Refleksi Singkat Perjalanan dari Mertoyudan ke Candi Ganjuran
Transformasi Makna Peziarahan
Di awal semester II ini, sebagian warga MU sedang dijangkiti gila ziarah. Ya…, sebuah upaya yang dilakukan untuk menyadari Tuhan berkarya di dalam kehidupan kita ini ini. Untuk menghayatinya, kami bahkan melakukan hal yang cukup ekstrem yakni dengan berjalan kaki ke tempat-tempat ziarah. Bahasa kerennya mah perigrinasi. Ya… semua itu kami lakukan untuk mencoba menghayati makna ziarah.
Terus terang, selama di seminari ini, saya mengalami sebuah transformasi mengenai pemaknaan ziarah. Dulu, saya lebih menganggap ziarah sebagai sebuah perjalanan jalan-jalan dengan embel-embel rohaninya. Ya…, namanya juga embel-embel maka sisi rohaninya hanya terasa sebagai tempelan saja. Ziarah terasa tidak lebih dari sekedar rekreasi. Ya… bolehlah ikut sekedar rosario atau jalan salib bersama rombongan. Tapi catat…., bukan itu yang saya inginkan sebetulnya karena semua itu terasa membosankan dan terus terang sangat monoton. Maka, begitu selesai berbagai ritual keagamaan yang aneh-aneh itu, rasanya diriku terlepas dari belenggu yang menyiksa. Paling enggak, hal yang wajib dilakukan selain sekedar jalan-jalan dan melihat panorama adalah belanja. Ya…tidak perlu yang mahal-mahal cukuplah yang murah meriah saja namun bisa mewakili bahwa saya setidaknya pernah berziarah di tempat itu. Ya… dulu hidupku terasa dangkal tanpa makna.
Namun, sejak saya berada di seminari, semua paradigmaku tentang ziarah berubah 180 derajat. Mungkin, proses formatio di seminari ini memaksaku untuk melihat sesuatu secara lebih dalam. Ziarah saya maknai sebagai miniatur dari kehidupan. Ya…kehidupan yang selalu mengarah kepada sumber kehidupan yakni Tuhan sendiri. Kita diajak untuk peka melihat tanda-tanda dari Tuhan di dalam kehidupan kita yang selama ini agak tersamarkan karena berbagai kesibukan dan hingar bingar kehidupan.
It’s Show Time
Tentunya, saya tidak tinggal diam melihat fenomena yang seperti ini. Maka, saya memutuskan untuk ikut dan larut di dalam eforia yang ada di medan ini. Awalnya…, saya sudah berencana ikut di dalam koloninya Ticus dkk. Namun, di kemudian hari rencana itu saya batalkan karena saya di ajak oleh koloni yang lebih bisa memrepresentasikan diriku. Ya koloni ini adalah klan awamis. Sebuah koloni yang bisa disebut sebagai kelompok anomali di tempat pendidikan calon imam. Koloni ini terdiri dari saya sendiri, Tama, Pradana, Arista, Aven, Kintel, Ampli, dan Binar. Saya rasa di dalam koloni ini saya merasa lebih “in” sebab merasa memiliki kesamaan nasib dan sepenanggungan. Selain itu, saya ingin membuktikan bahwa hidup rohani calon awam sekalipun tidak kalah dengan para calon imam. Memang ada kesan persaingan dalam hal ini namun menurutku ini justru adalah hal yang baik yang membawa kebaikan juga.
Kami memutuskan untuk pergi ke Ganjuran. Mungkin, ini adalah adalah jarak terjauh yang pernah saya lakukan selama saya hidup dengan berjalan kaki. Saya membayangkan perjalanan ini seperti perjalanan seorang abdi dalem ke kraton untuk meminta sowan ke Sang Ratu yakni Yesus Kristus sendiri.
Sehari sebelum berangkat, kami semua diajak Romo Nano SJ, pamong kami untuk membuat mind set dalam perjalanan ini, paling enggak biar tujuan kami dalam perjalanan ini bisa semakin jelas. Mindset yang saya tuliskan antara lain ingin menambah motivasi hidupku yang terasa akhir-akhir ini redup padahal beberapa bulan ke depan saya akan menghadapi UAN dkk dan bersiap hidup “mandiri” selepas dari seminari. Selain itu, saya merasakan mendapatkan pengalaman rohani bagaimana sepenuhnya Tuhan berkarya dalam hidup ini. Dengan mindset seperti ini saya merasakan adanya roh yang membimbing saya sepanjang perjalanan. Ya… roh itu memacu semangatku.
Sebelum berangkat, sebetulnya, hatiku sedang gundah. Bagaimana tidak…? Masak tiba-tiba saldo keuanganku jadi berwarna merah minus Rp.800.000,00. Maka, sebelum berangkat saya agak uring-uringan karena hal ini. Tapi untunglah pangkal masalahnya sudah terpecahkan sehingga tidak menjadi beban lagi sebelum perjalanan.
Segala amunisi dan persediaan logistik selama perjalanan sudah siapkan. Kelihatannya, dari segi persiapan, diriku terasa lebih “wah” daripada yang lain meskipun hal itu membuat penampilanku agak culun karena memakai kaos kaki panjang yang sama sekali tidak serasi dengan celana pendekku yang saya pinjam dari Ari. Tapi hal itu bukanlah masalah bagiku karena saya rasa kenyamanan selama perjalanan lebih penting daripada sekedar penampilan.
Let’s Go, Babe…!
Dengan semangat 1945, kami memulai langkah pertama kami dengan semangat apalagi dengan diberi sedikit wejangan dan doa dari Fr. Agus. Namun, langkah itu tidak bertahan lama. Baru di depan kantor polisi Mertoyudan, langkah kami harus berhenti. Bukan karena kelelahan atau hujan tapi karena Ampli terpaksa kembali untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di seminari. Untung ada Tama yang siap sedia membawa permen sehingga waktu untuk menunggu Ampli tidak terasa membosankan.
Perjalanan dilanjutkan. Langkah kami sama sekali tidak terhenti selama lebih dari 4 jam karena kami masih terbakar oleh semangat. Hujan yang menghadang, diselingi panas terik matahari yang terasa menyengat dan dilanjutkan lagi dengan hujan deras sampai malam tidak menyurutkan niat kami. Aneh memang, cuaca bisa berubah secara ekstrem tapi kami rasa justru inilah bumbu yang memperkaya perjalananan kami.
Rasanya kaki ini lama-kelamaan makin terbiasa dengan melangkah sehingga bisa melenggang dengan otomatis tanpa perlu diatur lagi. Rasa lelah atau pun bosan hilang sirna larut di dalam obrolan dan canda tawa. Ya…, meskipun obrolan ini terasa tanpa arah tapi justru itulah kenikmatannya.
Suasana riang memenuhi hati kami, bahkan Arista, Tama, dan Binar bernyanyi-nyanyi dengan gerakan yang agaknya cukup aneh sampai saya sendiripun agak malu melihatnya. Maklum, di jalan beberapa orang yang melihat mereka senyum-senyum sendiri. Saya mengerti apa yang ada di otak mereka, tapi untunglah lama-lama mereka jadi diam karena bosan atau kelelahan. Tapi itulah trik yang cukup ampuh untuk mengalihkan perhatian kami dari rasa capek atau bosan. Di sekitar Muntilan, langkah Aven dan Kintel mulai agak menjauh dari rombongan inti, sebab lecet-lecet mulai menggrogoti kaki meskipun tidak nampak terlalu parah.
Dihalaman toko di antara Muntilan-Salam, kami beristirahat sejenak. Saya dan Ampli mencari semak-semak untuk “memongkar muatan”. Tiba-tiba dihadapan kami berhenti motor dengan helm full face yang menutupi kepalanya. Siapa gerangan? Mungkinkah pemilik toko yang kami pakai untuk beristirahat. Ternyata orang itu adalah “Bebek” Alvian, teman eks seminaris. Seperti biasa, respon kami terhadap orang ini agak tidak terlalu antusias. Rasanya ada selubung yang mungkin adalah paradigma kami yang menghalangi kami bisa bebas bersosialisasi dengan orang itu. Meskipun begitu, kami coba tetap empatik meskipun terkesan agak dipaksakan. Ya…, seharusnya paradigmaku tidak boleh buruk kepada orang-orang tertentu karena hal itu hanya akan membuat diriku semakin terkungkung. Memang, saya sadari sulit mengubah paradigma yang seperti itu tapi itu harus saya lakukan kalau saya mau maju. Toh… semua orang punya sisi baik dan buruk. Saya sudah seharusnya melihat seseorang secara lebih utuh sebagai pribadi karena disitulah kunci dalam berelasi
Celana Dalam Menguji Emosiku
Kadang, bercanda memang diperlukan untuk mencairkan suasana yang tegang Namun kalau berlebihan, tentu ceritanya akan lain. Kebetulan, Ampli menemukan sebuah celana dalam di jalan dan ketika hendak dibuang, Binar mengambilnya dan melemparkannya pada Tama. Awalnya, Tama tidak sadar kalau sebuah celana dalam bersanding di punggungnya. Ketika sadar, ia hendak melempar balik ke Binar. Binar berhasil mengelak. Kebetulan saya berada di belakang Binar sedang asyik-asyiknya mengamati pemandangan. Tiba-tiba, plok…celana dalam yang saya duga milik wanita jika dilihat dari tekstur dan penampangnya bersarang di wajahku. Pasir-pasir yang ada di celana dalam itu berhamburan dan sebagian menempel di wajahku karena keringat memang membasahi seluruh badanku.
Saat itu, berbagai perasaan persatu padu, mulai dari kaget, marah, malu dll yang rasanya sulit didefinisikan. Untunglah diriku bisa mengendalikan emosiku dan kemarahanku tidak diekspresikan mengingat perjalananan kami belum sampai seperempat bagian dari total seluruhnya. Saya tidak mau jika karena kemarahan saya, suasana di dalam rombongan ini jadi kacau dan tidak nyaman lagi. Maka, yang bisa saya lakukan hanyalah tersenyum. Ya… segalanya terkendali meskipun biasanya di dalam kondisi seperti ini saya bisa marah besar apalagi karena lelah bisa saja emosiku memang tidak stabil
Oh iya… ada perasaan yang saya lupakan yakni takut. Sebenarnya, saya curiga pada celana dalam itu, jangan-jangan itu adalah bekas PSK atau orang gila. Bagaimana kalau di dalam celana dalam itu ada virus dkk. Hi…ngeri. Tapi, saya tetap coba berpositif thinking. Jangan sampai pikiran-pikiran semacam itu malah membuatku jadi tidak mood melanjutkan perjalananan. Untung saja saya sudah baca buku The Secret…, jadi ketakutan semacam itu tidak terlalu menggangguku. Ya…dengan berpositif thinking segalanya akan jauh lebih baik.
Jalan Masih Panjang
Akhirnya, kami sampai juga di perbatasan propinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Tentunya hal ini adalah momen yang sangat penting bagi kami. Maka, kami melakukan ritual perbatasan dengan gerakan patah-patah yang benar-benar aneh bin konyol sambil berteriak-teriak mengatakan kata Jogja. Terus terang, kami merasa sangat bersukacita telah mencapai Salam sebab menurut masterplan yang telah kami buat, kami akan beristirahat di Tempel yang tidak jauh dari Salam.
Di Tempel kami beristirahat sambil menikmatinya hangatnya mie ayam. Fuih… gila…,mie ayamnya benar-benar maknyus dan terasa pas di tengah hujan yang cukup dingin. Sebuah perpaduan sempurna apalagi jika disantap bersama-sama. Saking nyamannya, sampai-sampai saya jadi malas melanjutkan perjalanan. Namun, hal itu tidak boleh terjadi, kadang saya ditantang untuk keluar dari wilayah nyaman untuk mendapatkan sesuatu yang berharga di dalam hidup
Setelah kami menyantap mie ayam sampai habis dan asam laktat yang menyebabkan kami pegal-pegal sudah terasa hilang di otot otot kami, kami melanjutkan perjalanan. Target perjalanan kami selanjutnya adalah terminal Jombor.
Pada paruh perjalanan kami yang kedua ini, kami rasa kecepatan dalam berjalan semakin lambat karena kami sering beristirahat karena kami mulai merasa lebih cepat lelah dan kadang kram datang secara tiba-tiba tanpa kompromi. Ya…, kami sadar kemampuan fisik kami semakin lemah karena kami telah berjalan cukup jauh dan memang fisik kamipun memiliki keterbatasan sekalipun telah dipaksakan. Perjalanan ini memaksa kami untuk sedikit lebih bertebal muka. Ya…istirahat pun bisa dimana saja bahkan di emper toko sampai-sampai banyak orang yang heran melihat kami. Ketika perbekalan air mulai habis, Arista dan Binar berinisiatif meminta air ke sebuah restoran Padang dan syukur kepada Allah karena misi ini sukses tanpa mengeluarkan uang sekalipun.
Terus terang, secara fisik, saya masih kuat dan untungnya, saya memakai rompi dan kupluk “Slankers” yang bagiku sangat berguna untuk melawan dinginnya malam sehingga bisa melenggang dengan nyaman. Mungkin, karena kupluk ini, ada orang yang sampai mengira rombongan ini adalah rombongan orang yang mau nonton konser di Yogya.
Terminal Jombor yang kami kira jaraknya tidak lebih dari “sepelemparan batu” dari Salam ternyata sangat jauh tak dinyana. Berulangkali kami melihat lampu merah di jalan dan semangat kami makin terpompa karena mengira lampu merah itu adalah Jombor. Namun dugaan kami meleset sampai tiga kali. Ya…kadang memang tidak terlalu baik jika kita terlalu mengharapkan sesuatu ketika harapan itu sirna, rasanya segala perjuangan yang telah kami lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Kami mencoba selalu berpositif thinking bahwa semakin kami melangkahkan kaki paling enggak kami semakin dekat dengan tujuan kami. Bagiku, perjalanan ini adalah sebuah sarana untuk belajar bersabar dan bertekun. Toh kami berjalan ini mempunyai sebuah visi yang baik.
Saya jadi kasihan pada Kintel karena kakinya lecet dan hal itu menyebabkan ia berjalan agak lebih lambat dan sering beristirahat. Tiba-tiba saja di dalam diriku muncul inisiatif untuk meminjamkan kaos kaki yang saya kenakan. Ya… meskipun kaos kaki ini sudah penuh dengan keringat dan sedikit bau tapi saya rasa hal ini sedikit banyak dapat menolong Kintel. Rasanya ada perasaan bertanggung jawab terhadap teman satu koloni dan paling enggak di sinilah momen yang pas di mana saya bisa belajar berbagi meskipun hal ini mengandung akibat kaki saya jadi ikut lecet. Kebersamaan semacam ini sepertinya membangkitkan rasa solidaritas di antara kami.
Akhirnya…, kami sampai juga di Jombor dan untuk merayakan hal ini kami kembali bersantap makan. Rencananya kami akan makan mie rebus jawa tapi karena pembelinya begitu membludak jadi target kami beralih ke mie rebus biasa di depan terminal Jombor. Sambil menunggu sajian terhidang kami semua mengobrol kecuali Arista yang asyik menikmati tidur sesaatnya yang begitu pulas.
Yogyakarta Undercover
Awalnya, kami berencana koloni kami akan pecah di Jombor. Saya bersama Tama, Pradana dan Ampli akan pergi ke Ganjuran melalui Kota Yogyakarta sedangkan ,Arista, Aven, Kintel, dan Binar melalui ring road. Namun, rencana itu gagal karena kami mengira di dalam kebersamaan seperti ini kami merasa lebih baik dan nyaman. Meskipun kami nampak tidak setia pada komitmen tapi kami telah mempertimbangkan hal ini dan melihat ada nilai yang lebih tinggi dari sekedar komitmen awal yang kami buat. Bagiku kelompok ini akan lebih solid jika kami tetap bersama.
Ketika memasuki kota Jogja, kami melihat dunia malam secara lebih nyata. Di sana-sini berseliweran “bidadari”. Istilah ini berasal dari seorang sopir yang kami jumpai di Jombor. Ia telah memperingatkan akan banyak “bidadari” namun kami belum menangkap maksud yang sebenarnya. Kami baru mengerti maksudnya setelah kami melihat keadaan yang sebenarnya mulai dari genus “bidadari” asli sampai” bidadari” jadi-jadian meskipun dari segi bodi tidak kalah dengan “bidadari” asli. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kami berjalan tidak berjauhan meskipun strategi ini tidak sepenuhnya sukses karena beberapa kali kami tetap digoda dengan kata “Bronies”[1].
Kebetulan, malam itu adalah malam minggu maka tidaklah salah jika kami menjumpai banyak orang di depan club-club malam di Yogya. Gila…, dingin-dingin seperti ini, banyak cewek masih kuat berpakaian minim. Memang sih…,hal seperti ini cukup memberi penghiburan tersendiri bagi kami sendiri dan sejenak melupakan segala kesusahan kami. Tapi, hal itu tidak membuat konsentrasi kami buyar dalam menjalani perjalanan ini karena kami sadar kami berjalanan kaki seperti ini masih dalam konteks ziarah.
Jalanan kota Yogyakarta yang sepi sedikit demi sedikit menguras energi yang kami miliki. Rasanya, fisik kami sudah sangat kelelahan dan beberapa anggota koloni sudah nampak tidak bisa bertahan lagi. Karena melihat kondisi seperti itu, rasanya kami tidak tega terus melanjutkan perjalanan. Agar anggota koloni yang sedang tidak fit itu mendapatkan perawatan yang baik, maka kami putuskan untuk sementara beristirahat di rumahnya Ampli. Memang sih, kelihatannya kami hanya ingin mendapatkan kenyamanan dalam ziarah ini dan tidak seheroik teman-teman lain yang sudah melakukan perjalanan ke Ganjuran tanpa henti. Tapi, kami menyadari hal ini bukanlah sepenuhnya kehendak kami tetapi memang keadaan yang memaksa. Lagipula, perjalanan Magelang-Yogyakarta sudah cukup banyak memberi kesan yang mendalam bagi kami. Di rumah Ampli, kami beristirahat seadanya. Tidur berjajar layaknya ikan pindang yang akan dijual di pasar. Entah karena badan Arista yang kepanjangan atau kursi tamunya yang kependekan, Arista mesti tidur dalam posisi melipat tapi sungguh, ia nampak sangat menikmatinya. Saya kira posisi itu dilakukan agar badan menjadi lebih hangat.
Semangat Pagi yang Terbakar Matahari… !
Keesokan paginya kira-kira pukul 6.30 kami berangkat lagi untuk melanjutkan perjalanan. Semangat kami tumbuh lagi bersamaan terbitnya matahari pagi. Udara nan segar kami hirup dan energi yang telah kami dapatkan dari Soto yang menjadi teman sarapan kami rasanya cukup untuk memulai kembali sebuah perjalanan. Badan yang kemarin rasanya pegal dan sakit, kini sama sekali tidak kami rasakan.
Layaknya seorang yang hendak pergi ke medan perang, segala hal kami siapkan baik-baik meskipun nampak seadanya. Perjalanan pagi ini sangat menyenangkan. Kami kembali ceria dan bercanda. Obrolan panjang lebar mulai dari ngegosip sampai ngomongin politik dilakukan untuk mengusir rasa bosan. Tidak terasa, kaki kami telah melangkah dan mengantar kami di jalan ring road. Berarti tidak lama lagi kami akan sampai di Kabupaten Bantul. Menurut perkiraan kami, tidak akan lama lagi sekitar 2 jam kami akan sampai di Ganjuran.
