar karena toh di antara perbedaan yang ada itu justru memberikan dinamika yang unik dalam perjalanan hidupku.
Para guru juga saya rasakan sebagai alat Tuhan yang disediakan untuk membentuk diriku. Para guru mengajak saya berpikir secara ilmiah sekaligus mampu merefleksikan segala hal yang telah dipelajari. Jadi, pelajaran yang ada tidak sekedar menjadi teori belaka melainkan bisa diaplikasikan di dalam kehidupan meskipun dalam bentuk yang aslinya misalnya saja sebagai analogi. Di dalam kelas, saya banyak mendapatkan inspirasi yang bisa saya manfaatkan secara lebih jauh. Terus terang, di dalam diriku ada sebuah kekaguman pada guru-guru yang ada di seminari karena mereka total mendampingiku dan selalu sabar mengajariku.
Selain itu, teman-teman sekomunitas baik bawil, kelas, angkatan maupun seminari pun turut mengambil andil yang cukup besar dalam pembentukan diriku. Ya…, rasanya belum pernah saya memiliki teman yang sedekat dan seakrab yang ada di seminari. Saya merasakan seringkali saya dikuatkan dan diteguhkan oleh teman-temanku. Mereka pun bisa idajak berbagi pengalaman dan membantuku menemukan jawaban atas masalah yang saya alami.
Mungkin masih banyak orang yang turut berperan dibelakangku dan selalu membentukku. Mereka adalah orang yang setia memberi perhatian pada proses pembangunan diriku. Tangan Tuhan bekerja melalui mereka dan saya kira saya pun sudah seharusnya saya mensyukurinya.

Hal Kecil Bermakna Besar
Berbagai aktivitas kecil dan sederhana membentukku meskipun kadang hal itu tidak saya sadari. Salah satu contohnya adalah pembuatan buku keuangan. Buku keuangan awalnya terasa sebagai beban dan terasa begitu merepotkan. Namun, setelah saya menyadarinya, saya jadi mengerti buku keuangan membantuku mengatur keuanganku. Mengatur tidaklah sekedar mengatur tapi membantuku menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Saya jadi bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan belaka. Dari buku keuanganlah saya bisa mengetahui prioritas dan prioritas itulah yang menuntunku untuk bertindak. Buku keuangan pula membentukku untuk selalu teliti dan berlaku jujur dalam mengelola keuangan.
Begitu pula dengan opera yang setiap hari saya lakukan di seminari. Opera mengajakku menjadi pribadi yang bertanggungjawab atas peran dan tugasku. Saya diajak untuk selalu total dalam mengerjakan berbagai tugas dan membantuku peka serta inisiatif. Dari sinilah, saya menggali banyak hal khususnya mengenai kepedulian.
Misa harian sekalipun kadang diisi dengan kantukan membantuku hidup dekat dengan Tuhan. Memang sih, dulu pernah sempat ada semacam kejenuhan di dalam misa karena bagaimanapun hal yang rutin bisa mengurangi penghayatan. Tapi, saya coba lihat misa secara lebih dalam lagi. Di sanalah saya bisa berjumpa dengan Tuhan melalui sabda dan kehadirannya di dalam ekaristi. Saya merasakan misa harian memberiku harapan pada Tuhan dan membantuku untuk menyerahkan segala hal yang saya miliki dan saya dapatkan sepenuhnya untuk Tuhan.