Aspal mulai panas dan perjalanan telah kami lakukan telah memakan waktu 2,5 jam namun kok kami tidak sampai-sampai juga ya…. Meskipun begitu kekesalan kami mulai terobati karena tidak lama kemudian kami melihat gerbang kabupaten Bantul. Kembali, ritual perbatasan kami lakukan. Pada masa-masa ini kami masih kompak dan berjalan tidak berjauhan. Kami beristirahat beberapa kali di beberapa titik yakni pasar Bantul, Depan Mesjid Agung Bantul. Pemandangan daerah Bantul nampak sudah baik lagi tidak seperti dua tahun yang lalu ketika daerah ini dilanda gempa bumi. Segalanya sudah berjalan normal. Memang sih, dibeberapa tempat ada satu dua rumah yang masih puing-puing.
Matahari semakin meninggi, niatku untuk berjalan tanpa alas kaki diurungkan karena aspal pun ikut-ikutan menjadi panas. Sekarang, rombongan kami mulai pecah. Saya, Aven dan Kintel berada di rombongan di belakang. Rombongan di depan makin lama makin tidak nampak seiring semakin jauh jarak yang memisahkan kami. Kembali, lecet-lecet mulai muncul di kakiku. Rombongan belakang ini semakin lama semakin jauh dengan rombongan depan karena beberapa kali kami mesti beristirahat. Energiku rasanya pun turut menguap karena panasnya jalanan ini. Ternyata Bantul itu luas juga ya…, dengan mengais-ngais energi yang masih ada di dalam diriku saya coba tetap bertahan berjalan. Terus terang, saya kesal pada rombongan yang ada di depan sebab mereka jalannya cepat sekali dan nampak tidak mempedulikan kami yang sedang sengraran di belakang. Namun, saya coba pendam rasa kesal ini toh bila kekesalan ini diteruskan hanya akan membuang energi dengan sia-sia
Di dekat sebuah perempatan di Pal Bapang, Akhirnya, kami serombongan berkumpul lagi.
Ingin saya curahkan semua kekesalan ini pada mereka namun apa daya mereka pun nampak sangat kelelahan. Saya mengerti mereka berjalan cepat-cepat karena ingin cepat sampai di Ganjuran dan tidak mau terbakar matahari lebih lama.
Kayaknya, rombongan ini melakukan kesalahan dalam membuat strategi. Seharusnya semalam, kami tetap berjalan agar kami sampai di Ganjuran pagi hari. Alih-alih karena keterbatasan fisik kami, kami beristirahat di rumah Ampli sehingga perjalanan kami molor sekitar 7 jam sehingga kami tidak hanya tersiksa karena lelah tetapi juga oleh sengatan matahari. Ya…apa boleh buat semuanya telah terjadi. Satu-satunya jalan adalah menjalani segala sesuatu yang telah kami lakukan.
Semuanya Rusak karena Kesalahpahaman
Meskipun rasa kesal tadi sudah saya pendam tapi ada keinginan untuk mencoba bergantian kini saya akan berjalan di bagian terdepan dan biarlah mereka yang meninggalkan kami berjalan di belakang. Entah karena saya terlalu semangat atau ingin buru-buru sampai agar tidak kepanasan, tanpa kami sadari kami kini malah jauh meninggalkan rombongan yang ada di belakang. Sejenak Saya, Tama, Binar beristirahat. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya, rombongan belakang mulai nampak dikejauhan. Saya sebetulnya ingin menunggu mereka yang ada dibelakang karena saya pun tadi mengalami bagaimana penderitaan tertinggal di belakang. Dari kejauhan Ampli melampaikan tangan tapi kami tidak mengerti apa yang dikatakannya.
Binar menganggap kode yang diberikan Ampli sebagai tanda agar kami terus jalan. Maka saya dan Binar melambaikan tangan sebagai tanda kami akan berjalan lagi. Keadaan panas membuat kami ingin segera sampai. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di Ganjuran dan minum karena perbekalan air yang kami miliki telah habis.
Ternyata, kode yang diberikan oleh Ampli itu adalah kode supaya kami berhenti. Kami baru mengetahui dan menyadari bahwa mereka yang ada dibelakang berjalan lambat karena Arista tiba-tiba kakinya kram di jalan Bambanglipuro. Maka, Binar dan Tama pun segera bergegas ke Ganjuran untuk mengambil motor supaya dapat menolong Arista dan rombongannya.
Namun, sia-sialah perjuangan Binar dan Tama karena Arista beserta rombongannya telah sampai di candi. Di candi kelihatannya, rombongan itu sudah kepayahan dan Ampli pun meluapkan kekesalannya terhadap kami, rombongan yang sudah meninggalkan mereka.
Kami semua tiba di Ganjuran Pk 12.30.Sebetulnya, semua ini tidak akan terjadi jika saya dan rombongan yang ada di depan menangkap apa yang dikatakan oleh teman-teman di rombongan belakang. Saya rasa kesalahpahaman seperti ini bisa jadi berakibat fatal namun untunglah hal-hal buruk tidak terjadi atas kami. Seharusnya di dalam rombongan kami selalu bersama agar kami dapat tahu keadaan rekan-rekan kami dan bisa saling menyemangati. Dari diri saya sendiri, saya sadar bahwa saya terlalu egois dan ingin cepat-cepat sampai di Ganjuran. Dari peristiwa ini, saya belajar banyak hal khususnya bagaimana saya seharusnya tidak egois. Memang, keadaan waktu itu begitu sulit. Namun, justru disanalah saya bisa memaknai persahabatan yang sejati. Saya kayaknya bisa menjadi gambaran teman yang tidak baik dan setia karena saya lebih mengutamakan egois dan kepentingan diri saya dibandingkan rasa kebersamaan yang telah kami bina di sepanjang perjalanan ini. Terus terang, di candi, bukanlah kemenangan bagaimana saya bisa menaklukan jalan Magelang-Ganjuran yang sulit tetapi justru sebaliknya yang saya rasakan adalah sebuah kekalahan karena saya tidak mampu mengendalikan diri saya dan menyebabkan teman-temanku yang menjadi sengsara.
Tuhan Menyapaku di Candi
Untunglah suasana kembali mencair di candi, hubungan relasi yang tadinya agak awut-awutan kini baik kembali. Kini, kami bisa bercanda lagi. Selepas melepaskan lelah dengan goler-goleran ala kadarnya di bawah pohon di parkiran paroki, saya memutuskan sejenak untuk bermeditasi. Di candi saya rasakan betapa Tuhan mengajariku banyak hal dalam perjalanan ini. Saya bisa semakin mengenal diriku dan teman-temanku secara lebih dalam. Saya bersyukur karena saya bisa sampai di sini bersama teman-teman dengan baik-baik saja. Sedikit-demi sedikit saya bisa menerima diri saya kembali. Saya sadar bahwa saya ini adalah seorang manusia yang tidak bisa selalu sempurna.
Saya coba resapi bahwa perjalanan ziarah ini bisa dianalogikan dengan sebuah perjalanan hidup yang saya akan lalui di masa yang akan datang. Kehidupan itu adalah sebuah peziarahan panjang dengan Tuhan yang menjadi tujuannya. Hidup itu adalah sebuah proses yang penuh dengan dinamika. Kadang berjalan menyenangkan dan kadang penuh hambatan. Semua itu bergantung bagaimana kita bisa memandang kehidupan. Bagiku, hidup adalah sebuah proses yang dipenuhi dengan tantangan. Semakin kita bisa keluar dari wilayah aman kita dan berani menghadapi tantangan, semakin maju selangkah lebih depan daripada diri kita sebelumnya. Dengan berani menghadapi tantangan, kita diajak untuk semakin bisa mengembangkan diri kita.
Terus terang, saya tidak mengira bahwa kami sudah berjalan kaki selama sekitar 21 jam. Saya yakin, saya bisa melakukan perjalanan ini tentu tidak lepas dari campur tangan Tuhan yang turut berkarya. Saya yakin Tuhan Tuhan selalu mendampingi saya tidak hanya di dalm perjalanan ini saja tetapi juga seluruh perjalanan hidupku. Bagiku, Tuhan adalah Gembala yang Baik. Saya tidak akan pernah kekurangan jika saya berjalan bersama dia. Hidupku dipenuhi dengan kelimpahan rahmat dan bagiku, hal itu haruslah selalu saya sadari. Saya yakin Tuhan selalu membuka jalan di setiap langkah hidupku tak terkecuali di dalam masalah yang sulit sekalipun.
Di depan candi saya memohon kepada Tuhan agar saya senantiasa menyadari segala kebaikannya dan saya pun selalu disadarkan agar selalu bersyukur kepada Tuhan. Saya sadar diriku adalah makhluk yang lemah, Tuhanlah yang selalu menopang aku dan tanpa kekuatan Tuhan, saya bukanlah apa-apa. Satu hal yang pasti adalah di dalam perjalanan ini saya bisa menemukan kembali kekuatanku kembali.
Terus terang, perjalanan ke candi dengan berjalan kaki ini membangkitkan rasa percaya diriku. Saya mampu melakukan hal yang sulit sekalipun. Bagiku, hal ini sangat penting, sebab beberapa bulan ke depan saya akan menghadapi banyak hal yang penting di dalam hidupku yakni ujian dan beberapa hal yang menyertai hidupku selepas saya meninggalkan seminari. Beberapa waktu ini, hidupku selalu dihinggapi perasaan takut karena beberapa bulan ke depan saya akan meninggalkan seminari dan ada perasaan belum siap di dalam diriku untuk menghadapi kehidupan di luar. Jadi, tidak sia-sialah perjalanan ini dan rasanya rasa capek,pegal, dkk sudah terbayar impas bahkan lebih dengan berbagai makna kehidupan yang saya dapatkan dalam ziarah ini.
[1] Istilah yang agak aneh, tapi kami coba mereka-reka maksud yang sebenarnya dan kami mengambil kesimpulan bronies memiliki kepanjangan Brondong manis. Agak geli memang ketika mendengarnya tapi kami tetap berpegang teguh bahwa kami ini adalah sejenis Homo sapiens bukan Zea mays. Meskipun begitu kami akui mereka tidak salah menyebut kami manis karena memang begitu kenyataannya sih.
Jumat, 27 Februari 2009
Ketika Hidup Menjadi Sebuah Seni
Sebuah Tinjauan Film" Modigliani
Renoir: "Are you mad?"Modigliani tersenyum, melalui bahasa tubuh ia menyampaikan: "Kegilaan saya sedikit."
Disadari atau tidak, banyak hal di dunia ini relatif dan sangat tergantung dari bagaimana cara kita memandangnya. Itulah peran dari paradigma. Paradigma bisa diasosiasikan dengan kaca mata. Apa yang kita pandang disangat dipengaruhi oleh jenis kacamata yang kita pakai. Bisa jadi hal-hal yang indah dan penuh warna menjadi gelap dan nampak suram ketika kita mengenakan kacamata hitam. Begitu pula sebaliknya. Film Modiglinani membantu kita melihat hidup dengan cara berbeda. Hidup adalah seni. Keindahan itu akan terpancar dari setiap goresan pengalaman yang akan mewarnai kanvas kehidupan itu sendiri dan memberi makna bagi orang yang menjalannya jika kita jeli dan peduli melihat sesuatu secara lebih mendalam.Amedeo Clemente Modigliani (12 Juli 1884 - 24 Januari 1920), adalah seorang pelukis berdarah Yahudi-Italia, kelahiran Livorno, Italia. Dedo atau Modi, panggilannya. Sebagai seorang pelukis, ia mencurahkan banyak waktu dan perhatiannya untuk menghasilkan karya lukisan. Didukung oleh lingkungan masyarakat Italia yang begitu mengapresiasikan seni dengan begitu tinggi, Modigliani berkembang menjadi seorang pelukis yang mampu menjadikannya sekasta dengan maestro seni Pablo Piccaso.
Banyak orang di sekitarnya menganggap Modigliani adalah sosok gila. Bagaimana tidak, sakit TBC yang mendera paru-parunya sama sekali tidak menyurutkan kebiasaannya mengkonsumsi alkohol dan drug. Selain itu, ia pun sering menari-nari di sekitar sebuah patung tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi, ekspresi semacam ini adalah cara Modigliani melihat dan menikmati hidup ini secara berbeda.
Film Modigliani secara garis besar mengantarkan penontonnya memperoleh makna pencarian jati diri melalui seni. Ia menciptakan seni tidak sekedar hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi hidupnya. Tapi justru sebaliknya, dari sanalah ia dapat menggali makna dengan sangat dalam dan itulah yang membuat karyanya menjadi sangat bernilai. Salah satunya terekam dalam dialog Modigliani dan Jeanne, kekasihnya “Bagaimana saya bisa menggambar matamu jika saya tidak tahu gambaran dari jiwamu”. Modigliani sangat mengerti bahwa ekspresi mata merupakan ekspresi dari jiwa seseorang. Ia berusaha melihat sesuatu secara mendalam dan mengabadikannya dalam lukisan hal-hal yang tidak sanggup dilihat oleh orang lain.
Sedikit demi sedikit, kritik sosialpun disisipkan dalam film ini. Gambaran masyarakat eropa pada masa itu mengenai rasisme terhadap orang keturunan Yahudi digambarkan secara gamblang diwakili oleh Ayah Jeanne. Modigliani harus berjuang keras meluluhkan hati Ayah Jeanne yang sudah dibelenggu dengan paham rasisme.
Gambaran perang pun dikritik dalam film ini. Ketika selegiun pasukan Perancis memasuki kotanya dan disambut oleh warga dengan panji-panji kebesarannya. Justru Modigliani melihatnya secara berbeda dalam pertanyaan klise” Apakah mereka sadar untuk apa dan siapa mereka berperang?”
Alur konflik terbangun pun terjalin dengan sangat bagus. Persaingannya dengan Pablo Piccaso tidak membuatnya jatuh pada permusuhan yang tidak produktif dan merugikan tetapi justru mengantarkannya melahirkan sebuah karya seni terbaik. Ia berhasil memenangkan kompetisi berhadiah 5000 Frank yang diikuti oleh para master lukis. Sebuah obsesi yang sangat menggunggah hati.
Film ini dibalut dengan kisah cinta Modigliani dan Jeanne yang sangat memikat meskipun nampak sangat ironik. Disini cinta yang disajikan tidak jatuh pada kisah yang picisan tapi justru sebaliknya terkesan sangan mendalam. Cinta dimaknai dalam bingkai keabadian.
Ia berjuang mati-matian mendapatkan akta perkawinan sebagai syarat untuk mendapatkan hak asuh anaknya yang diambil paksa oleh ayah Jeanne. Tepat pada malam pengumuman pemenang hasil kompetisi, Modigliani justru menghabiskan waktunya di bar tanpa uang sepeserpun. Satu-satunya modal yang dimiliki oleh Modigliani adalah keyakinannya memenangi 5000 frank. Apa yang ia lakukan harus dibayar mahal. Modigliani tewas dianiaya karena tidak membayar apa yang ia minum. Ironi sangat jelas digambarkan dalam film ini. Scene orang-orang mengagumi lukisannya di kompetisi harus dipertentangkan scene Modigliani yang terbujur kaku di atas salju.
Kisah ini tidak berhenti hanya sampai itu. Sebuah paradok romantis yang mungkin bagi sebagian orang sangat tidak masuk akal dimulai. Jeanne yang mengandung memutuskan terjun bebas dari lantai dua rumahnya dan tewas seakan-akan ingin menyusul Modigliani.
Disinilah kekuatan cinta tergambarkan seperti kisah Romans Romeo dan Juliet atau Hamlet karya Shakespears. Cintalah yang mempersatukan mereka dan tidak ada hal yang dapat memisahkan mereka bahkan termasuk kematian itu sendiri.
Keunikan film ini adalah deskripsi sosok Modigliani yang digambarkan bersama dengan dirinya sendiri ketika masih kecil berdialog bersama. Hal ini adalah gambaran bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari masa lalunya. Pengalaman seseorang terdahulu adalah pembentuk kepribadian seseorang di masa sekarang.
Film dengan alur maju mundur ini dipenuhi berbagai bumbu yang menghibur dan mendidik meskipun terkesan agak berat dicerna. Bisa dijadikan sebagai referensi renungan bagi orang yang sedang belajar untuk mengerti makna bahwa hidup ini adalah sebuah proses seni.
Renoir: "Are you mad?"Modigliani tersenyum, melalui bahasa tubuh ia menyampaikan: "Kegilaan saya sedikit."
Disadari atau tidak, banyak hal di dunia ini relatif dan sangat tergantung dari bagaimana cara kita memandangnya. Itulah peran dari paradigma. Paradigma bisa diasosiasikan dengan kaca mata. Apa yang kita pandang disangat dipengaruhi oleh jenis kacamata yang kita pakai. Bisa jadi hal-hal yang indah dan penuh warna menjadi gelap dan nampak suram ketika kita mengenakan kacamata hitam. Begitu pula sebaliknya. Film Modiglinani membantu kita melihat hidup dengan cara berbeda. Hidup adalah seni. Keindahan itu akan terpancar dari setiap goresan pengalaman yang akan mewarnai kanvas kehidupan itu sendiri dan memberi makna bagi orang yang menjalannya jika kita jeli dan peduli melihat sesuatu secara lebih mendalam.Amedeo Clemente Modigliani (12 Juli 1884 - 24 Januari 1920), adalah seorang pelukis berdarah Yahudi-Italia, kelahiran Livorno, Italia. Dedo atau Modi, panggilannya. Sebagai seorang pelukis, ia mencurahkan banyak waktu dan perhatiannya untuk menghasilkan karya lukisan. Didukung oleh lingkungan masyarakat Italia yang begitu mengapresiasikan seni dengan begitu tinggi, Modigliani berkembang menjadi seorang pelukis yang mampu menjadikannya sekasta dengan maestro seni Pablo Piccaso.
Banyak orang di sekitarnya menganggap Modigliani adalah sosok gila. Bagaimana tidak, sakit TBC yang mendera paru-parunya sama sekali tidak menyurutkan kebiasaannya mengkonsumsi alkohol dan drug. Selain itu, ia pun sering menari-nari di sekitar sebuah patung tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi, ekspresi semacam ini adalah cara Modigliani melihat dan menikmati hidup ini secara berbeda.
Film Modigliani secara garis besar mengantarkan penontonnya memperoleh makna pencarian jati diri melalui seni. Ia menciptakan seni tidak sekedar hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi hidupnya. Tapi justru sebaliknya, dari sanalah ia dapat menggali makna dengan sangat dalam dan itulah yang membuat karyanya menjadi sangat bernilai. Salah satunya terekam dalam dialog Modigliani dan Jeanne, kekasihnya “Bagaimana saya bisa menggambar matamu jika saya tidak tahu gambaran dari jiwamu”. Modigliani sangat mengerti bahwa ekspresi mata merupakan ekspresi dari jiwa seseorang. Ia berusaha melihat sesuatu secara mendalam dan mengabadikannya dalam lukisan hal-hal yang tidak sanggup dilihat oleh orang lain.
Sedikit demi sedikit, kritik sosialpun disisipkan dalam film ini. Gambaran masyarakat eropa pada masa itu mengenai rasisme terhadap orang keturunan Yahudi digambarkan secara gamblang diwakili oleh Ayah Jeanne. Modigliani harus berjuang keras meluluhkan hati Ayah Jeanne yang sudah dibelenggu dengan paham rasisme.
Gambaran perang pun dikritik dalam film ini. Ketika selegiun pasukan Perancis memasuki kotanya dan disambut oleh warga dengan panji-panji kebesarannya. Justru Modigliani melihatnya secara berbeda dalam pertanyaan klise” Apakah mereka sadar untuk apa dan siapa mereka berperang?”
Alur konflik terbangun pun terjalin dengan sangat bagus. Persaingannya dengan Pablo Piccaso tidak membuatnya jatuh pada permusuhan yang tidak produktif dan merugikan tetapi justru mengantarkannya melahirkan sebuah karya seni terbaik. Ia berhasil memenangkan kompetisi berhadiah 5000 Frank yang diikuti oleh para master lukis. Sebuah obsesi yang sangat menggunggah hati.
Film ini dibalut dengan kisah cinta Modigliani dan Jeanne yang sangat memikat meskipun nampak sangat ironik. Disini cinta yang disajikan tidak jatuh pada kisah yang picisan tapi justru sebaliknya terkesan sangan mendalam. Cinta dimaknai dalam bingkai keabadian.
Ia berjuang mati-matian mendapatkan akta perkawinan sebagai syarat untuk mendapatkan hak asuh anaknya yang diambil paksa oleh ayah Jeanne. Tepat pada malam pengumuman pemenang hasil kompetisi, Modigliani justru menghabiskan waktunya di bar tanpa uang sepeserpun. Satu-satunya modal yang dimiliki oleh Modigliani adalah keyakinannya memenangi 5000 frank. Apa yang ia lakukan harus dibayar mahal. Modigliani tewas dianiaya karena tidak membayar apa yang ia minum. Ironi sangat jelas digambarkan dalam film ini. Scene orang-orang mengagumi lukisannya di kompetisi harus dipertentangkan scene Modigliani yang terbujur kaku di atas salju.
Kisah ini tidak berhenti hanya sampai itu. Sebuah paradok romantis yang mungkin bagi sebagian orang sangat tidak masuk akal dimulai. Jeanne yang mengandung memutuskan terjun bebas dari lantai dua rumahnya dan tewas seakan-akan ingin menyusul Modigliani.
Disinilah kekuatan cinta tergambarkan seperti kisah Romans Romeo dan Juliet atau Hamlet karya Shakespears. Cintalah yang mempersatukan mereka dan tidak ada hal yang dapat memisahkan mereka bahkan termasuk kematian itu sendiri.
Keunikan film ini adalah deskripsi sosok Modigliani yang digambarkan bersama dengan dirinya sendiri ketika masih kecil berdialog bersama. Hal ini adalah gambaran bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari masa lalunya. Pengalaman seseorang terdahulu adalah pembentuk kepribadian seseorang di masa sekarang.
Film dengan alur maju mundur ini dipenuhi berbagai bumbu yang menghibur dan mendidik meskipun terkesan agak berat dicerna. Bisa dijadikan sebagai referensi renungan bagi orang yang sedang belajar untuk mengerti makna bahwa hidup ini adalah sebuah proses seni.
Tuhan, Gembalaku yang Baik
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau
Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku
Ia menuntunku di jalan yang benar,
Oleh karena nama-Nya
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman
Aku tidak takut akan bahaya,
Sebab engkau besertaku
Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku
Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku
Engkuai mengurapi kepalaku dengan minyak
Pialaku penuh melimpah
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku
Dan aku akan diam dalam rumah Tuhan
sepanjang masa
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau
Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku
Ia menuntunku di jalan yang benar,
Oleh karena nama-Nya
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman
Aku tidak takut akan bahaya,
Sebab engkau besertaku
Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku
Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku
Engkuai mengurapi kepalaku dengan minyak
Pialaku penuh melimpah
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku
Dan aku akan diam dalam rumah Tuhan
sepanjang masa
Jalan Panjang Sebuah Proses Pilihan
Sebuah Sinopsis buku Antara Kabut dan Tanah Basah
Selama liburan saya coba isi dengan menghabiskan buku Antara Kabut dan Tanah Basah. Buku ini mengisahkan perjalanan Dewabrata dalam mencari bunga Utpala. Meskipun buku ini berlatarkan cerita wayang, Saya rasa buku ini sangat cocok untuk dalam proses formatio di Seminari. Saya bayangkan bunga Utpala adalah panggilan hidup seseorang khususnya untuk menjadi imam. Ya…, banyak sekali pelajaran mengenai hidup di balik segala kisahnya. Hal yang paling menarik dari buku ini adalah ketika Dewabrata bersumpah tidak akan pernah menyentuh wanita sepanjang hidupnya dan akhirnya dewata mendengarnya serta menganugerahkan kemampuan untuk mengatur kematiannya sendiri. Selain itu, cerita ini juga dibalut dengan kisah cinta Dewabrata dengan dua wanita Buku ini meskipun berlatarkan kisah pewayangan tapi cukup mampu menarik pembaca sekarang. Saya coba bayangkan Dewabrata adalah diri saya dan bunga utpala adalah tujuan hidup saya. Proses pencarian tujuan hidup saya rasakan kadang begitu sulit. Butuh ketekunan dalam pencariannya. Memang, tidak jarang banyak hambatan yang saya rasakan kadang menghadang tapi saya kira justru hambatan samacam itulah yang membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik. Proses pemilihan juga diajarkan di dalam buku ini, pilihan yang tentunya membawa konsekuensi tersendiri bagi pemilihnya. Bagiku, segala konsekuensi bisa jadi berkat atau bahkan sebuah kutukan tergantung pilihan yang dipilih. Maka proses memilih bisa menjadi sangat penting karena bisa mempengaruhi hidup kita selanjutnya. Sekali kita memilih, akan sangat sulit sekali untuk mengubahnya. Pernah saya membaca sebuah buku mengenai seseorang janganlah bekerja secara keras saja tetapi secara cerdas. Cerdas dalam hal ini saya anggap sebagai kemampuan seseorang dalam memilih yang di dalamnya dibutuhkan kejelian dan kearifan. Semakin jeli dan arif seseorang berarti semakin baik pilihan yang diambil oleh seseorang
emanuel agung wicaksono
Seminari menengah Mertoyudan
Selama liburan saya coba isi dengan menghabiskan buku Antara Kabut dan Tanah Basah. Buku ini mengisahkan perjalanan Dewabrata dalam mencari bunga Utpala. Meskipun buku ini berlatarkan cerita wayang, Saya rasa buku ini sangat cocok untuk dalam proses formatio di Seminari. Saya bayangkan bunga Utpala adalah panggilan hidup seseorang khususnya untuk menjadi imam. Ya…, banyak sekali pelajaran mengenai hidup di balik segala kisahnya. Hal yang paling menarik dari buku ini adalah ketika Dewabrata bersumpah tidak akan pernah menyentuh wanita sepanjang hidupnya dan akhirnya dewata mendengarnya serta menganugerahkan kemampuan untuk mengatur kematiannya sendiri. Selain itu, cerita ini juga dibalut dengan kisah cinta Dewabrata dengan dua wanita Buku ini meskipun berlatarkan kisah pewayangan tapi cukup mampu menarik pembaca sekarang. Saya coba bayangkan Dewabrata adalah diri saya dan bunga utpala adalah tujuan hidup saya. Proses pencarian tujuan hidup saya rasakan kadang begitu sulit. Butuh ketekunan dalam pencariannya. Memang, tidak jarang banyak hambatan yang saya rasakan kadang menghadang tapi saya kira justru hambatan samacam itulah yang membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih baik. Proses pemilihan juga diajarkan di dalam buku ini, pilihan yang tentunya membawa konsekuensi tersendiri bagi pemilihnya. Bagiku, segala konsekuensi bisa jadi berkat atau bahkan sebuah kutukan tergantung pilihan yang dipilih. Maka proses memilih bisa menjadi sangat penting karena bisa mempengaruhi hidup kita selanjutnya. Sekali kita memilih, akan sangat sulit sekali untuk mengubahnya. Pernah saya membaca sebuah buku mengenai seseorang janganlah bekerja secara keras saja tetapi secara cerdas. Cerdas dalam hal ini saya anggap sebagai kemampuan seseorang dalam memilih yang di dalamnya dibutuhkan kejelian dan kearifan. Semakin jeli dan arif seseorang berarti semakin baik pilihan yang diambil oleh seseorang
emanuel agung wicaksono
Seminari menengah Mertoyudan
The Serendipity
Sebuah Refleksi Singkat Proses Formatio di Seminari Mertoyudan
Preambule Singkat
Layaknya sebuah bangunan yang sedang dibangun, saya merasa diriku sedang dibangun di dalam formatio di seminari ini. Enggak terasa ya…, udah hampir empat tahun saya menjalani kehidupan di seminari ini dan kini saya sudah berada di detik-detik akhir kehidupanku di seminari. Rasanya terlalu banyak hal yang berharga yang saya dapatkan di seminari ini untuk saya lewatkan begitu saja. Maka, dari tulisan kecil ini, saya mencoba menggali kembali berbagai hal yang saya dapatkan di seminari ini.
Seminari, Kebetulan dalam Rencana Tuhan
Rasanya terlalu banyak hal kebetulan yang membahagiakan di dalam hidupku ini (serendipity). Salah satunya adalah proses formatio yang telah saya lalui di seminari ini. Mungkin, agak naif kalau saya mengatakan hal ini adalah sebuah kebetulan. Tapi, saya rasa hal ini adalah sebuah kebetulan yang sangat baik bagiku jika saya melihat kembali sejarah hidupku mengapa saya bisa sampai terdampar di seminari ini.
Kehidupanku di seminari ini rasanya adalah sebuah proses pembalikkan kehidupan. Bila saya menilik kembali kehidupanku sebelum masuk seminari, rasanya hidupku jauh diubah melalui berbagai formatio yang saya dapatkan di seminari ini. Saya yakin hal ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Saya percaya Tuhanlah di belakang itu semua. Semua kebetulan yang saya sadari itu tidak lain adalah bagian rencana Tuhan. Saya imani Tuhan selalu memberikan rencana yang terbaik bagiku dan saya harus selalu mensyukurinya. Memang sih, kadang Kebaikan Tuhan itu tidak selalu saya sadari karena kadang saya kurang menyertakan Tuhan di dalam hidupku dan terlalu terfokus pada diriku atau masalahku.
Tuhan, Sang Arsitek Agungku
Bagiku, Tuhan adalah Arsitek yang agung. Ia hendak membangun diriku menjadi pribadi yang baik. Ia mengenal aku bahkan melebihi aku mengenal diriku sendiri. Memang, di dalam diriku masih banyak kelemahan yang terasa menghambat. Tapi, saya punya keyakinan, Tuhan menciptakan aku baik adanya. Maka, saya ingin sekali mempersembahkan hidupku untuk selalu dekat dan menjadi abdi hidupku.
Memang sih, awalnya saya merasa saya adalah orang yang gagal di seminari ini karena saya tidak melanjutkan proses imamatku ke jenjang berikutnya. Untunglah, Seminari masih bermurah hati menyediakan waktu dan perhatiannya padaku sehingga saya masih bisa menikmati berbagai hal yang rasanya sudah bukan hakku lagi dan saya harus mensyukuri hal ini. Rasanya sudah terlalu banyak hal baik yang telah diberikan padaku. Seminari telah membantuku memutuskan panggilan hidupku dan menyadarkan aku atas segala hal yang ada di belakangnya. Saya yakin Tuhan berkarya dibalik semua hal itu dan saya rasa hal itu akan baik bagiku.
Refleksi, Material Berharga bagi Kehidupanku
Saya rasa material yang diberikan di seminari ini adalah material yang terbaik dan dipilihkan secara khusus, tidak sekedar asal comot tapi benar-benar material yang benar-benar berkualitas bagi kehidupan seseorang. Sedikit banyak, saya sudah dapat menimati dampak dari formatio di seminari ini. Salah satu hal yang paling menonjol dari formatio yang berdampak bagiku adalah refleksi.
Refleksi banyak membentukku. Refleksi membantuku menyadari diriku dan
mengenal diriku secara lebih dalam. Refleksi juga mendorong aku untuk selalu memaknai hidup secara lebih positif sekalipun dalam peristiwa-peristiwa yang buruk sehingga meskipun hal buruk terjadi padaku, saya masih bisa melihat hal positif. Hal positif inilah yang memberiku kekuatan untuk menjalani kehidupan selanjutnya
Refleksi mengajakku berduc in altum. Ia mengajari aku bagaimana caranya mamaknai kehidupan sehingga hari-hari yang saya lalui dapat saya petik makna dan makna itu adalah pelajaran yang berharga bagi hidupku. Sejak saya mengenal refleksi, saya jadi lebih bisa melihat hidup sebagai sebuah proses belajar yang terus menerus.
Refleksi membantuku mengolah emosiku. Terus terang, emosiku sangat labil. Bila tidak hati-hati, emosi ini bisa jadi menghambat kehidupanku. Pernah suatu ketika saya merasa benar-benar lumpuh karena saya tidak mampu mengolah emosi. Melalui refleksi inilah, saya mencoba tenang dan mengatur emosiku.
Selain itu, refleksi mengajak saya untuk selalu menyadari banyak hal baik ada dan terjadi di dalam diri saya. Oleh karena itu, saya mencoba selalu bersyukur. Saya percaya, orang yang bersyukur itu adalah orang yang bahagia karena ia akan melihat hidup itu sebagai rahmat. Rahmat itu akan menunjukan peran Tuhan dalam hidup saya sehingga saya tidak perlu khawatir atas apa yang akan terjadi pada diriku karena Tuhan adalah jaminan hidupku.
Refleksi adalah sebuah instrumen yang khas yang dimiliki seminari untuk membantu para seminaris menjadikan hidupnya lebih berisi. Dari refleksi yang saya lakukan, sedikit banyak saya bisa melihat sesuatu secara lebih menyeluruh sehingga membantuku untuk mampu memutuskan berbagai hal di dalam hidupku. Saya harap dan ingin tradisi refleksi menjadi bagian dari kehidupanku selalu sehingga selalu memperkaya diriku di dalam setiap langkah yang kulakukan
Tuhan Tidak Bekerja Sendirian
Ya…, Tuhan tidaklah bekerja sendirian dalam membentukku. Di seminari ini, saya merasakan Tuhan hadir membentukku melalui orang-orang yang saya temui di sekitarku. Para staff khususnya staff kepamongan memberiku saya berbagai hal baru yang saya lihat penting bagi hidupku. Mereka memberiku perhatian secara total dan mau menegurku ketika saya melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan tidak membuahkan hukuman melainkan pengertian.
Saya kira orang tua punya andil yang sangat besar dalam membentuk diriku. Mereka selalu mendukungku dan mencintaiku. Memang sih, kadang saya agak tidak cocok dengan orang tua, tapi hal itu bukanlah sebuah masalah yang besar karena toh di antara perbedaan yang ada itu justru memberikan dinamika yang unik dalam perjalanan hidupku.
Para guru juga saya rasakan sebagai alat Tuhan yang disediakan untuk membentuk diriku. Para guru mengajak saya berpikir secara ilmiah sekaligus mampu merefleksikan segala hal yang telah dipelajari. Jadi, pelajaran yang ada tidak sekedar menjadi teori belaka melainkan bisa diaplikasikan di dalam kehidupan meskipun dalam bentuk yang aslinya misalnya saja sebagai analogi. Di dalam kelas, saya banyak mendapatkan inspirasi yang bisa saya manfaatkan secara lebih jauh. Terus terang, di dalam diriku ada sebuah kekaguman pada guru-guru yang ada di seminari karena mereka total mendampingiku dan selalu sabar mengajariku.
Selain itu, teman-teman sekomunitas baik bawil, kelas, angkatan maupun seminari pun turut mengambil andil yang cukup besar dalam pembentukan diriku. Ya…, rasanya belum pernah saya memiliki teman yang sedekat dan seakrab yang ada di seminari. Saya merasakan seringkali saya dikuatkan dan diteguhkan oleh teman-temanku. Mereka pun bisa idajak berbagi pengalaman dan membantuku menemukan jawaban atas masalah yang saya alami.
Mungkin masih banyak orang yang turut berperan dibelakangku dan selalu membentukku. Mereka adalah orang yang setia memberi perhatian pada proses pembangunan diriku. Tangan Tuhan bekerja melalui mereka dan saya kira saya pun sudah seharusnya saya mensyukurinya.
Hal Kecil Bermakna Besar
Berbagai aktivitas kecil dan sederhana membentukku meskipun kadang hal itu tidak saya sadari. Salah satu contohnya adalah pembuatan buku keuangan. Buku keuangan awalnya terasa sebagai beban dan terasa begitu merepotkan. Namun, setelah saya menyadarinya, saya jadi mengerti buku keuangan membantuku mengatur keuanganku. Mengatur tidaklah sekedar mengatur tapi membantuku menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Saya jadi bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan belaka. Dari buku keuanganlah saya bisa mengetahui prioritas dan prioritas itulah yang menuntunku untuk bertindak. Buku keuangan pula membentukku untuk selalu teliti dan berlaku jujur dalam mengelola keuangan.
Begitu pula dengan opera yang setiap hari saya lakukan di seminari. Opera mengajakku menjadi pribadi yang bertanggungjawab atas peran dan tugasku. Saya diajak untuk selalu total dalam mengerjakan berbagai tugas dan membantuku peka serta inisiatif. Dari sinilah, saya menggali banyak hal khususnya mengenai kepedulian.
Misa harian sekalipun kadang diisi dengan kantukan membantuku hidup dekat dengan Tuhan. Memang sih, dulu pernah sempat ada semacam kejenuhan di dalam misa karena bagaimanapun hal yang rutin bisa mengurangi penghayatan. Tapi, saya coba lihat misa secara lebih dalam lagi. Di sanalah saya bisa berjumpa dengan Tuhan melalui sabda dan kehadirannya di dalam ekaristi. Saya merasakan misa harian memberiku harapan pada Tuhan dan membantuku untuk menyerahkan segala hal yang saya miliki dan saya dapatkan sepenuhnya untuk Tuhan.
Karat yang Menggerogoti Rangka Betonku
Kadang, hidup formatioku di sini tidak selalu berjalan dengan mulus. Beberapa hambatan saya saya temui dan beberapa seringkali tidak saya sadari. Terus terang, ada beberapa poin yang masih menghambat diriku salah satunya adalah sifat keras kepala saya. Ya…, dalam beberapa hal kadang saya suka sekali berkeras kepala. Hal ini membuat saya kadang sulit dibentuk. Apa yang diberikan kepadaku di dalam proses formatio ini kadang tidak selalu sejalan dengan jalan pikiranku. Memang sih, saya sadari apa yang diberikan dalam proses formatioku adalah benar tapi sifatku yang keras kepala kadang begitu mendominasi. Mungkin, sebagian besar pelanggaran yang saya lakukan di seminari ini tidak lepas dari hal seperti ini.
Selain itu, ada semacam kecenderungan di dalam diriku untuk meremehkan. Saya baru menyadari hal ini di kelas XII. Terus terang, dulu saya tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sepertinya, sifat seperti ini akibat dari pengaruh orang-orang yang ada di sekitarku. Kecenderunganku untuk meremehkan itu muncul dan nampak ketika saya sedang belajar. Kadang saya terlalu menyepelekan belajar sehingga tidak jarang saya hanya mendapatkan nilai yang kurang dari yang saya harapkan. Sifat ini rasanya malah menjadi semacam bumerang yang malah menghancurkan diriku. Terus terang, kadang saya menyesali atas hal yang terjadi akibat sifat saya ini. Namun, penyesalan ini hanya sebatas penyesalan belaka tanpa ada tindak lanjut. Sepertinya, mau tidak mau saya harus terus belajar lebih keras untuk bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin, ada baiknya jika mulai sekarang saya sedikit banyak belajar berkomitmen.
Sifatku yang menghambat yang lain adalah mentalku yang mudah down. Ya…, hal ini menyebabkan saya mudah berputus asa. Mungkin, hal ini terjadi karena saya terlalu mementingkan hasil bukan proses. Hasil yang buruk seharusnya bukan menjadi alasan orang untuk putus asa. Tetapi sebaliknya, hasil yang buruk itu ditelisik lebih dalam apa yang menjadi penyebabnya. Seharusnya, saya menikmati setiap proses yang saya lalui tapi karena saya mungkin tidak begitu sabar, saya jadi melewatkan begitu saja proses yang ada. Mungkin, ada baiknya saya harus sedikit agak tenang. Ketidak tenangan yang saya alami bisa jadi membuatku sulit menemukan inti masalah yang saya hadapi.