Karat yang Menggerogoti Rangka Betonku
Kadang, hidup formatioku di sini tidak selalu berjalan dengan mulus. Beberapa hambatan saya saya temui dan beberapa seringkali tidak saya sadari. Terus terang, ada beberapa poin yang masih menghambat diriku salah satunya adalah sifat keras kepala saya. Ya…, dalam beberapa hal kadang saya suka sekali berkeras kepala. Hal ini membuat saya kadang sulit dibentuk. Apa yang diberikan kepadaku di dalam proses formatio ini kadang tidak selalu sejalan dengan jalan pikiranku. Memang sih, saya sadari apa yang diberikan dalam proses formatioku adalah benar tapi sifatku yang keras kepala kadang begitu mendominasi. Mungkin, sebagian besar pelanggaran yang saya lakukan di seminari ini tidak lepas dari hal seperti ini.
Selain itu, ada semacam kecenderungan di dalam diriku untuk meremehkan. Saya baru menyadari hal ini di kelas XII. Terus terang, dulu saya tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sepertinya, sifat seperti ini akibat dari pengaruh orang-orang yang ada di sekitarku. Kecenderunganku untuk meremehkan itu muncul dan nampak ketika saya sedang belajar. Kadang saya terlalu menyepelekan belajar sehingga tidak jarang saya hanya mendapatkan nilai yang kurang dari yang saya harapkan. Sifat ini rasanya malah menjadi semacam bumerang yang malah menghancurkan diriku. Terus terang, kadang saya menyesali atas hal yang terjadi akibat sifat saya ini. Namun, penyesalan ini hanya sebatas penyesalan belaka tanpa ada tindak lanjut. Sepertinya, mau tidak mau saya harus terus belajar lebih keras untuk bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin, ada baiknya jika mulai sekarang saya sedikit banyak belajar berkomitmen.
Sifatku yang menghambat yang lain adalah mentalku yang mudah down. Ya…, hal ini menyebabkan saya mudah berputus asa. Mungkin, hal ini terjadi karena saya terlalu mementingkan hasil bukan proses. Hasil yang buruk seharusnya bukan menjadi alasan orang untuk putus asa. Tetapi sebaliknya, hasil yang buruk itu ditelisik lebih dalam apa yang menjadi penyebabnya. Seharusnya, saya menikmati setiap proses yang saya lalui tapi karena saya mungkin tidak begitu sabar, saya jadi melewatkan begitu saja proses yang ada. Mungkin, ada baiknya saya harus sedikit agak tenang. Ketidak tenangan yang saya alami bisa jadi membuatku sulit menemukan inti masalah yang saya hadapi.
Satu hal yang tidak kalah kronis adalah mudahnya saya tenggelam di dalam kekhawatiran. Kekhawatiran yang berlebihan ini memunculkan diriku yang mudah sekali panik dan kurang bisa menikmati apa yang saya miliki. Idealisku mungkin terlampau jauh sehingga kadang saya khawatir bila hal itu tidak terwujud. Meditasi sedikit banyak membantuku mengurangi berbagai masalah yang ada di atas. Dalam meditasi saya mencoba menenangkan diriku dan melepas berbagai beban yang ada di kepalaku. Setelah itu, kucoba ajak Tuhan hadir dan aku berusaha menyadarinya. Di dalam ketenangan, saya rasakan kasih Tuhan begitu besar bahkan melebihi berbagai beban yang saya bawa di dalam hidupku. Saya sedikit banyak mulai menyadari bahwa di dalam hidup ini saya tidak berjuang seorang diri saja tetapi selalu ada Tuhan yang hadir menyertai diriku. Sudah semestinya, saya tidak perlu takut akan apapun. Toh Tuhan mengerti akan segala hal yang dihadapi oleh manusia. Kucoba pasrahkan diri dan melepaskannya pada Tuhan. Kutahu Tuhan pasti buka jalan.

Dukungan yang Melancarkan Prosesku
Selama saya berproses di seminari ini, saya banyak sekali menemukan kemudahan sehingga mendukungku untuk terus berproses. Paling enggak, fasilitas yang cukup lengkap seperti perpustakaan membantuku memuaskan hasrat membacaku. Orang-orang di sekitarku pun mau terbuka denganku sehingga saya bisa belajar banyak dari mereka. Selain itu, kecenderungan untuk proaktif cukup banyak membantuku untuk menemukan hal-hal baru.
Selain itu, saya merasa semangat yang ada di dalam diriku cukup banyak mengarahkanku untuk bisa mengerjakan sesuatu secara total. Setiap hari, kucoba melakukan yang terbaik dari diriku. Toh Tuhan telah memberikan banyak hal yang baik maka saya perlu membalasnya.
Kondisi seminari yang kondusif memungkinkanku untuk bisa mengembangkan dan menjadikan diriku menjadi jauh lebih baik. Saya kira kondisi seperti ini sangatlah mendukungku. Ya…, memang awalnya memang kondisi itu memaksaku untuk bisa ikuti ritme yang ada tapi lama-lama saya semakin bisa menikmatinya. Saya rasa paksaan yang ada berupa kondisi yang seperti itu merupakan katalisator untuk mempercepat diriku untuk berubah dan menjadi baik.