Satu hal yang tidak kalah kronis adalah mudahnya saya tenggelam di dalam kekhawatiran. Kekhawatiran yang berlebihan ini memunculkan diriku yang mudah sekali panik dan kurang bisa menikmati apa yang saya miliki. Idealisku mungkin terlampau jauh sehingga kadang saya khawatir bila hal itu tidak terwujud. Meditasi sedikit banyak membantuku mengurangi berbagai masalah yang ada di atas. Dalam meditasi saya mencoba menenangkan diriku dan melepas berbagai beban yang ada di kepalaku. Setelah itu, kucoba ajak Tuhan hadir dan aku berusaha menyadarinya. Di dalam ketenangan, saya rasakan kasih Tuhan begitu besar bahkan melebihi berbagai beban yang saya bawa di dalam hidupku. Saya sedikit banyak mulai menyadari bahwa di dalam hidup ini saya tidak berjuang seorang diri saja tetapi selalu ada Tuhan yang hadir menyertai diriku. Sudah semestinya, saya tidak perlu takut akan apapun. Toh Tuhan mengerti akan segala hal yang dihadapi oleh manusia. Kucoba pasrahkan diri dan melepaskannya pada Tuhan. Kutahu Tuhan pasti buka jalan.
Dukungan yang Melancarkan Prosesku
Selama saya berproses di seminari ini, saya banyak sekali menemukan kemudahan sehingga mendukungku untuk terus berproses. Paling enggak, fasilitas yang cukup lengkap seperti perpustakaan membantuku memuaskan hasrat membacaku. Orang-orang di sekitarku pun mau terbuka denganku sehingga saya bisa belajar banyak dari mereka. Selain itu, kecenderungan untuk proaktif cukup banyak membantuku untuk menemukan hal-hal baru.
Selain itu, saya merasa semangat yang ada di dalam diriku cukup banyak mengarahkanku untuk bisa mengerjakan sesuatu secara total. Setiap hari, kucoba melakukan yang terbaik dari diriku. Toh Tuhan telah memberikan banyak hal yang baik maka saya perlu membalasnya.
Kondisi seminari yang kondusif memungkinkanku untuk bisa mengembangkan dan menjadikan diriku menjadi jauh lebih baik. Saya kira kondisi seperti ini sangatlah mendukungku. Ya…, memang awalnya memang kondisi itu memaksaku untuk bisa ikuti ritme yang ada tapi lama-lama saya semakin bisa menikmatinya. Saya rasa paksaan yang ada berupa kondisi yang seperti itu merupakan katalisator untuk mempercepat diriku untuk berubah dan menjadi baik.
Wujudku Kini
Terus terang, saya tidak terlalu berani menyimpulkan diriku seprti apa sekarang. Namun, saya mencoba melihat kembali diriku secara obyektif sesuai keadaanku sekarang. Mungkin, saya bisa diandaikan sebuah rumah yang masih belum jadi namun sudah bisa berdiri di atas pondasi.Saya analogikan pondasi itu adalah segala hal yang saya dapatkan di seminari. Pondasi yang baik akan memberikan kekuatan bangunan yang baik pula. Pondasi adalah dasar dari rumah itu sendiri. Ia adalah peletak dasar rumah. Tanpa pondasi yang baik, tidak akan pernah ada rumah yang bisa berdiri kokoh.
Rasanya, saya lebih cocok mengandaikan diriku sebagai sebuah rumah tumbuh. Maksudnya, rumah itu selalu bertumbuh seiring kemampuan sang pemilik rumah. Andai pemilik rumah itu awalnya adalah seorang karyawan biasa. Dengan gajinya ia hanya bisa membangun rumah sederhana. Namun, rumah sederhana itu sedikit demi sedikit terus tumbuh menjadi bangunan yang indah dan kokoh. Saya kira hidup itu adalah sebuah proses penyempurnaan. Rumah yang sederhana itu mengalami proses penyempurnaan sehingga terciptalah sebuah rumah yang indah. Saya rasa rumah semacam ini lebih dinamis dan mampu menyesuaikan keadaan yang ada sesuai dengan keinginan pemiliknya.
Menurutku, sampai saat ini, dengan modal yang saya terima di seminari, saya rasanya cukup mampu untuk siap hidup di alam yang sederhana. Meskipun begitu, saya masih belum puas dengan apa yang saya capai sekarang. Semoga saya proses yang saya jalani sekarang mampu saya teruskan di luar sana sehingga saya semakin menjadi pribadi yang matang dan berkualitas.
Preambule Singkat
Layaknya sebuah bangunan yang sedang dibangun, saya merasa diriku sedang dibangun di dalam formatio di seminari ini. Enggak terasa ya…, udah hampir empat tahun saya menjalani kehidupan di seminari ini dan kini saya sudah berada di detik-detik akhir kehidupanku di seminari. Rasanya terlalu banyak hal yang berharga yang saya dapatkan di seminari ini untuk saya lewatkan begitu saja. Maka, dari tulisan kecil ini, saya mencoba menggali kembali berbagai hal yang saya dapatkan di seminari ini.
Seminari, Kebetulan dalam Rencana Tuhan
Rasanya terlalu banyak hal kebetulan yang membahagiakan di dalam hidupku ini (serendipity). Salah satunya adalah proses formatio yang telah saya lalui di seminari ini. Mungkin, agak naif kalau saya mengatakan hal ini adalah sebuah kebetulan. Tapi, saya rasa hal ini adalah sebuah kebetulan yang sangat baik bagiku jika saya melihat kembali sejarah hidupku mengapa saya bisa sampai terdampar di seminari ini.
Kehidupanku di seminari ini rasanya adalah sebuah proses pembalikkan kehidupan. Bila saya menilik kembali kehidupanku sebelum masuk seminari, rasanya hidupku jauh diubah melalui berbagai formatio yang saya dapatkan di seminari ini. Saya yakin hal ini bukanlah sebuah kebetulan belaka. Saya percaya Tuhanlah di belakang itu semua. Semua kebetulan yang saya sadari itu tidak lain adalah bagian rencana Tuhan. Saya imani Tuhan selalu memberikan rencana yang terbaik bagiku dan saya harus selalu mensyukurinya. Memang sih, kadang Kebaikan Tuhan itu tidak selalu saya sadari karena kadang saya kurang menyertakan Tuhan di dalam hidupku dan terlalu terfokus pada diriku atau masalahku.
Tuhan, Sang Arsitek Agungku
Bagiku, Tuhan adalah Arsitek yang agung. Ia hendak membangun diriku menjadi pribadi yang baik. Ia mengenal aku bahkan melebihi aku mengenal diriku sendiri. Memang, di dalam diriku masih banyak kelemahan yang terasa menghambat. Tapi, saya punya keyakinan, Tuhan menciptakan aku baik adanya. Maka, saya ingin sekali mempersembahkan hidupku untuk selalu dekat dan menjadi abdi hidupku.
Memang sih, awalnya saya merasa saya adalah orang yang gagal di seminari ini karena saya tidak melanjutkan proses imamatku ke jenjang berikutnya. Untunglah, Seminari masih bermurah hati menyediakan waktu dan perhatiannya padaku sehingga saya masih bisa menikmati berbagai hal yang rasanya sudah bukan hakku lagi dan saya harus mensyukuri hal ini. Rasanya sudah terlalu banyak hal baik yang telah diberikan padaku. Seminari telah membantuku memutuskan panggilan hidupku dan menyadarkan aku atas segala hal yang ada di belakangnya. Saya yakin Tuhan berkarya dibalik semua hal itu dan saya rasa hal itu akan baik bagiku.
Refleksi, Material Berharga bagi Kehidupanku
Saya rasa material yang diberikan di seminari ini adalah material yang terbaik dan dipilihkan secara khusus, tidak sekedar asal comot tapi benar-benar material yang benar-benar berkualitas bagi kehidupan seseorang. Sedikit banyak, saya sudah dapat menimati dampak dari formatio di seminari ini. Salah satu hal yang paling menonjol dari formatio yang berdampak bagiku adalah refleksi.
Refleksi banyak membentukku. Refleksi membantuku menyadari diriku dan
mengenal diriku secara lebih dalam. Refleksi juga mendorong aku untuk selalu memaknai hidup secara lebih positif sekalipun dalam peristiwa-peristiwa yang buruk sehingga meskipun hal buruk terjadi padaku, saya masih bisa melihat hal positif. Hal positif inilah yang memberiku kekuatan untuk menjalani kehidupan selanjutnya
Refleksi mengajakku berduc in altum. Ia mengajari aku bagaimana caranya mamaknai kehidupan sehingga hari-hari yang saya lalui dapat saya petik makna dan makna itu adalah pelajaran yang berharga bagi hidupku. Sejak saya mengenal refleksi, saya jadi lebih bisa melihat hidup sebagai sebuah proses belajar yang terus menerus.
Refleksi membantuku mengolah emosiku. Terus terang, emosiku sangat labil. Bila tidak hati-hati, emosi ini bisa jadi menghambat kehidupanku. Pernah suatu ketika saya merasa benar-benar lumpuh karena saya tidak mampu mengolah emosi. Melalui refleksi inilah, saya mencoba tenang dan mengatur emosiku.
Selain itu, refleksi mengajak saya untuk selalu menyadari banyak hal baik ada dan terjadi di dalam diri saya. Oleh karena itu, saya mencoba selalu bersyukur. Saya percaya, orang yang bersyukur itu adalah orang yang bahagia karena ia akan melihat hidup itu sebagai rahmat. Rahmat itu akan menunjukan peran Tuhan dalam hidup saya sehingga saya tidak perlu khawatir atas apa yang akan terjadi pada diriku karena Tuhan adalah jaminan hidupku.
Refleksi adalah sebuah instrumen yang khas yang dimiliki seminari untuk membantu para seminaris menjadikan hidupnya lebih berisi. Dari refleksi yang saya lakukan, sedikit banyak saya bisa melihat sesuatu secara lebih menyeluruh sehingga membantuku untuk mampu memutuskan berbagai hal di dalam hidupku. Saya harap dan ingin tradisi refleksi menjadi bagian dari kehidupanku selalu sehingga selalu memperkaya diriku di dalam setiap langkah yang kulakukan
Tuhan Tidak Bekerja Sendirian
Ya…, Tuhan tidaklah bekerja sendirian dalam membentukku. Di seminari ini, saya merasakan Tuhan hadir membentukku melalui orang-orang yang saya temui di sekitarku. Para staff khususnya staff kepamongan memberiku saya berbagai hal baru yang saya lihat penting bagi hidupku. Mereka memberiku perhatian secara total dan mau menegurku ketika saya melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan tidak membuahkan hukuman melainkan pengertian.
Saya kira orang tua punya andil yang sangat besar dalam membentuk diriku. Mereka selalu mendukungku dan mencintaiku. Memang sih, kadang saya agak tidak cocok dengan orang tua, tapi hal itu bukanlah sebuah masalah yang besar karena toh di antara perbedaan yang ada itu justru memberikan dinamika yang unik dalam perjalanan hidupku.
Para guru juga saya rasakan sebagai alat Tuhan yang disediakan untuk membentuk diriku. Para guru mengajak saya berpikir secara ilmiah sekaligus mampu merefleksikan segala hal yang telah dipelajari. Jadi, pelajaran yang ada tidak sekedar menjadi teori belaka melainkan bisa diaplikasikan di dalam kehidupan meskipun dalam bentuk yang aslinya misalnya saja sebagai analogi. Di dalam kelas, saya banyak mendapatkan inspirasi yang bisa saya manfaatkan secara lebih jauh. Terus terang, di dalam diriku ada sebuah kekaguman pada guru-guru yang ada di seminari karena mereka total mendampingiku dan selalu sabar mengajariku.
Selain itu, teman-teman sekomunitas baik bawil, kelas, angkatan maupun seminari pun turut mengambil andil yang cukup besar dalam pembentukan diriku. Ya…, rasanya belum pernah saya memiliki teman yang sedekat dan seakrab yang ada di seminari. Saya merasakan seringkali saya dikuatkan dan diteguhkan oleh teman-temanku. Mereka pun bisa idajak berbagi pengalaman dan membantuku menemukan jawaban atas masalah yang saya alami.
Mungkin masih banyak orang yang turut berperan dibelakangku dan selalu membentukku. Mereka adalah orang yang setia memberi perhatian pada proses pembangunan diriku. Tangan Tuhan bekerja melalui mereka dan saya kira saya pun sudah seharusnya saya mensyukurinya.
Hal Kecil Bermakna Besar
Berbagai aktivitas kecil dan sederhana membentukku meskipun kadang hal itu tidak saya sadari. Salah satu contohnya adalah pembuatan buku keuangan. Buku keuangan awalnya terasa sebagai beban dan terasa begitu merepotkan. Namun, setelah saya menyadarinya, saya jadi mengerti buku keuangan membantuku mengatur keuanganku. Mengatur tidaklah sekedar mengatur tapi membantuku menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Saya jadi bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan belaka. Dari buku keuanganlah saya bisa mengetahui prioritas dan prioritas itulah yang menuntunku untuk bertindak. Buku keuangan pula membentukku untuk selalu teliti dan berlaku jujur dalam mengelola keuangan.
Begitu pula dengan opera yang setiap hari saya lakukan di seminari. Opera mengajakku menjadi pribadi yang bertanggungjawab atas peran dan tugasku. Saya diajak untuk selalu total dalam mengerjakan berbagai tugas dan membantuku peka serta inisiatif. Dari sinilah, saya menggali banyak hal khususnya mengenai kepedulian.
Misa harian sekalipun kadang diisi dengan kantukan membantuku hidup dekat dengan Tuhan. Memang sih, dulu pernah sempat ada semacam kejenuhan di dalam misa karena bagaimanapun hal yang rutin bisa mengurangi penghayatan. Tapi, saya coba lihat misa secara lebih dalam lagi. Di sanalah saya bisa berjumpa dengan Tuhan melalui sabda dan kehadirannya di dalam ekaristi. Saya merasakan misa harian memberiku harapan pada Tuhan dan membantuku untuk menyerahkan segala hal yang saya miliki dan saya dapatkan sepenuhnya untuk Tuhan.
Karat yang Menggerogoti Rangka Betonku
Kadang, hidup formatioku di sini tidak selalu berjalan dengan mulus. Beberapa hambatan saya saya temui dan beberapa seringkali tidak saya sadari. Terus terang, ada beberapa poin yang masih menghambat diriku salah satunya adalah sifat keras kepala saya. Ya…, dalam beberapa hal kadang saya suka sekali berkeras kepala. Hal ini membuat saya kadang sulit dibentuk. Apa yang diberikan kepadaku di dalam proses formatio ini kadang tidak selalu sejalan dengan jalan pikiranku. Memang sih, saya sadari apa yang diberikan dalam proses formatioku adalah benar tapi sifatku yang keras kepala kadang begitu mendominasi. Mungkin, sebagian besar pelanggaran yang saya lakukan di seminari ini tidak lepas dari hal seperti ini.
Selain itu, ada semacam kecenderungan di dalam diriku untuk meremehkan. Saya baru menyadari hal ini di kelas XII. Terus terang, dulu saya tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sepertinya, sifat seperti ini akibat dari pengaruh orang-orang yang ada di sekitarku. Kecenderunganku untuk meremehkan itu muncul dan nampak ketika saya sedang belajar. Kadang saya terlalu menyepelekan belajar sehingga tidak jarang saya hanya mendapatkan nilai yang kurang dari yang saya harapkan. Sifat ini rasanya malah menjadi semacam bumerang yang malah menghancurkan diriku. Terus terang, kadang saya menyesali atas hal yang terjadi akibat sifat saya ini. Namun, penyesalan ini hanya sebatas penyesalan belaka tanpa ada tindak lanjut. Sepertinya, mau tidak mau saya harus terus belajar lebih keras untuk bisa mengendalikan diriku sendiri. Mungkin, ada baiknya jika mulai sekarang saya sedikit banyak belajar berkomitmen.
Sifatku yang menghambat yang lain adalah mentalku yang mudah down. Ya…, hal ini menyebabkan saya mudah berputus asa. Mungkin, hal ini terjadi karena saya terlalu mementingkan hasil bukan proses. Hasil yang buruk seharusnya bukan menjadi alasan orang untuk putus asa. Tetapi sebaliknya, hasil yang buruk itu ditelisik lebih dalam apa yang menjadi penyebabnya. Seharusnya, saya menikmati setiap proses yang saya lalui tapi karena saya mungkin tidak begitu sabar, saya jadi melewatkan begitu saja proses yang ada. Mungkin, ada baiknya saya harus sedikit agak tenang. Ketidak tenangan yang saya alami bisa jadi membuatku sulit menemukan inti masalah yang saya hadapi.
Satu hal yang tidak kalah kronis adalah mudahnya saya tenggelam di dalam kekhawatiran. Kekhawatiran yang berlebihan ini memunculkan diriku yang mudah sekali panik dan kurang bisa menikmati apa yang saya miliki. Idealisku mungkin terlampau jauh sehingga kadang saya khawatir bila hal itu tidak terwujud. Meditasi sedikit banyak membantuku mengurangi berbagai masalah yang ada di atas. Dalam meditasi saya mencoba menenangkan diriku dan melepas berbagai beban yang ada di kepalaku. Setelah itu, kucoba ajak Tuhan hadir dan aku berusaha menyadarinya. Di dalam ketenangan, saya rasakan kasih Tuhan begitu besar bahkan melebihi berbagai beban yang saya bawa di dalam hidupku. Saya sedikit banyak mulai menyadari bahwa di dalam hidup ini saya tidak berjuang seorang diri saja tetapi selalu ada Tuhan yang hadir menyertai diriku. Sudah semestinya, saya tidak perlu takut akan apapun. Toh Tuhan mengerti akan segala hal yang dihadapi oleh manusia. Kucoba pasrahkan diri dan melepaskannya pada Tuhan. Kutahu Tuhan pasti buka jalan.
Dukungan yang Melancarkan Prosesku
Selama saya berproses di seminari ini, saya banyak sekali menemukan kemudahan sehingga mendukungku untuk terus berproses. Paling enggak, fasilitas yang cukup lengkap seperti perpustakaan membantuku memuaskan hasrat membacaku. Orang-orang di sekitarku pun mau terbuka denganku sehingga saya bisa belajar banyak dari mereka. Selain itu, kecenderungan untuk proaktif cukup banyak membantuku untuk menemukan hal-hal baru.
Selain itu, saya merasa semangat yang ada di dalam diriku cukup banyak mengarahkanku untuk bisa mengerjakan sesuatu secara total. Setiap hari, kucoba melakukan yang terbaik dari diriku. Toh Tuhan telah memberikan banyak hal yang baik maka saya perlu membalasnya.
Kondisi seminari yang kondusif memungkinkanku untuk bisa mengembangkan dan menjadikan diriku menjadi jauh lebih baik. Saya kira kondisi seperti ini sangatlah mendukungku. Ya…, memang awalnya memang kondisi itu memaksaku untuk bisa ikuti ritme yang ada tapi lama-lama saya semakin bisa menikmatinya. Saya rasa paksaan yang ada berupa kondisi yang seperti itu merupakan katalisator untuk mempercepat diriku untuk berubah dan menjadi baik.
Wujudku Kini
Terus terang, saya tidak terlalu berani menyimpulkan diriku seprti apa sekarang. Namun, saya mencoba melihat kembali diriku secara obyektif sesuai keadaanku sekarang. Mungkin, saya bisa diandaikan sebuah rumah yang masih belum jadi namun sudah bisa berdiri di atas pondasi.Saya analogikan pondasi itu adalah segala hal yang saya dapatkan di seminari. Pondasi yang baik akan memberikan kekuatan bangunan yang baik pula. Pondasi adalah dasar dari rumah itu sendiri. Ia adalah peletak dasar rumah. Tanpa pondasi yang baik, tidak akan pernah ada rumah yang bisa berdiri kokoh.
Rasanya, saya lebih cocok mengandaikan diriku sebagai sebuah rumah tumbuh. Maksudnya, rumah itu selalu bertumbuh seiring kemampuan sang pemilik rumah. Andai pemilik rumah itu awalnya adalah seorang karyawan biasa. Dengan gajinya ia hanya bisa membangun rumah sederhana. Namun, rumah sederhana itu sedikit demi sedikit terus tumbuh menjadi bangunan yang indah dan kokoh. Saya kira hidup itu adalah sebuah proses penyempurnaan. Rumah yang sederhana itu mengalami proses penyempurnaan sehingga terciptalah sebuah rumah yang indah. Saya rasa rumah semacam ini lebih dinamis dan mampu menyesuaikan keadaan yang ada sesuai dengan keinginan pemiliknya.
Menurutku, sampai saat ini, dengan modal yang saya terima di seminari, saya rasanya cukup mampu untuk siap hidup di alam yang sederhana. Meskipun begitu, saya masih belum puas dengan apa yang saya capai sekarang. Semoga saya proses yang saya jalani sekarang mampu saya teruskan di luar sana sehingga saya semakin menjadi pribadi yang matang dan berkualitas.
SMS from Jesus: Hal Kekuatiran
Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum.
Janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?
Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung
namun, diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada hidupnya?
Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian?
Perhatikanlah bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
Namun, Aku berkata padamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, Hai kamu yang kurang percaya?
Sebab itu, janganlah kuatir dan berkata apakah yang akan kami makan, minum, dan pakai?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Sebab itu, Janganlah kamu kuatir akan hari esok,
karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari
Janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.
Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?
Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung
namun, diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada hidupnya?
Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian?
Perhatikanlah bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
Namun, Aku berkata padamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, Hai kamu yang kurang percaya?
Sebab itu, janganlah kuatir dan berkata apakah yang akan kami makan, minum, dan pakai?
Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi, carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Sebab itu, Janganlah kamu kuatir akan hari esok,
karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari
Belajar dari Seekor Domba (Mzm 23)
Sang kala adalah musuh yang tidak akan pernah bisa dikalahkan. Detik-detik yang teruntai menjadi hari-hari yang telah dimakannya secara rakus tidak akan pernah bisa dimuntahkan kembali walaupun hanya sekedar membuang sisa makanan yang terselip di giginya. Disadari atau tidak, setiap orang selalu berlari untuk berlomba dengan waktu untuk mewujudkan mimpinya sebelum waktu itu dilahap habis oleh sang kala.
Ketakutan akan sang kala inilah kadang memenuhi pikiranku. Masa depan dengan segala ketidakpastiannya adalah rangkaian ketakutan yang diumbar oleh sang kala. Bisa saja, kini hidupku hanya diisi dengan bersenang-senang tapi bukanlah mustahil besok hari kehidupanku dijungkirbalikan dan hanya berkubang di antara kegagalan.
Teng… teng…teng
Suara lonceng angelus menggema mengisi keheningan Lereng Merapi sore itu. Dentang lonceng itu seakan memanggilku untuk segera sadar dari lamunan. Tidak lama kemudian terdengan samar suara adzan maghrib yang berkumandang dari loud speaker tua di mesjid yang menaranya tersembul di antara himpitan rumah-rumah joglo berdinding gedheg. Seorang anak usia tanggung yang sedang asyik menggembalakan domba-dombanya dirimbunnya rumput yang tumbuh liar di antara nisan dan kijing pun terpanggil untuk segera pulang untuk berbuka puasa. Dengan tongkatnya, ia menggiring domba-domba yang bulunya tidak lagi putih berbalut debu pasir menuju kandang yang tidak begitu jauh jaraknya
Bagi 30-an domba-domba itu, gembala itu adalah sebuah jaminan Tuhan akan kehidupannya. Setelah para domba itu tidak bisa lagi menikmati bebasnya menjadi domba liar yang berkeliaran di hutan seperti nenek moyangnya dulu, para domba itu hanya bisa memasrahkan diri pada gembalanya. Meskipun begitu, mereka masih bisa dengan bebasnya mengunyah rumput secara tenang tanpa risau hewan pemangsa akan menerkam mereka sebab gembala itu pasti melindungi mereka. Segala kebutuhan sebagai domba itu selalu dipenuhi oleh gembalanya. Makanan dan minuman selalu melimpah ruah jika berada di sisinya. Itulah kepastian yang diberikan kepada para domba.
Saya merasa iri pada para domba itu. Andai dalam hidup ini, saya memiliki gembala yang selalu menjamin kehidupanku, mungkin kini ketakutan tidak akan pernah datang menyapaku. Kini saya butuh seseorang yang bisa menjamin hidupku tapi saya tidak tahu kepada siapa saya bisa memasrahkan kehidupanku seperti seekor domba pada gembalanya.
Sejenak saya coba mengambil nafas dalam. Aliran udara masuk kedalam saluran pernafasan dan terasa menyegarkan diriku. Kesegaran udara ini memaksaku berpikir siapa ya yang memberiku oksigen, kebutuhan primer kehidupan. Saya yakin ini adalah rahmat Tuhan, gembala sejatiku. Rahmatnya selalu ada namun kurang begitu saya sadari. Belenggu rutinitas membutakan saya akan kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma hanya dipandang sebagai hal yang biasa sehingga tidak menjadi istimewa. Sekarang, Kemampuanku bersyukur seakan diragukan oleh saya sendiri.
Bila saya putar kembali rekamanan ingatanku, Tuhan baru saya ingat ketika kita menghadapi masalah. Masalah datang dan kitapun cuma bisa merengek-rengek pada Tuhan minta pertolongan seperti seorang anak kecil. Di tengah kegembiraan, Tuhan dilupakan dan hilang tenggelam dibalik keangkuhan kita. Sebuah ironi yang sebenarnya hanya mengolok-olok diriku sendiri. Kerap kali kita hanya memandang masalah hanya dari kulit luarnya saja. Terlalu terfokus pada masalah membuaiku untuk melupakan inti dari setiap masalah itu sendiri. Bila disadari, masalah adalah bumbu kehidupan. Di dalam masalah, Sang Gembala sejati hadir untuk membentuk kita meskipun kita merasakan ketidaknyamanan akibat dari masalah.
Karena Tuhan adalah gembalaku, sudah sepantasnya saya tidak perlu cemas akan kehidupan ini sebab sekalipun saya berjalan di lembah kekelaman, Tuhan pasti akan menyertai dan membimbingku. Bagaikan seorang gembala, Ia selalu menggiring domba-dombanya untuk mencapai keselamatan. Dalam keyakinanku tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan meskipun kita berada pada titik dimana kita merasa sama sekali tidak berdaya sebab Tuhan pastilah selalu menyediakan jalan dan tidak akan pernah membiarkanku berjuang sendirian. Rasa aman dibalik perlindungannya itu adalah harapan sekaligus penghiburan bagiku.
Gembala yang baik pastilah mengenal setiap dombanya dan selalu menempatkan setiap dombanya di setiap tempat istimewa. Dengan urapan rahmatnya yang melimpah, Tuhan selalu menyediakan diri untuk memenuhi setiap kebutuhan kita bahkan sebelum kita memintanya. Maka, pada dasarnya, hanya kebaikan dan kebaikanlah yang Tuhan berikan pada kita seperti aliran sungai yang tidak pernah kering dan memberi kehidupan bagi segala sesuatu di sekitarnya. Oleh karena itu, saya tidak perlu cemas akan masa depan dan sudah seharusnya kita selalu mengikutsertakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita karena Ia adalah Gembala yang baik. Deo Gratias…!
Ketakutan akan sang kala inilah kadang memenuhi pikiranku. Masa depan dengan segala ketidakpastiannya adalah rangkaian ketakutan yang diumbar oleh sang kala. Bisa saja, kini hidupku hanya diisi dengan bersenang-senang tapi bukanlah mustahil besok hari kehidupanku dijungkirbalikan dan hanya berkubang di antara kegagalan.
Teng… teng…teng
Suara lonceng angelus menggema mengisi keheningan Lereng Merapi sore itu. Dentang lonceng itu seakan memanggilku untuk segera sadar dari lamunan. Tidak lama kemudian terdengan samar suara adzan maghrib yang berkumandang dari loud speaker tua di mesjid yang menaranya tersembul di antara himpitan rumah-rumah joglo berdinding gedheg. Seorang anak usia tanggung yang sedang asyik menggembalakan domba-dombanya dirimbunnya rumput yang tumbuh liar di antara nisan dan kijing pun terpanggil untuk segera pulang untuk berbuka puasa. Dengan tongkatnya, ia menggiring domba-domba yang bulunya tidak lagi putih berbalut debu pasir menuju kandang yang tidak begitu jauh jaraknya
Bagi 30-an domba-domba itu, gembala itu adalah sebuah jaminan Tuhan akan kehidupannya. Setelah para domba itu tidak bisa lagi menikmati bebasnya menjadi domba liar yang berkeliaran di hutan seperti nenek moyangnya dulu, para domba itu hanya bisa memasrahkan diri pada gembalanya. Meskipun begitu, mereka masih bisa dengan bebasnya mengunyah rumput secara tenang tanpa risau hewan pemangsa akan menerkam mereka sebab gembala itu pasti melindungi mereka. Segala kebutuhan sebagai domba itu selalu dipenuhi oleh gembalanya. Makanan dan minuman selalu melimpah ruah jika berada di sisinya. Itulah kepastian yang diberikan kepada para domba.
Saya merasa iri pada para domba itu. Andai dalam hidup ini, saya memiliki gembala yang selalu menjamin kehidupanku, mungkin kini ketakutan tidak akan pernah datang menyapaku. Kini saya butuh seseorang yang bisa menjamin hidupku tapi saya tidak tahu kepada siapa saya bisa memasrahkan kehidupanku seperti seekor domba pada gembalanya.
Sejenak saya coba mengambil nafas dalam. Aliran udara masuk kedalam saluran pernafasan dan terasa menyegarkan diriku. Kesegaran udara ini memaksaku berpikir siapa ya yang memberiku oksigen, kebutuhan primer kehidupan. Saya yakin ini adalah rahmat Tuhan, gembala sejatiku. Rahmatnya selalu ada namun kurang begitu saya sadari. Belenggu rutinitas membutakan saya akan kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma hanya dipandang sebagai hal yang biasa sehingga tidak menjadi istimewa. Sekarang, Kemampuanku bersyukur seakan diragukan oleh saya sendiri.
Bila saya putar kembali rekamanan ingatanku, Tuhan baru saya ingat ketika kita menghadapi masalah. Masalah datang dan kitapun cuma bisa merengek-rengek pada Tuhan minta pertolongan seperti seorang anak kecil. Di tengah kegembiraan, Tuhan dilupakan dan hilang tenggelam dibalik keangkuhan kita. Sebuah ironi yang sebenarnya hanya mengolok-olok diriku sendiri. Kerap kali kita hanya memandang masalah hanya dari kulit luarnya saja. Terlalu terfokus pada masalah membuaiku untuk melupakan inti dari setiap masalah itu sendiri. Bila disadari, masalah adalah bumbu kehidupan. Di dalam masalah, Sang Gembala sejati hadir untuk membentuk kita meskipun kita merasakan ketidaknyamanan akibat dari masalah.
Karena Tuhan adalah gembalaku, sudah sepantasnya saya tidak perlu cemas akan kehidupan ini sebab sekalipun saya berjalan di lembah kekelaman, Tuhan pasti akan menyertai dan membimbingku. Bagaikan seorang gembala, Ia selalu menggiring domba-dombanya untuk mencapai keselamatan. Dalam keyakinanku tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan meskipun kita berada pada titik dimana kita merasa sama sekali tidak berdaya sebab Tuhan pastilah selalu menyediakan jalan dan tidak akan pernah membiarkanku berjuang sendirian. Rasa aman dibalik perlindungannya itu adalah harapan sekaligus penghiburan bagiku.
Gembala yang baik pastilah mengenal setiap dombanya dan selalu menempatkan setiap dombanya di setiap tempat istimewa. Dengan urapan rahmatnya yang melimpah, Tuhan selalu menyediakan diri untuk memenuhi setiap kebutuhan kita bahkan sebelum kita memintanya. Maka, pada dasarnya, hanya kebaikan dan kebaikanlah yang Tuhan berikan pada kita seperti aliran sungai yang tidak pernah kering dan memberi kehidupan bagi segala sesuatu di sekitarnya. Oleh karena itu, saya tidak perlu cemas akan masa depan dan sudah seharusnya kita selalu mengikutsertakan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita karena Ia adalah Gembala yang baik. Deo Gratias…!
UAN yang Mencerahkan
Rasanya, UN telah menjadi momok tersendiri bagiku. Mungkin hal yang sama pun terjadi pada teman-teman lain kelas XII. Kenaikan jumlah pelajaran ditambah kenaikan standar kelulusan agaknya membuatku sedikit takut untuk menghadapinya. Untunglah, ujian itu telah berlalu. Namun, UN bukanlah sekedar UN, sebab di dalamnya terdapat banyak sekali pelajaran hidup yang bisa saya dapatkan.
Terus terang, sejak awal, saya adalah orang yang paling menentang adanya UN. Bagaimana tidak, masak perjuangan kami belajar hanya ditentukan dalam tiga hari yang masing-masing pelajaran Cuma dikasih waktu 2 jam. Rasanya sangat tidak sebanding. Bagiku, nilai UN sama sekali tidak bisa menjadi tolak ukur belajar di SMA dan tidak memrepresentasi makna belajar yang sesungguhnya.
Tapi mau bagaimana lagi, segala hal telah diputuskan oleh pemerintah lewat Permendiknas entah nomor berapa. Cuma satu hal yang bisa saya lakukan yakni menghadapinya. Saya menganalogikan UN ini dengan arena peperangan yang butuh berbagai persiapan baik mental, fisik, dan tentunya logistik agar segala hal berjalan sesuai dengan rencana. Untuk menghadapi UN ini, agaknya sudah saya siapkan sejak awal kali saya menjejakkan kaki di kelasXII dan menjadi sangat intensif ketika memasuki semester II. Di awal tahun, saya merelakan seharian berjalan-jalan ke toko hanya sekedar mencari amunisi yakni soal-soal dan intisari pelajaran yang merangkum berbagai cara cepat yang bisa diaplikasikan di dalam ujian.
Saya merasa kelemahan terbesarku terletak pada mentalku. Memang sih, banyak orang mengatakan saya adalah orang yang berdaya juang tinggi dan hal itu tidak bisa saya pungkiri. Namun, kerapkali, diriku selalu dipenuhi dengan perasaan takut sehingga membuatku tidak leluasa melakukan apapun. Ketakutan dan kecemasan serasa mengerdilkan diriku. Ketakutan itu muncul ketika melihat setumpuk bahan di atas meja yang harus saya “habisi”. Untuk mengatasi rasa takut itu, kucoba mencicil bahan dan mengklasifikasikan bahan sesuai dengan kisi-kisi ujian. Beban di mentalku agaknya semakin berat ketika saya telah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju imamat. Hal itu berarti saya nanti mesti berjuang mencari kuliah dan tetek bengek di belakangnya. Terasa banget hidup itu telah saya jadikan beban. Ingin sekali saya berteriak,”Tidak..........................!”
Saya rasakan ketakutan ini mungkin berpangkal pada ketakutanku pada masa depan. Rasanya hidup ini kok abotz banget ya. Setelah saya renungi, saya sadari kecemasan semacam itu tidak ada artinya. Toh ketakutan tidak akan pernah mengubah keadaan. Maka, kucoba lihat hidup ini secara lebih realistis. Hidup itu kan penuh dengan masalah. Tapi, saya percaya semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Kecederungan belajar macam ini membuat diriku jadi egois dan berusaha memforsir seluruh energi yang ada di dalam diriku untuk belajar. Memang sih, hal ini sedikit banyak membantuku menghilangkan rasa takutku. Namun, tetap saja diriku masih diliputi oleh rasa takut. Karena begitu takutnya, kadang saya berusaha memendamnya dan memaksakan belajarku sedemikian rupa. Hal itu tidak membuatku tenang, bahkan menjadikan UN sebagai pusat hidupku. Segala sesuatu yang saya pikirkan tertuju pada satu titik yakni UN. Bahkan, kadang saya memberanikan diri mengkorupsi jam rohani untuk terus belajar demi menghabiskan bahan. Dalam pikiranku, semakin banyak bahan yang saya habiskan dan saya lahap akan semakin tenanglah hatiku. Tapi, hal itu malah membuatku tertekan dan untuk sementara waktu diriku jadi lebih sensitif dan mudah sekali marah.
Berbagai kecemasan yang ada secara tidak saya sadari membuat diriku mencari pelarian. Pelarian itu bisa berupa main PS, makan di Mbak Tami meskipun perut sudah kenyang bahkan sampai masturbasi meskipun intensitasnya tidak berlebihan.
Bermodalkan buku Secret, kucoba membuat diriku yakin atas kemampuan yang ada di dalam diri. Toh, semua bahan yang akan diujiankan telah saya pelajari selama tiga tahun dan kini cuma sekedar mengulang. Awalnya, saya agak tergila-gila dengan isi buku ini. Kucoba mensugesti diriku. Namun, tetap saja hal ini sama sekali tidak membuatku tenang. Baru di halaman pertengahan buku ini, saya temukan sebuah kunci ketenangan yakni bersyukur. Bermodalkan mantra:” saya bahagia dan bersyukur,................”,kucoba melihat kehidupanku secara lebih dalam.
Baru setelah beberapa waktu, akhirnya, saya sadari ketakutan yang ada di dalam diriku muncul karena saya tidak menyertakan dan menyadari penyertaan Tuhan di dalam perjuanganku. Kucari bahan yang cocok untuk memeditasikan kebaikan Tuhan dan saya temukan hal itu di dalam Mazmur Tuhan adalah gembalaku dan perikop dalam Matius mengenai Hal Kekhawatiran. Memang sih, hal ini tidak langsung manjur dan berefek seketika. Namun, terjadi perubahan yang signifikan di dalam diriku dalam hal ketenangan. Ketenangan adalah kunci awal sebuah kesuksesan. Semakin kita tenang berarti semakin kita jernih pikiran kita sehingga bisa merespon segala sesuatu yang ada di dalam pikiran kita jauh lebih baik.
Meskipun beberapa hasil try out yang dilakukan untuk mempersiapkan UN tidak begitu baik. Namun, dengan bersyukur, hidup ini lebih terasa jauh lebih ringan. Nilai terburuk try outku adalah 4,25. Nyaris mendekati batas kelulusan. Meski awalnya sedih, tapi kucoba tetap bersyukur dan memaknainya. Paling enggak, 42,5 % dari pelajaran sudah saya kuasai. Alhamdulilah..., kini adalah waktunya untuk mengejar dan menguasai 57,5%.
Dari peristiwa UN ini, saya jadi lebih mengenal diriku sendiri. Saya jadi sadar bahwa saya ini adalah orang yang mudah panik. Ari adalah salah satu orang yang menyadarkan aku mengenai hal itu. Ia mengamati dan menganalisis diriku tanpa saya ketahui. Bila saya panik, saya menampakan penampakan fisik yang berbeda dengan titik keringat yang mulai muncul di hidung dan bibir menjadi lebih pucat dan kering. Kalau sudah begini gejalanya, saya jadi lebih mudah mutung dan bisa ngloyor begitu saja ketika belajar bersama.