Wujudku Kini
Terus terang, saya tidak terlalu berani menyimpulkan diriku seprti apa sekarang. Namun, saya mencoba melihat kembali diriku secara obyektif sesuai keadaanku sekarang. Mungkin, saya bisa diandaikan sebuah rumah yang masih belum jadi namun sudah bisa berdiri di atas pondasi.Saya analogikan pondasi itu adalah segala hal yang saya dapatkan di seminari. Pondasi yang baik akan memberikan kekuatan bangunan yang baik pula. Pondasi adalah dasar dari rumah itu sendiri. Ia adalah peletak dasar rumah. Tanpa pondasi yang baik, tidak akan pernah ada rumah yang bisa berdiri kokoh.
Rasanya, saya lebih cocok mengandaikan diriku sebagai sebuah rumah tumbuh. Maksudnya, rumah itu selalu bertumbuh seiring kemampuan sang pemilik rumah. Andai pemilik rumah itu awalnya adalah seorang karyawan biasa. Dengan gajinya ia hanya bisa membangun rumah sederhana. Namun, rumah sederhana itu sedikit demi sedikit terus tumbuh menjadi bangunan yang indah dan kokoh. Saya kira hidup itu adalah sebuah proses penyempurnaan. Rumah yang sederhana itu mengalami proses penyempurnaan sehingga terciptalah sebuah rumah yang indah. Saya rasa rumah semacam ini lebih dinamis dan mampu menyesuaikan keadaan yang ada sesuai dengan keinginan pemiliknya.
Menurutku, sampai saat ini, dengan modal yang saya terima di seminari, saya rasanya cukup mampu untuk siap hidup di alam yang sederhana. Meskipun begitu, saya masih belum puas dengan apa yang saya capai sekarang. Semoga saya proses yang saya jalani sekarang mampu saya teruskan di luar sana sehingga saya semakin menjadi pribadi yang matang dan berkualitas.

SMS from Jesus: Hal Kekuatiran

Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum.
Janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?
Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung
namun, diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada hidupnya?

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian?
Perhatikanlah bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
Namun, Aku berkata padamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, Hai kamu yang kurang percaya?

Sebab itu, janganlah kuatir dan berkata apakah yang akan kami makan, minum, dan pakai?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Sebab itu, Janganlah kamu kuatir akan hari esok,
karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari

Belajar dari Seekor Domba (Mzm 23)