Kepanikanku bisa dipicu oleh beberapa hal. Kondisi belajar yang ribut dan membuatku kesulitan konsentrasi adalah salah satunya. Faktor lain yang saya sadari adalah ketika saya kesulitan mengerjakan sesuatu soal dan ketika bertanya pada orang lain yang saya anggap mengerti tidak menggubrisku. Atau...,ketika belajar bersama, teman-teman yang saya ajak belajar malah sibuk berdebat sendiri tanpa menghiraukan aku. Ketika panik itulah diriku serasatak berdaya dan mentalku menjadi down. Hak ini jadi nampak ironis jika saya membandingkan hasil tes kepribadianku yang menyatakan saya adalah orang koleris yang memiliki kekuatan mental baja.
Ya..., mungkin diriku terlalu banyak menuntut orang lain sesuai dengan keinginanku. Padahal, kalau dilihat lebih dalam saya tidak mau dituntuti macam-macam oleh orang lain. Mungkin, diriku terlalu egois dan sombong untuk mengakui hal itu. Mungkin juga karena saya terlalu mengangap diriku terlalu superior sehingga segala kemauanku harus segera terlaksana. Ya..., kehidupan emosiku memang agak labil bahkan sangat labil. Emosi terlalu mengambil peran penting dalam hidupku sehingga malah hal itu menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
Sebetulnya, rasa takut dan cemas itu adalah wajar dan sangat manusiawi. Kedua perasaan itu adalah sebuah mekanisme yang ada di dalam diri kita agar kita menjadi lebih waspada. Namun, bila berlebihan, rasa takut malah justru membuat kita menjadi tak bisa melakukan apa-apa. Rasa takut yang terolah dengan baik malah bisa menjadi mesin pendorong yang positif dalam hidupku dan hal itulah yang saya rasakan kini.
Saya sadari di seminari ini saya agak kurang bisa leluasa memanfaatkan waktu dengan baik. Di seminari yang memiliki pola asrama, kadang kepentingan pribadi harus mengalah pada ritme hidup asrama yang ketat. Hal itu belum termasuk seabrek tugas yang sudah menumpuk dan menanti untuk dikerjakan seperti persiapan HOT. Awalnya, saya agak merasa kekurangan waktu belajar di seminari. Kadang, saya merasa iri pada adik perempuanku yang setiap hari bisa leluasa belajar sampai pukul 23.30 dan ayahku sampai kelelahan menemaninya belajar. Tapi, saya mengerti di seminari ini, saya diajak untuk lebih proprosional dalam hidup. Belajar memang hal yang penting. Namun, belajar bukanlah satu-satunya hal yang penting dalam hidup karena manusia adalah makhluk multi dimensi. Bagaimanapun juga dimensi kehidupan yang lain selain intelektual pun mesti dikembangkan. Seperti perkataan Romo Rektor, “ jadilah pribadi yang holistik dan integral”.
Selama persiapan UN, waktu rasanya menjadi sangat berharga. Sedikit demi sedikit kucoba ubah kebiasaanku yang suka buang-buang waktu dengan sibuk pada hal-hal yang tidak penting. Sedikit banyak, kucoba tiru cara kerja Aven dalam mengelola waktu. Saya anggap Aven adalah orang yang begitu efektif menggunakan waktu. Ternyata, kuncinya terletak pada perencanaan. Perencanaan yang detil itulah yang membuat ia sukses menggunakan waktu. Jelaslah..., hal baik seperti ini perlu saya adopsi dan saya harap hal ini menjadi habitusku. Toh, setiap orang diberi modal yang sama yakni 24 jam selama satu hari. Tapi..., kenapa ya..., ada orang yang sukses tapi di sisi lain ada yang tidak sukses. Kucoba memaknai kesuksesan ini tergantung bagaimana seseorang memberdayakan waktunya secara baik dan efektif. Kucoba telisik berbagai rencana hidupku dan memadukannya sesuai prioritas.
Mungkin, memang tugasku di luar studi luar biasa banyaknya. Namun, bagaimanapun saya harus belajar profesional dengan tugas-tugas yang ada di pundak saya seperti kebidelan atau kepanitian. Di sini saya belajar totalitas. Saya diajak untuk selalu fokus akan hal yang saya lakukan dan mencoba melakukan yang terbaik dengan pola pikiran toh Tuhan telah begitu baik kepadaku, so.., apa yang bisa saya buat untuk-Nya. Saya berusaha mempersembahkan yang terbaik dari apa yang lakukan meskipun kadang di satu sisi kemalasan masih menghantuiku.
Percaya atau enggak, selama UN ini saya sedang terjangkit gila-gilanya mencari rumus cepat. Memang sih rumus cepat terbukti sangat efektif dalam mengerjakan ujian seperti ini. Tapi, pernah Bu Esthi memperingatkan saya bahwa rumus-rumus semacam itu hanya boleh dipakai kalau seseorang telah menguasai bahan yang ada dengan sungguh. Awalnya saya tidak terlalu memikirkan perkataan ini. Tapi, selama saya aktif berburu dan memakai rumus semacam itu, saya malah jadi merasa tidak berkembang.
Bahan yang saya pelajari sama sekali tidak “Duc in Altum” dengan kecenderungan belajarku hanya sekedar mencari nilai. Padahal, saya tahu bahwa non scholae sed vitae discimus. Pola semacam ini agaknya hanya akan mereduksi tujuan dan hakekat belajar itu sendiri. Maka, selain cari rumus cepat yang menurut saya penting karena soal mengutamakan kecepatan dan ketepatan, saya juga sedikit demi sedikit memperdalam bahan yang ada. Untunglah hal ini saya lakukan sebab rumus-rumus cepat semacam ini sama sekali tidak bisa diaplikasikan dan kembali rumus konvensionallah satu-satunya yang bisa dijadikan andalan.
Terus terang, selama persiapan UN ini diriku tidak bisa dipisahkan dari Ari. Saya sadari diriku adalah orang yang sulit mengerti mendalami suatu bahan. Ari saya rasakan sebagai katalisatorku dalam belajar meskipun saya agak takut nantinya malah saya jadi tergantung kepada orang lain dalam belajar. Tentunya, saya belajar tidak selalu ekslusif bersama Ari semata, banyak sekali teman-teman yang mau membantuku dan rela direpotkan olehku. Memang, awalnya agak berat ketika harus bertanya pada orang lain, rasa-rasanya saya terlalu tinggi hati untuk mengakui bahwa diriku itu kadang juga tidak bisa mudah mengerti. Dibutuhkan kerendahan hati, hanya sekedar untuk bertanya dan itupun saya rasakan sebagai sebuah perjuangan tersendiri.
Sebagai seorang anggota perantauan, semangat belajarku agak tergenjot jika saya mengingat diriku adalah seorang bersekolah jauh dari tempat tinggalnya. Dalam hal ini, saya jadi sadar, toh pengorbanan ini demi mengejar sesuatu yang bernilai sehingga bagaimanapun saya harus berjuang keras. Di sisi lain pun kadang diriku berpikir” Ngapain jauh-jauh sekolah cuma dapet nilai 6”. Hal semacam inilah yang membuatku terpacu dalam belajar.
Selama menjelang UN ini, rasanya banyak sekali godaan yang datang yang mengganggu persiapanku. Awalnya, diriku memang sedikit kompromistis. Tapi, saya sadari hal ini tidak akan pernah mengembangkan diriku. Saya tidak mau kecewa dan menyesal di kemudian hari atas apa yang saya lakukan sekarang. Maka,kucoba belajar memegang prinsip.
Terus terang, sejak awal, saya adalah orang yang paling menentang adanya UN. Bagaimana tidak, masak perjuangan kami belajar hanya ditentukan dalam tiga hari yang masing-masing pelajaran Cuma dikasih waktu 2 jam. Rasanya sangat tidak sebanding. Bagiku, nilai UN sama sekali tidak bisa menjadi tolak ukur belajar di SMA dan tidak memrepresentasi makna belajar yang sesungguhnya.
Tapi mau bagaimana lagi, segala hal telah diputuskan oleh pemerintah lewat Permendiknas entah nomor berapa. Cuma satu hal yang bisa saya lakukan yakni menghadapinya. Saya menganalogikan UN ini dengan arena peperangan yang butuh berbagai persiapan baik mental, fisik, dan tentunya logistik agar segala hal berjalan sesuai dengan rencana. Untuk menghadapi UN ini, agaknya sudah saya siapkan sejak awal kali saya menjejakkan kaki di kelasXII dan menjadi sangat intensif ketika memasuki semester II. Di awal tahun, saya merelakan seharian berjalan-jalan ke toko hanya sekedar mencari amunisi yakni soal-soal dan intisari pelajaran yang merangkum berbagai cara cepat yang bisa diaplikasikan di dalam ujian.
Saya merasa kelemahan terbesarku terletak pada mentalku. Memang sih, banyak orang mengatakan saya adalah orang yang berdaya juang tinggi dan hal itu tidak bisa saya pungkiri. Namun, kerapkali, diriku selalu dipenuhi dengan perasaan takut sehingga membuatku tidak leluasa melakukan apapun. Ketakutan dan kecemasan serasa mengerdilkan diriku. Ketakutan itu muncul ketika melihat setumpuk bahan di atas meja yang harus saya “habisi”. Untuk mengatasi rasa takut itu, kucoba mencicil bahan dan mengklasifikasikan bahan sesuai dengan kisi-kisi ujian. Beban di mentalku agaknya semakin berat ketika saya telah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju imamat. Hal itu berarti saya nanti mesti berjuang mencari kuliah dan tetek bengek di belakangnya. Terasa banget hidup itu telah saya jadikan beban. Ingin sekali saya berteriak,”Tidak..........................!”
Saya rasakan ketakutan ini mungkin berpangkal pada ketakutanku pada masa depan. Rasanya hidup ini kok abotz banget ya. Setelah saya renungi, saya sadari kecemasan semacam itu tidak ada artinya. Toh ketakutan tidak akan pernah mengubah keadaan. Maka, kucoba lihat hidup ini secara lebih realistis. Hidup itu kan penuh dengan masalah. Tapi, saya percaya semua masalah pasti ada jalan keluarnya.
Kecederungan belajar macam ini membuat diriku jadi egois dan berusaha memforsir seluruh energi yang ada di dalam diriku untuk belajar. Memang sih, hal ini sedikit banyak membantuku menghilangkan rasa takutku. Namun, tetap saja diriku masih diliputi oleh rasa takut. Karena begitu takutnya, kadang saya berusaha memendamnya dan memaksakan belajarku sedemikian rupa. Hal itu tidak membuatku tenang, bahkan menjadikan UN sebagai pusat hidupku. Segala sesuatu yang saya pikirkan tertuju pada satu titik yakni UN. Bahkan, kadang saya memberanikan diri mengkorupsi jam rohani untuk terus belajar demi menghabiskan bahan. Dalam pikiranku, semakin banyak bahan yang saya habiskan dan saya lahap akan semakin tenanglah hatiku. Tapi, hal itu malah membuatku tertekan dan untuk sementara waktu diriku jadi lebih sensitif dan mudah sekali marah.
Berbagai kecemasan yang ada secara tidak saya sadari membuat diriku mencari pelarian. Pelarian itu bisa berupa main PS, makan di Mbak Tami meskipun perut sudah kenyang bahkan sampai masturbasi meskipun intensitasnya tidak berlebihan.
Bermodalkan buku Secret, kucoba membuat diriku yakin atas kemampuan yang ada di dalam diri. Toh, semua bahan yang akan diujiankan telah saya pelajari selama tiga tahun dan kini cuma sekedar mengulang. Awalnya, saya agak tergila-gila dengan isi buku ini. Kucoba mensugesti diriku. Namun, tetap saja hal ini sama sekali tidak membuatku tenang. Baru di halaman pertengahan buku ini, saya temukan sebuah kunci ketenangan yakni bersyukur. Bermodalkan mantra:” saya bahagia dan bersyukur,................”,kucoba melihat kehidupanku secara lebih dalam.
Baru setelah beberapa waktu, akhirnya, saya sadari ketakutan yang ada di dalam diriku muncul karena saya tidak menyertakan dan menyadari penyertaan Tuhan di dalam perjuanganku. Kucari bahan yang cocok untuk memeditasikan kebaikan Tuhan dan saya temukan hal itu di dalam Mazmur Tuhan adalah gembalaku dan perikop dalam Matius mengenai Hal Kekhawatiran. Memang sih, hal ini tidak langsung manjur dan berefek seketika. Namun, terjadi perubahan yang signifikan di dalam diriku dalam hal ketenangan. Ketenangan adalah kunci awal sebuah kesuksesan. Semakin kita tenang berarti semakin kita jernih pikiran kita sehingga bisa merespon segala sesuatu yang ada di dalam pikiran kita jauh lebih baik.
Meskipun beberapa hasil try out yang dilakukan untuk mempersiapkan UN tidak begitu baik. Namun, dengan bersyukur, hidup ini lebih terasa jauh lebih ringan. Nilai terburuk try outku adalah 4,25. Nyaris mendekati batas kelulusan. Meski awalnya sedih, tapi kucoba tetap bersyukur dan memaknainya. Paling enggak, 42,5 % dari pelajaran sudah saya kuasai. Alhamdulilah..., kini adalah waktunya untuk mengejar dan menguasai 57,5%.
Dari peristiwa UN ini, saya jadi lebih mengenal diriku sendiri. Saya jadi sadar bahwa saya ini adalah orang yang mudah panik. Ari adalah salah satu orang yang menyadarkan aku mengenai hal itu. Ia mengamati dan menganalisis diriku tanpa saya ketahui. Bila saya panik, saya menampakan penampakan fisik yang berbeda dengan titik keringat yang mulai muncul di hidung dan bibir menjadi lebih pucat dan kering. Kalau sudah begini gejalanya, saya jadi lebih mudah mutung dan bisa ngloyor begitu saja ketika belajar bersama.
Kepanikanku bisa dipicu oleh beberapa hal. Kondisi belajar yang ribut dan membuatku kesulitan konsentrasi adalah salah satunya. Faktor lain yang saya sadari adalah ketika saya kesulitan mengerjakan sesuatu soal dan ketika bertanya pada orang lain yang saya anggap mengerti tidak menggubrisku. Atau...,ketika belajar bersama, teman-teman yang saya ajak belajar malah sibuk berdebat sendiri tanpa menghiraukan aku. Ketika panik itulah diriku serasatak berdaya dan mentalku menjadi down. Hak ini jadi nampak ironis jika saya membandingkan hasil tes kepribadianku yang menyatakan saya adalah orang koleris yang memiliki kekuatan mental baja.
Ya..., mungkin diriku terlalu banyak menuntut orang lain sesuai dengan keinginanku. Padahal, kalau dilihat lebih dalam saya tidak mau dituntuti macam-macam oleh orang lain. Mungkin, diriku terlalu egois dan sombong untuk mengakui hal itu. Mungkin juga karena saya terlalu mengangap diriku terlalu superior sehingga segala kemauanku harus segera terlaksana. Ya..., kehidupan emosiku memang agak labil bahkan sangat labil. Emosi terlalu mengambil peran penting dalam hidupku sehingga malah hal itu menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
Sebetulnya, rasa takut dan cemas itu adalah wajar dan sangat manusiawi. Kedua perasaan itu adalah sebuah mekanisme yang ada di dalam diri kita agar kita menjadi lebih waspada. Namun, bila berlebihan, rasa takut malah justru membuat kita menjadi tak bisa melakukan apa-apa. Rasa takut yang terolah dengan baik malah bisa menjadi mesin pendorong yang positif dalam hidupku dan hal itulah yang saya rasakan kini.
Saya sadari di seminari ini saya agak kurang bisa leluasa memanfaatkan waktu dengan baik. Di seminari yang memiliki pola asrama, kadang kepentingan pribadi harus mengalah pada ritme hidup asrama yang ketat. Hal itu belum termasuk seabrek tugas yang sudah menumpuk dan menanti untuk dikerjakan seperti persiapan HOT. Awalnya, saya agak merasa kekurangan waktu belajar di seminari. Kadang, saya merasa iri pada adik perempuanku yang setiap hari bisa leluasa belajar sampai pukul 23.30 dan ayahku sampai kelelahan menemaninya belajar. Tapi, saya mengerti di seminari ini, saya diajak untuk lebih proprosional dalam hidup. Belajar memang hal yang penting. Namun, belajar bukanlah satu-satunya hal yang penting dalam hidup karena manusia adalah makhluk multi dimensi. Bagaimanapun juga dimensi kehidupan yang lain selain intelektual pun mesti dikembangkan. Seperti perkataan Romo Rektor, “ jadilah pribadi yang holistik dan integral”.
Selama persiapan UN, waktu rasanya menjadi sangat berharga. Sedikit demi sedikit kucoba ubah kebiasaanku yang suka buang-buang waktu dengan sibuk pada hal-hal yang tidak penting. Sedikit banyak, kucoba tiru cara kerja Aven dalam mengelola waktu. Saya anggap Aven adalah orang yang begitu efektif menggunakan waktu. Ternyata, kuncinya terletak pada perencanaan. Perencanaan yang detil itulah yang membuat ia sukses menggunakan waktu. Jelaslah..., hal baik seperti ini perlu saya adopsi dan saya harap hal ini menjadi habitusku. Toh, setiap orang diberi modal yang sama yakni 24 jam selama satu hari. Tapi..., kenapa ya..., ada orang yang sukses tapi di sisi lain ada yang tidak sukses. Kucoba memaknai kesuksesan ini tergantung bagaimana seseorang memberdayakan waktunya secara baik dan efektif. Kucoba telisik berbagai rencana hidupku dan memadukannya sesuai prioritas.
Mungkin, memang tugasku di luar studi luar biasa banyaknya. Namun, bagaimanapun saya harus belajar profesional dengan tugas-tugas yang ada di pundak saya seperti kebidelan atau kepanitian. Di sini saya belajar totalitas. Saya diajak untuk selalu fokus akan hal yang saya lakukan dan mencoba melakukan yang terbaik dengan pola pikiran toh Tuhan telah begitu baik kepadaku, so.., apa yang bisa saya buat untuk-Nya. Saya berusaha mempersembahkan yang terbaik dari apa yang lakukan meskipun kadang di satu sisi kemalasan masih menghantuiku.
Percaya atau enggak, selama UN ini saya sedang terjangkit gila-gilanya mencari rumus cepat. Memang sih rumus cepat terbukti sangat efektif dalam mengerjakan ujian seperti ini. Tapi, pernah Bu Esthi memperingatkan saya bahwa rumus-rumus semacam itu hanya boleh dipakai kalau seseorang telah menguasai bahan yang ada dengan sungguh. Awalnya saya tidak terlalu memikirkan perkataan ini. Tapi, selama saya aktif berburu dan memakai rumus semacam itu, saya malah jadi merasa tidak berkembang.
Bahan yang saya pelajari sama sekali tidak “Duc in Altum” dengan kecenderungan belajarku hanya sekedar mencari nilai. Padahal, saya tahu bahwa non scholae sed vitae discimus. Pola semacam ini agaknya hanya akan mereduksi tujuan dan hakekat belajar itu sendiri. Maka, selain cari rumus cepat yang menurut saya penting karena soal mengutamakan kecepatan dan ketepatan, saya juga sedikit demi sedikit memperdalam bahan yang ada. Untunglah hal ini saya lakukan sebab rumus-rumus cepat semacam ini sama sekali tidak bisa diaplikasikan dan kembali rumus konvensionallah satu-satunya yang bisa dijadikan andalan.
Terus terang, selama persiapan UN ini diriku tidak bisa dipisahkan dari Ari. Saya sadari diriku adalah orang yang sulit mengerti mendalami suatu bahan. Ari saya rasakan sebagai katalisatorku dalam belajar meskipun saya agak takut nantinya malah saya jadi tergantung kepada orang lain dalam belajar. Tentunya, saya belajar tidak selalu ekslusif bersama Ari semata, banyak sekali teman-teman yang mau membantuku dan rela direpotkan olehku. Memang, awalnya agak berat ketika harus bertanya pada orang lain, rasa-rasanya saya terlalu tinggi hati untuk mengakui bahwa diriku itu kadang juga tidak bisa mudah mengerti. Dibutuhkan kerendahan hati, hanya sekedar untuk bertanya dan itupun saya rasakan sebagai sebuah perjuangan tersendiri.
Sebagai seorang anggota perantauan, semangat belajarku agak tergenjot jika saya mengingat diriku adalah seorang bersekolah jauh dari tempat tinggalnya. Dalam hal ini, saya jadi sadar, toh pengorbanan ini demi mengejar sesuatu yang bernilai sehingga bagaimanapun saya harus berjuang keras. Di sisi lain pun kadang diriku berpikir” Ngapain jauh-jauh sekolah cuma dapet nilai 6”. Hal semacam inilah yang membuatku terpacu dalam belajar.
Selama menjelang UN ini, rasanya banyak sekali godaan yang datang yang mengganggu persiapanku. Awalnya, diriku memang sedikit kompromistis. Tapi, saya sadari hal ini tidak akan pernah mengembangkan diriku. Saya tidak mau kecewa dan menyesal di kemudian hari atas apa yang saya lakukan sekarang. Maka,kucoba belajar memegang prinsip.
Hal yang Berbeda tidak selalu “Berbeda”
Sebuah Pencarian Benang Merah dalam
Kisah Pengungsian Kelurga Kudus ke Mesir dan Film Rabbit Proff Fence
Sebuah Pengantar
Di sadari atau tidak, banyak hal di dunia ini yang bisa dijadikan guru dalam hubungannya dengan kehidupan bahkan di antara peristiwa-peristiwa sederhana. Dibutuhkan sebuah kepekaan untuk bisa menangkap makna di balik sesuatu. Kadang, ada hal-hal yang bila dilihat sekilas tidak nampak kaitannya sedikit pun tapi bila kita berani untuk berani menguliti kulit yang membungkusnya secara teliti, banyak sekali kekayaan yang sebetulnya bisa menjadi kekayaan kita. Dalam paper ini, saya akan mencoba menarik sebuah benang merah dari dua kisah (Kisah Pengungsian Kelurga Kudus ke Mesir dan Film Rabbit Proff Fence) yang berbeda namun memiliki banyak kesamaan dalam memaknai kehidupan.
Jembatan yang Menyatukan
Film Rabbit Proff Fence yang menceritakan perjalanan heroik tiga orang anak percampuran Aborigin dan orang kulit putih (setengah kasta) dari tempat pengasuhan di Moore River bisa ditarik sebuah garis lurus dengan kisah Penyingkiran kanak-kanak Yesus ke Mesir untuk menghindari kejaran pasukan Herodes. Herodes yang meraja saat kelahiran Yesus mengetahui bahwa “raja baru” lahir di Betlehem dari orang-orang majus. Hal ini melahirkan sebuah ketakutan bahwa “raja baru” itu akan menggulingkan pemerintahannya yang telah dikuasainya selama ini atau paling tidak merusak image dan wibawanya sebagai seorang raja. Ketakutan seorang raja ini ternyata berdampak luas dan menimbulkan ketakutan-ketakutan baru bagi rakyat Betlehem yang sebetulnya tidak memiliki kesalahan sedikit pun yakni gelombang pembunuhan semua anak dibawah umur dua tahun.
Dalam film Rabbit Proff Fence, ketakutan yang berbeda pun menyebabkan penderitaan bagi keluarga-keluarga setengah kasta di Australia. Ketakutan akan rusaknya image orang-orang kulit putih yang mereka anggap lebih beradab dibandingkan orang-orang aborigin, melatarbelakangi inisiatif Pemerintah untuk menampung orang-orang setengah kasta dan mendidiknya secara khusus sesuai adat barat. Kaum setengah kasta dipisahkan dari keluarga Aboriginnya dan dipaksa untuk melahap semua etika dan aturan orang barat tanpa mempertimbangkan rusaknya pertalian keluarga yang telah dibangun dalam budaya Aborigin.
Ketakutan yang berlebihan kadang bisa membuat orang menjadi buta dan tidak mampu berpikir jernih bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bodoh. Herodes takut bayi Yesus yang lemah akan melakukan kudeta dalam pemerintahannya. Padahal bila dilihat secara akal sehat, tidaklah mungkin seorang bayi bisa mempunyai kekuatan yang besar untuk melawan orang kuat semacam Herodes sebab untuk melakukan perbuatan- perbuatan kecil misalnya makan saja seorang bayi masih butuh bantuan orang lain. Ketakutan yang menggunung ditambah kekuatan dan kekuasaan yang besar bisa menjadi sebuah energi merusak yang sangat besar. Bayi-bayi Betlehem yang tidak berdosa harus juga merasakan ketakutan Herodes dengan mati di awal-awal kehidupannya.
Niat baik yang dilakukan pemerintah Australia untuk merawat orang-orang setengah kasta sehingga ketakutan-ketakutan yang ada di benak mereka akan sirna justru menjadi bumerang yang bisa melukai warganya. Dengan mencabut seorang anak dari keluarganya dan memaksanya melahap dogma-dogma barat, pemerintah Australia tidak berbeda dengan Herodes yang sama-sama dikalahkan oleh ketakutannya meskipun gambaran kekalahan itu tidak bisa dilihat secara langsung.Di satu sisi memang terasa kekuatan manusia yang menang, tapi di sisi lain justru hal ini menggambarkan sebuah kekalahan telak seorang penguasa terhadap ketakutannya sendiri.
Baik Moly maupun Yusuf, kedua-duanya hanyalah rakyat biasa yang tidak punya kekuasaan apa-apa. Kekuasaan terletak pada Raja Herodes ataupun Pemerintah Australia. Segala hal yang diputuskan oleh para penguasa bisa sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang-orang kecil seperti Moly maupun Yusuf. Namun, dari dua kisah yang berbeda tersebut, kita bisa belajar bahwa dengan orang-orang kecil yang kurang diperhitungkan dapat lolos dari sebuah kekuasaan yang sewenang-wenang.
Kedua kisah tersebut sama-sama dimulai dengan sebuah keputusan dari pilihan-pilihan. Yusuf memutuskan untuk mengungsikan bayi Yesus ke Mesir setelah Malaikat Tuhan menampakkan diri dalam mimpinya. Sedangkan Moly memilih sebuah pilihan yang sangat beresiko yakni melarikan diri dari More river. Menurutku kedua-duanya berani memilih hal yang dianggap benar. Dan sekali mereka memilih, mereka tidak pernah akan kembali meragukan atas pilihan-pilihannya. Dibutuhkan mental baja untuk bisa mempertahankan segala sesuatu yang bagi kita adalah sebuah kebenaran dan jangan lupa selalu sertakan Tuhan dalam setiap pilihan yang kita ambil agar sesuai dengan kehendaknya.
Analogi lain yang bisa diambil dari dua kisah tersebut adalah baik Moly dan Keluarga kudus sama-sama melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk menyelamatkan diri. Perjalanan ini bisa disimbolkan sebagai sebuah perjuangan panjang untuk mencapai sebuah tujuan. Yusuf dan sekeluarga berusaha menyelamatkan bayi Yesus yang masih lemah dari pembunuhan di Betlehem. Sedangkan dalam dalam film Rabbit Proff Fence, Moly dan saudaranya berusaha kembali kepada keluarganya di desa Jigalong dari tempat penampungan para kaum setengah kasta.
Kedua cerita memang berakhir bahagia. Yesus dapat selamat dari cengkraman Herodes dan Moly bisa bertemu lagi dengan kedua orang tuanya. Namun, kedua happy ending ini tidak akan pernah terjadi jika tidak diawali dengan sebuah perjuangan. Tuhan berinisiatif menyelamatkan manusia dan yang dibutuhkan manusia adalah sebuah kejelian untuk membaca tanda-tanda yang diberikan Tuhan. Yusuf bisa jeli melihat dibimbing Tuhan dengan mimpinya sehingga bayi Yesus yang lemah bisa selamat. Moli pun bisa mengikuti insting dan Rabbit Proff Fence sebagai pedoman perjalanannya. Bila dirasa-rasa ada sebuah keterkaitan diantara kedua kisah ini. Keduanya diselamatkan dengan sebuah kekuatan di luar batas kemampuan manusia. Meski awalnya banyak sekali hambatan dan penderitaan yang merintanginya. Kekuatan adikodrati itu saya yakini berasal dari Tuhan.
Refleksi dan Kesimpulan
Dari kedua analogi kisah berbeda ini, sebetulnya kita diajak untuk menganalogikan kedua kisah ini dengan kehidupan kita karena pada dasarnya kehidupan adalah perwujudan nyata dari perjuangan. Perjuangan yang berat untuk mencapai suatu tujuan sudah dilakukan dari tokoh dalam cerita tersebut dan kini kita ditantang untuk berjuang memeperjuangkan tujuan hidup kita. Hal yang perlu diingat adalah jangan biarkan diri anda berjuang sendirian sebab Tuhan pasti akan selalu menyertai dan memberkati sekalipun anda tidak menyadari hal itu. Kedua tokoh dari kisah yang berbeda di atas telah mengalami bagaimana Tuhan mendampingi perjuangannya. Percayalah Tuhan selalu menopang kita. So, jangan takut untuk berjuang bersama Kristus.
Kisah Pengungsian Kelurga Kudus ke Mesir dan Film Rabbit Proff Fence
Sebuah Pengantar
Di sadari atau tidak, banyak hal di dunia ini yang bisa dijadikan guru dalam hubungannya dengan kehidupan bahkan di antara peristiwa-peristiwa sederhana. Dibutuhkan sebuah kepekaan untuk bisa menangkap makna di balik sesuatu. Kadang, ada hal-hal yang bila dilihat sekilas tidak nampak kaitannya sedikit pun tapi bila kita berani untuk berani menguliti kulit yang membungkusnya secara teliti, banyak sekali kekayaan yang sebetulnya bisa menjadi kekayaan kita. Dalam paper ini, saya akan mencoba menarik sebuah benang merah dari dua kisah (Kisah Pengungsian Kelurga Kudus ke Mesir dan Film Rabbit Proff Fence) yang berbeda namun memiliki banyak kesamaan dalam memaknai kehidupan.
Jembatan yang Menyatukan
Film Rabbit Proff Fence yang menceritakan perjalanan heroik tiga orang anak percampuran Aborigin dan orang kulit putih (setengah kasta) dari tempat pengasuhan di Moore River bisa ditarik sebuah garis lurus dengan kisah Penyingkiran kanak-kanak Yesus ke Mesir untuk menghindari kejaran pasukan Herodes. Herodes yang meraja saat kelahiran Yesus mengetahui bahwa “raja baru” lahir di Betlehem dari orang-orang majus. Hal ini melahirkan sebuah ketakutan bahwa “raja baru” itu akan menggulingkan pemerintahannya yang telah dikuasainya selama ini atau paling tidak merusak image dan wibawanya sebagai seorang raja. Ketakutan seorang raja ini ternyata berdampak luas dan menimbulkan ketakutan-ketakutan baru bagi rakyat Betlehem yang sebetulnya tidak memiliki kesalahan sedikit pun yakni gelombang pembunuhan semua anak dibawah umur dua tahun.
Dalam film Rabbit Proff Fence, ketakutan yang berbeda pun menyebabkan penderitaan bagi keluarga-keluarga setengah kasta di Australia. Ketakutan akan rusaknya image orang-orang kulit putih yang mereka anggap lebih beradab dibandingkan orang-orang aborigin, melatarbelakangi inisiatif Pemerintah untuk menampung orang-orang setengah kasta dan mendidiknya secara khusus sesuai adat barat. Kaum setengah kasta dipisahkan dari keluarga Aboriginnya dan dipaksa untuk melahap semua etika dan aturan orang barat tanpa mempertimbangkan rusaknya pertalian keluarga yang telah dibangun dalam budaya Aborigin.
Ketakutan yang berlebihan kadang bisa membuat orang menjadi buta dan tidak mampu berpikir jernih bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bodoh. Herodes takut bayi Yesus yang lemah akan melakukan kudeta dalam pemerintahannya. Padahal bila dilihat secara akal sehat, tidaklah mungkin seorang bayi bisa mempunyai kekuatan yang besar untuk melawan orang kuat semacam Herodes sebab untuk melakukan perbuatan- perbuatan kecil misalnya makan saja seorang bayi masih butuh bantuan orang lain. Ketakutan yang menggunung ditambah kekuatan dan kekuasaan yang besar bisa menjadi sebuah energi merusak yang sangat besar. Bayi-bayi Betlehem yang tidak berdosa harus juga merasakan ketakutan Herodes dengan mati di awal-awal kehidupannya.
Niat baik yang dilakukan pemerintah Australia untuk merawat orang-orang setengah kasta sehingga ketakutan-ketakutan yang ada di benak mereka akan sirna justru menjadi bumerang yang bisa melukai warganya. Dengan mencabut seorang anak dari keluarganya dan memaksanya melahap dogma-dogma barat, pemerintah Australia tidak berbeda dengan Herodes yang sama-sama dikalahkan oleh ketakutannya meskipun gambaran kekalahan itu tidak bisa dilihat secara langsung.Di satu sisi memang terasa kekuatan manusia yang menang, tapi di sisi lain justru hal ini menggambarkan sebuah kekalahan telak seorang penguasa terhadap ketakutannya sendiri.
Baik Moly maupun Yusuf, kedua-duanya hanyalah rakyat biasa yang tidak punya kekuasaan apa-apa. Kekuasaan terletak pada Raja Herodes ataupun Pemerintah Australia. Segala hal yang diputuskan oleh para penguasa bisa sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang-orang kecil seperti Moly maupun Yusuf. Namun, dari dua kisah yang berbeda tersebut, kita bisa belajar bahwa dengan orang-orang kecil yang kurang diperhitungkan dapat lolos dari sebuah kekuasaan yang sewenang-wenang.
Kedua kisah tersebut sama-sama dimulai dengan sebuah keputusan dari pilihan-pilihan. Yusuf memutuskan untuk mengungsikan bayi Yesus ke Mesir setelah Malaikat Tuhan menampakkan diri dalam mimpinya. Sedangkan Moly memilih sebuah pilihan yang sangat beresiko yakni melarikan diri dari More river. Menurutku kedua-duanya berani memilih hal yang dianggap benar. Dan sekali mereka memilih, mereka tidak pernah akan kembali meragukan atas pilihan-pilihannya. Dibutuhkan mental baja untuk bisa mempertahankan segala sesuatu yang bagi kita adalah sebuah kebenaran dan jangan lupa selalu sertakan Tuhan dalam setiap pilihan yang kita ambil agar sesuai dengan kehendaknya.
Analogi lain yang bisa diambil dari dua kisah tersebut adalah baik Moly dan Keluarga kudus sama-sama melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk menyelamatkan diri. Perjalanan ini bisa disimbolkan sebagai sebuah perjuangan panjang untuk mencapai sebuah tujuan. Yusuf dan sekeluarga berusaha menyelamatkan bayi Yesus yang masih lemah dari pembunuhan di Betlehem. Sedangkan dalam dalam film Rabbit Proff Fence, Moly dan saudaranya berusaha kembali kepada keluarganya di desa Jigalong dari tempat penampungan para kaum setengah kasta.
Kedua cerita memang berakhir bahagia. Yesus dapat selamat dari cengkraman Herodes dan Moly bisa bertemu lagi dengan kedua orang tuanya. Namun, kedua happy ending ini tidak akan pernah terjadi jika tidak diawali dengan sebuah perjuangan. Tuhan berinisiatif menyelamatkan manusia dan yang dibutuhkan manusia adalah sebuah kejelian untuk membaca tanda-tanda yang diberikan Tuhan. Yusuf bisa jeli melihat dibimbing Tuhan dengan mimpinya sehingga bayi Yesus yang lemah bisa selamat. Moli pun bisa mengikuti insting dan Rabbit Proff Fence sebagai pedoman perjalanannya. Bila dirasa-rasa ada sebuah keterkaitan diantara kedua kisah ini. Keduanya diselamatkan dengan sebuah kekuatan di luar batas kemampuan manusia. Meski awalnya banyak sekali hambatan dan penderitaan yang merintanginya. Kekuatan adikodrati itu saya yakini berasal dari Tuhan.
Refleksi dan Kesimpulan
Dari kedua analogi kisah berbeda ini, sebetulnya kita diajak untuk menganalogikan kedua kisah ini dengan kehidupan kita karena pada dasarnya kehidupan adalah perwujudan nyata dari perjuangan. Perjuangan yang berat untuk mencapai suatu tujuan sudah dilakukan dari tokoh dalam cerita tersebut dan kini kita ditantang untuk berjuang memeperjuangkan tujuan hidup kita. Hal yang perlu diingat adalah jangan biarkan diri anda berjuang sendirian sebab Tuhan pasti akan selalu menyertai dan memberkati sekalipun anda tidak menyadari hal itu. Kedua tokoh dari kisah yang berbeda di atas telah mengalami bagaimana Tuhan mendampingi perjuangannya. Percayalah Tuhan selalu menopang kita. So, jangan takut untuk berjuang bersama Kristus.
Omnia Mea Mecum Porto
Apa sih tujuan orang mencari harta kekayaan? Mungkin, sebagian orang akan menjawab usaha mencari kekayaan untuk mendapatkan kekuasaan, rasa aman dan jaminan dalam hidupnya. Pada dasarnya, mencari kekayaan adalah suatu hal yang lumrah dan wajar di dalam kehidupan demi memenuhi segala kebutuhan hidup manusia. Dalam buku “Rich Dad Poor Dad”, Robert Kiyoshaki berkata tujuan mencari kekayaan adalah untuk mendapatkan kebebasan finansial sehingga seseorang bebas memenuhi dan berkuasa penuh atas kebutuhan hidup dasar hidup dan kebutuhan lain tanpa hambatan dan gangguan.
Namun, apakah setiap orang yang memiliki banyak kekayaan akan otomatis hidup dalam lingkaran kebahagiaan? Jawabannya sangat relatif. Beberapa fakta menyebutkan tidak setiap orang kaya akan dengan sendirinya mendapatkan kebahagiaan. Mungkin agak aneh bila kenyataan ini dinalar. Kok bisa ya…, orang yang segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dan hidup dengan selalu dilimpahi kenikmatan tetap tidak bisa merasakan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada orang yang hidup di dalam kesulitan ekonomi tetap saja bisa tetap happy layaknya tidak memiliki masalah satupun.
Jadi, kekayaan tidaklah selalu menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam hidup. Bisa jadi, sebaliknya, kekayaan malah bisa menjadi bumerang yang malah menyerang diri sendiri bila tidak dikelola dan dilihat secara jernih. Yesus menyamakan harta kekayaan dengan Mamon (Berhala). Memang, berhala modern ini sifatnya tidak nampak seperti apa yang dikatakan di dalam berbagai kisah di kitab suci dengan berbagai macam jenis patung-patung serta dewa-dewanya. Sebaliknya, berhala jenis ini terasa sangat nikmat. Namun, Bila kita tidak hati-hati, justru dalam kenikmatan semacam inilah yang membahayakan karena bisa mengaburkan hakekat hidup kita yang sebenarnya yakni menghormati, mengabdi dan memuji Tuhan.
Perubahan orientasi hidup dari hal sejati ke hal duniawi inilah yang sangat membahayakan. Sadar atau tidak, Kenikmatan dari kekayaan ini sangat memungkinkan diri kita menjadi buta. Yesus di dalam perikop ini sangat menekankan pentingnya kita menjaga mata kita. Mata adalah organ vital yang dimiliki manusia untuk menyadari, melihat, dan menjadi penghubung dengan berbagai macam hal di luar diri kita. Mata yang sehat maka akan menjadikan orang melihat secara sehat pula. Setan menggunakan kenikmatan dari kekayaan sebagai kedok untuk membuat orang tidak peka dan buta.