Sang kala adalah musuh yang tidak akan pernah bisa dikalahkan. Detik-detik yang teruntai menjadi hari-hari yang telah dimakannya secara rakus tidak akan pernah bisa dimuntahkan kembali walaupun hanya sekedar membuang sisa makanan yang terselip di giginya. Disadari atau tidak, setiap orang selalu berlari untuk berlomba dengan waktu untuk mewujudkan mimpinya sebelum waktu itu dilahap habis oleh sang kala.
Ketakutan akan sang kala inilah kadang memenuhi pikiranku. Masa depan dengan segala ketidakpastiannya adalah rangkaian ketakutan yang diumbar oleh sang kala. Bisa saja, kini hidupku hanya diisi dengan bersenang-senang tapi bukanlah mustahil besok hari kehidupanku dijungkirbalikan dan hanya berkubang di antara kegagalan.
Teng… teng…teng
Suara lonceng angelus menggema mengisi keheningan Lereng Merapi sore itu. Dentang lonceng itu seakan memanggilku untuk segera sadar dari lamunan. Tidak lama kemudian terdengan samar suara adzan maghrib yang berkumandang dari loud speaker tua di mesjid yang menaranya tersembul di antara himpitan rumah-rumah joglo berdinding gedheg. Seorang anak usia tanggung yang sedang asyik menggembalakan domba-dombanya dirimbunnya rumput yang tumbuh liar di antara nisan dan kijing pun terpanggil untuk segera pulang untuk berbuka puasa. Dengan tongkatnya, ia menggiring domba-domba yang bulunya tidak lagi putih berbalut debu pasir menuju kandang yang tidak begitu jauh jaraknya
Bagi 30-an domba-domba itu, gembala itu adalah sebuah jaminan Tuhan akan kehidupannya. Setelah para domba itu tidak bisa lagi menikmati bebasnya menjadi domba liar yang berkeliaran di hutan seperti nenek moyangnya dulu, para domba itu hanya bisa memasrahkan diri pada gembalanya. Meskipun begitu, mereka masih bisa dengan bebasnya mengunyah rumput secara tenang tanpa risau hewan pemangsa akan menerkam mereka sebab gembala itu pasti melindungi mereka. Segala kebutuhan sebagai domba itu selalu dipenuhi oleh gembalanya. Makanan dan minuman selalu melimpah ruah jika berada di sisinya. Itulah kepastian yang diberikan kepada para domba.
Saya merasa iri pada para domba itu. Andai dalam hidup ini, saya memiliki gembala yang selalu menjamin kehidupanku, mungkin kini ketakutan tidak akan pernah datang menyapaku. Kini saya butuh seseorang yang bisa menjamin hidupku tapi saya tidak tahu kepada siapa saya bisa memasrahkan kehidupanku seperti seekor domba pada gembalanya.
Sejenak saya coba mengambil nafas dalam. Aliran udara masuk kedalam saluran pernafasan dan terasa menyegarkan diriku. Kesegaran udara ini memaksaku berpikir siapa ya yang memberiku oksigen, kebutuhan primer kehidupan. Saya yakin ini adalah rahmat Tuhan, gembala sejatiku. Rahmatnya selalu ada namun kurang begitu saya sadari. Belenggu rutinitas membutakan saya akan kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma hanya dipandang sebagai hal yang biasa sehingga tidak menjadi istimewa. Sekarang, Kemampuanku bersyukur seakan diragukan oleh saya sendiri.
Bila saya putar kembali rekamanan ingatanku, Tuhan baru saya ingat ketika kita menghadapi masalah. Masalah datang dan kitapun cuma bisa merengek-rengek pada Tuhan minta pertolongan seperti seorang anak kecil. Di tengah kegembiraan, Tuhan dilupakan dan hilang tenggelam dibalik keangkuhan kita. Sebuah ironi yang sebenarnya hanya mengolok-olok diriku sendiri. Kerap kali kita hanya memandang masalah hanya dari kulit luarnya saja. Terlalu terfokus pada masalah membuaiku untuk melupakan inti dari setiap masalah itu sendiri. Bila disadari, masalah adalah bumbu kehidupan. Di dalam masalah, Sang Gembala sejati hadir untuk membentuk kita meskipun kita merasakan ketidaknyamanan akibat dari masalah.
Karena Tuhan adalah gembalaku, sudah sepantasnya saya tidak perlu cemas akan kehidupan ini sebab sekalipun saya berjalan di lembah kekelaman, Tuhan pasti akan menyertai dan membimbingku. Bagaikan seorang gembala, Ia selalu menggiring domba-dombanya untuk mencapai keselamatan. Dalam keyakinanku tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan meskipun kita berada pada titik dimana kita merasa sama sekali tidak berdaya sebab Tuhan pastilah selalu menyediakan jalan dan tidak akan pernah membiarkanku berjuang sendirian. Rasa aman dibalik perlindungannya itu adalah harapan sekaligus penghiburan bagiku.
Gembala yang baik pastilah mengenal setiap dombanya dan selalu menempatkan setiap dombanya di setiap tempat istimewa. Dengan urapan rahmatnya yang melimpah, Tuhan selalu menyediakan diri untuk memenuhi setiap kebutuhan kita bahkan sebelum kita memintanya. Maka, pada dasarnya, hanya kebaikan dan kebaikanlah yang Tuhan berikan pada kita seperti aliran sungai yang tidak pernah kering dan memberi kehidupan bagi segala sesuatu di sekitarnya. Oleh karena itu, saya tidak perlu cemas akan masa depan dan sudah seharusnya kita selalu mengikutsertakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita karena Ia adalah Gembala yang baik. Deo Gratias…!