Bila kita tidak kita sadari, mata yang buta dapat mengecoh berbagai hal. Salah satunya dalam melihat kekayaan. Bisa jadi, kita akan terjebak pada berbagai harta semu belaka dan menggantungkan seluruh hidup kita padanya bila kekayaanlah yang menjadi orientasi di dalam hidup. Mata yang buta akibat orientasi terhadap harta yang berlebihan bisa saja mendorong orang untuk menghalalkan berbagai cara seperti korupsi atau mencuri dan mengabaikan aspek kehidupan yang lain. “Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada”.
Menjadikan harta sebagai orientasi hidup adalah hal yang sia-sia karena harta duniawi dapat rusak karena ngegat atau hilang oleh pencuri. Kalau kita sadari secara lebih dalam, pada dasarnya manusia tidak akan pernah puas dengan segala yang di dapatkannya. Bila seseorang telah melampaui apa yang diinginkannya, ia akan berusaha mengejar keinginan yang lebih tinggi daripada level keinginan sebelumnya. Maka, sangat memungkinkanlah seseorang dengan banyak harta justru sangat tidak bahagia karena ia selalu berusaha ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang dicapainya.
Maka, marilah kita melihat harta benda secara proporsional di dalam hidup ini. Janganlah melihat harta sebagai tujuan hidup tetapi sebagai sarana. Syukurilah apapun yang Anda dapatkan dalam hidup ini dan lihat dalam kerangka paradigma Providentia Dei (Penyelenggaraan Ilahi). Sadarilah kekayaan adalah sarana Tuhan melalui diri anda untuk menolong sesama yang membutuhkan. Kekayaan membuat Anda mempunyai kemampuan untuk menjadi alat Tuhan bagi yang menderita. Jangan pernah berpikir, harta anda akan habis karena menolong orang lain. Percayalah, barangsiapa memberi, ia akan menerima.
Perikop ini mengajarkan kita untuk bijaksana di dalam melihat harta. Gunakanlah akal budi Anda untuk mengendalikan diri terhadap godaan harta. Beranilah berkata cukup di dalam hidup sebab rahmat Tuhan cukup bagimu. Gunakanlah prinsip lepas bebas dalam melihat harta agar diri Anda tidak terikat dengan harta. Yesus Kristus menginginkan diri kita total mengabdi kepada-Nya dan tidak menghendaki hati kita bercabang. Jadikan Tuhan menjadi harta dan satu-satunya jaminan di dalam hidup. Percayalah investasinya jauh lebih besar daripada investasi apapun yang anda tanamankan di dunia dan tidak akan rusak ataupun hilang. Tuhan sendirilah yang telah menjamin hal itu.Omnia mea mecum porto (Cicero). Amin. Tuhan selalu memberkati Anda.
Namun, apakah setiap orang yang memiliki banyak kekayaan akan otomatis hidup dalam lingkaran kebahagiaan? Jawabannya sangat relatif. Beberapa fakta menyebutkan tidak setiap orang kaya akan dengan sendirinya mendapatkan kebahagiaan. Mungkin agak aneh bila kenyataan ini dinalar. Kok bisa ya…, orang yang segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dan hidup dengan selalu dilimpahi kenikmatan tetap tidak bisa merasakan kebahagiaan. Justru sebaliknya, ada orang yang hidup di dalam kesulitan ekonomi tetap saja bisa tetap happy layaknya tidak memiliki masalah satupun.
Jadi, kekayaan tidaklah selalu menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam hidup. Bisa jadi, sebaliknya, kekayaan malah bisa menjadi bumerang yang malah menyerang diri sendiri bila tidak dikelola dan dilihat secara jernih. Yesus menyamakan harta kekayaan dengan Mamon (Berhala). Memang, berhala modern ini sifatnya tidak nampak seperti apa yang dikatakan di dalam berbagai kisah di kitab suci dengan berbagai macam jenis patung-patung serta dewa-dewanya. Sebaliknya, berhala jenis ini terasa sangat nikmat. Namun, Bila kita tidak hati-hati, justru dalam kenikmatan semacam inilah yang membahayakan karena bisa mengaburkan hakekat hidup kita yang sebenarnya yakni menghormati, mengabdi dan memuji Tuhan.
Perubahan orientasi hidup dari hal sejati ke hal duniawi inilah yang sangat membahayakan. Sadar atau tidak, Kenikmatan dari kekayaan ini sangat memungkinkan diri kita menjadi buta. Yesus di dalam perikop ini sangat menekankan pentingnya kita menjaga mata kita. Mata adalah organ vital yang dimiliki manusia untuk menyadari, melihat, dan menjadi penghubung dengan berbagai macam hal di luar diri kita. Mata yang sehat maka akan menjadikan orang melihat secara sehat pula. Setan menggunakan kenikmatan dari kekayaan sebagai kedok untuk membuat orang tidak peka dan buta.
Bila kita tidak kita sadari, mata yang buta dapat mengecoh berbagai hal. Salah satunya dalam melihat kekayaan. Bisa jadi, kita akan terjebak pada berbagai harta semu belaka dan menggantungkan seluruh hidup kita padanya bila kekayaanlah yang menjadi orientasi di dalam hidup. Mata yang buta akibat orientasi terhadap harta yang berlebihan bisa saja mendorong orang untuk menghalalkan berbagai cara seperti korupsi atau mencuri dan mengabaikan aspek kehidupan yang lain. “Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada”.
Menjadikan harta sebagai orientasi hidup adalah hal yang sia-sia karena harta duniawi dapat rusak karena ngegat atau hilang oleh pencuri. Kalau kita sadari secara lebih dalam, pada dasarnya manusia tidak akan pernah puas dengan segala yang di dapatkannya. Bila seseorang telah melampaui apa yang diinginkannya, ia akan berusaha mengejar keinginan yang lebih tinggi daripada level keinginan sebelumnya. Maka, sangat memungkinkanlah seseorang dengan banyak harta justru sangat tidak bahagia karena ia selalu berusaha ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang dicapainya.
Maka, marilah kita melihat harta benda secara proporsional di dalam hidup ini. Janganlah melihat harta sebagai tujuan hidup tetapi sebagai sarana. Syukurilah apapun yang Anda dapatkan dalam hidup ini dan lihat dalam kerangka paradigma Providentia Dei (Penyelenggaraan Ilahi). Sadarilah kekayaan adalah sarana Tuhan melalui diri anda untuk menolong sesama yang membutuhkan. Kekayaan membuat Anda mempunyai kemampuan untuk menjadi alat Tuhan bagi yang menderita. Jangan pernah berpikir, harta anda akan habis karena menolong orang lain. Percayalah, barangsiapa memberi, ia akan menerima.
Perikop ini mengajarkan kita untuk bijaksana di dalam melihat harta. Gunakanlah akal budi Anda untuk mengendalikan diri terhadap godaan harta. Beranilah berkata cukup di dalam hidup sebab rahmat Tuhan cukup bagimu. Gunakanlah prinsip lepas bebas dalam melihat harta agar diri Anda tidak terikat dengan harta. Yesus Kristus menginginkan diri kita total mengabdi kepada-Nya dan tidak menghendaki hati kita bercabang. Jadikan Tuhan menjadi harta dan satu-satunya jaminan di dalam hidup. Percayalah investasinya jauh lebih besar daripada investasi apapun yang anda tanamankan di dunia dan tidak akan rusak ataupun hilang. Tuhan sendirilah yang telah menjamin hal itu.Omnia mea mecum porto (Cicero). Amin. Tuhan selalu memberkati Anda.
Ketika Pemimpin Menjadi Seorang Pelayan
Belum hilang sepenuhnya gegap gempita dan eforia prosesi inagurasi terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat. Barack Obama, sebagai sebuah fenomena unik di tengah krisis subprime mortage yang melanda Amerika dan memicu bergugurannya beberapa perusahaan besar yang selama ini dikenal memiliki kekuatan financial yang kokoh. Sang anak Menteng dalam sekejap mampu memikat berjuta-juta orang dengan pesonanya dan kharismanya. Dengan slogan Change we need, ia berhasil menjungkirbalikkan paradigma bahwa kaum kulit berwarna yang pada awalnya hadir di Amerika sebagai budak tidak akan pernah mampu mencapai sebuah posisi yang selama ini di dominasi kulit putih di Amerika.
Republik ini rasanya perlu belajar banyak mengenai hal ini. Terpilihnya Barack Obama sedikit banyak memberikan pencerahan sekaligus inspirasi bagi dinamika kehidupan berpolitik Indonesia. Rakyat Amerika mampu memilih pemimpinnya bukan sekedar siapa yang maju dalam percaturan politik yang ada tetapi lebih pada apa yang dibawanya melalui setiap pemikirannya. Inilah yang disebut dengan kedewasaan politik.
Coba bandingkan dengan republik ini. Rasannya, keadaannya akan bereda 180 derajat dengan kaadaan yang ada di Amerika meski sama-sama menganut asas demokrasi yang menjunjung tinggi rakyat sebagai subyek utama dari pemerintahan. Lihat saja, kini menjelang pemilu, hampir di setiap sudut kota mulai berhias spanduk-spanduk narsis para calon legislative yang sedang akan berjuang mendapatkan kursi empuk para wakil rakyat.
Sebut saja Si Cepot, seorang calon legislative yang mulai menjajaki keberuntungannya di “jalur basah” ini. Baginya, anggota legislative memiliki peran yang cukup menggoda untuk diduduki. Dengan kendaraan politiknya dengan susunan kepengurusan yang tambal sulam demi kelayakan mengikuti pemilu, Si Cepot maju meski tidak memiliki modal pengalaman dan visi yang cukup. Bisa jadi terpilihnya si Cepot menjadi kandidat, hanya sekedar untuk memenuhi lembaran kertas suara pada partainya pada pemilu yang akan diselenggarakan bulan April. Si Cepot ini hanyalah contoh kecil bagaimana sebuah kepemimpinan dibangun di atas pondasi yang rapuh. Percayalah! Kepemimpinan seperti itu tidak akan pernah mampu bertahan dan mengubah segalanya menjadi lebih baik.
Politik memang sebuah sarana untuk mendapatkan kekuasaan. Tapi, kekuasaan itu hendaknya bukan sekedar atribut untuk memperkaya diri dan mementingkan golongannya. Seharusnya, mulai dibangun kesadaran bahwa pada hakekatnya, menjadi pemimpin adalah sama seperti seorang pelayan. Pelayan yang rela melayani dengan memberdayakan segala kemampuannya meskipun apa yang diberikannya tidak pernah sebanding dengan apa yang didapatkannya. Itulah makna sebuah amanah. .Hal itu bisa dimulai dengan hal-hal kecil dengan misalnya mengubah istilah menduduki ketika seseorang menjabat menjadi memangku. Memang, sekilas hal ini nampak sepele. Tetapi, kalau dirasakan dan dihayati, kata ini bisa mencerminkan sebuah pola dan spiritualitas dari sebuah kepemimpinan.
Seorang pemimpin haruslah melihat segala sesuatu secara integral dan menyeluruh sehingga setiap keputusan yang diambil adalah sebuah keputusan yang benar-benar tepat. Seorang pemimpin pun seharusnya peka melihat situasi dan mendengarkan suara rakyat yang terangkum melalui kehidupan orang-orang kecil yang ada di sekitarnya.
Barack Obama adalah contoh sebuah harapan dan visi yang jelas dari sebuah kepemimpinan yang mampu membuai banyak orang memilih dan mengidolakannya. Kini, cita-cita Martin Luther King Jr sudah jauh melampaui apa yang didambakannya dalam pidatonya yang terkenal “We have a dream”. Bagaimana Amerika akan dibawa beserta impian besarnya di bawah komandonya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
emanuel agung wicaksono
2008420150
Ditulis ketika Zimbabwe mengalami inflasi 100.000%
di bawah Rezim Mugabe
Republik ini rasanya perlu belajar banyak mengenai hal ini. Terpilihnya Barack Obama sedikit banyak memberikan pencerahan sekaligus inspirasi bagi dinamika kehidupan berpolitik Indonesia. Rakyat Amerika mampu memilih pemimpinnya bukan sekedar siapa yang maju dalam percaturan politik yang ada tetapi lebih pada apa yang dibawanya melalui setiap pemikirannya. Inilah yang disebut dengan kedewasaan politik.
Coba bandingkan dengan republik ini. Rasannya, keadaannya akan bereda 180 derajat dengan kaadaan yang ada di Amerika meski sama-sama menganut asas demokrasi yang menjunjung tinggi rakyat sebagai subyek utama dari pemerintahan. Lihat saja, kini menjelang pemilu, hampir di setiap sudut kota mulai berhias spanduk-spanduk narsis para calon legislative yang sedang akan berjuang mendapatkan kursi empuk para wakil rakyat.
Sebut saja Si Cepot, seorang calon legislative yang mulai menjajaki keberuntungannya di “jalur basah” ini. Baginya, anggota legislative memiliki peran yang cukup menggoda untuk diduduki. Dengan kendaraan politiknya dengan susunan kepengurusan yang tambal sulam demi kelayakan mengikuti pemilu, Si Cepot maju meski tidak memiliki modal pengalaman dan visi yang cukup. Bisa jadi terpilihnya si Cepot menjadi kandidat, hanya sekedar untuk memenuhi lembaran kertas suara pada partainya pada pemilu yang akan diselenggarakan bulan April. Si Cepot ini hanyalah contoh kecil bagaimana sebuah kepemimpinan dibangun di atas pondasi yang rapuh. Percayalah! Kepemimpinan seperti itu tidak akan pernah mampu bertahan dan mengubah segalanya menjadi lebih baik.
Politik memang sebuah sarana untuk mendapatkan kekuasaan. Tapi, kekuasaan itu hendaknya bukan sekedar atribut untuk memperkaya diri dan mementingkan golongannya. Seharusnya, mulai dibangun kesadaran bahwa pada hakekatnya, menjadi pemimpin adalah sama seperti seorang pelayan. Pelayan yang rela melayani dengan memberdayakan segala kemampuannya meskipun apa yang diberikannya tidak pernah sebanding dengan apa yang didapatkannya. Itulah makna sebuah amanah. .Hal itu bisa dimulai dengan hal-hal kecil dengan misalnya mengubah istilah menduduki ketika seseorang menjabat menjadi memangku. Memang, sekilas hal ini nampak sepele. Tetapi, kalau dirasakan dan dihayati, kata ini bisa mencerminkan sebuah pola dan spiritualitas dari sebuah kepemimpinan.
Seorang pemimpin haruslah melihat segala sesuatu secara integral dan menyeluruh sehingga setiap keputusan yang diambil adalah sebuah keputusan yang benar-benar tepat. Seorang pemimpin pun seharusnya peka melihat situasi dan mendengarkan suara rakyat yang terangkum melalui kehidupan orang-orang kecil yang ada di sekitarnya.
Barack Obama adalah contoh sebuah harapan dan visi yang jelas dari sebuah kepemimpinan yang mampu membuai banyak orang memilih dan mengidolakannya. Kini, cita-cita Martin Luther King Jr sudah jauh melampaui apa yang didambakannya dalam pidatonya yang terkenal “We have a dream”. Bagaimana Amerika akan dibawa beserta impian besarnya di bawah komandonya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
emanuel agung wicaksono
2008420150
Ditulis ketika Zimbabwe mengalami inflasi 100.000%
di bawah Rezim Mugabe
Sebongkah Emas di Balik Tumpukan Sampah
Manusia muncul belakangan sekali dalam sejarah bumi tetapi ia telah menguasai bumi dan merusaknya besar-besaran. Bahkan, ia mampu memusnahkan hampir segala makhluk termasuk dirinya sendiri. Apakah ada masa depan bagi makhluk seagresif ini? Jawabannya terletak pada dirinya sendiri karena sudah dua abad dia menamakan dirinya sebagai Homo Sapiens (Manusia yang Bijaksana).
Sekilas Mengenal Sampah
Sampah adalah konsekuensi dari kehidupan manusia. Tidak bisa dipungkiri, selama manusia beraktivitas, maka sampah akan selalu hadir. Dilihat dari pengertiannya, sampah berarti barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi[1].
Kini sampah menjadi masalah yang kompleks karena makin lama jumlah manusia yang hidup di dunia semakin bertambah. Padahal pada awalnya jumlah manusia sangatlah sedikit, namun pada perkembangannya manusia semakin lama semakin banyak. Awalnya pengaruh perkembangan jumlah populasi manusia tidak terlalu berarti dalam merusak lingkungan. Kehidupan yang masih bersatu dengan alam, jumlah manusia pun sedikit, dan ekploitasi alam tidak terlampau besar menyebabkan alam tidak mengalami kerusakan yang berarti. Mungkin, ada sedikit kerusakan tetapi intensitasnya masih sangatlah kecil dan alam pun segera bisa pulih kembali karena alam mempunyai kemampuan untuk menjaga kelestariannya yang biasa kita sebut sebagai proses suksesi.
Pengaruh manusia terhadap alam pun berubah seiring dengan makin banyaknya jumlah populasi manusia. Kecenderungannya, makin banyak jumlah manusia berarti semakin banyak pula kebutuhan primer yang harus dipenuhi agar manusia bisa mempertahankan hidupnya sehingga ekploitasi terhadap alam semakin intensif.
Jumlah sampah yang dihasilkan sebanding dengan jumlah barang yang manusia konsumsi, semakin banyak barang yang manusia konsumsi berarti semakin banyak pula sampah yang dihasilkan dan begitu pulalah sebaliknya. Bila manusia tidak hati-hati, bukan tidak mungkin masalah ini justru akan menjadi bom waktu dan pada akhirnya akan menyengsarakan umat manusia sendiri.
Menurut HM Itoc Tochija (2005:115), pada tahun 1984, rata–rata setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah sekitar 2,3 liter atau sebanding dengan 0,575 kg. Namun, setiap tahunnya, produksi sampah tersebut terus meningkat. Kini, diperkirakan sampah yang dihasilkan setiap orang bisa sampai mendekati 1 kg. Menurut Kim Seok Cheon, satu orang saja dapat menghasilkan sampah sekitar 55 ton sampah semasa hidupnya, maka dapat dibayangkan seberapa banyak sampah yang dihasilkan manusia di seluruh dunia.[2] Untuk kota Jakarta saja pada tahun 2000, sampah yang dihasilkan dalam satu tahun mencapai 9.252.000 meter kubik[3] atau setara dengan 170 kali volume candi Borobudur.[4]Bila sampah tidak tertangani dengan baik, bukan mustahil, beberapa tahun ke depan, Jakarta akan tenggelam oleh sampah yang diproduksinya.
Secara garis besar, menurut Setyo Purwendro dan Nurhidayat (2006:6), sampah dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
a.Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahan sampah organik biasanya berjumlah sekitar 60-75% dari total volume sampah.
b. Sampah anorganikSampah anorganik adalah sampah yang berasal bukan dari makhluk hidup. Sampah ini bisa berasal dari bahan yang bisa diperbarui dan bahan yang beracun serta berbahaya. Sampah yang masuk ke dalam golongan ini adalah sampah yang terbuat dari plastik dan logam.
c. Sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya)
Sampah B3 adalah sampah yang dikategorikan beracun dan berbahaya bagi manusia karena jumlahnya maupun konsentrasinya. Benda-benda yang dikatagorikan dalam golongan ini adalah benda-benda yang memiliki sifat mudah terbakar, korosif, mudah menularkan penyakit, dan reaktif. Sampah B3 ini tidak bisa dicampurkan dengan sampah lain.
Sampah Sumber Masalah Lingkungan
Sampah yang sedemikian besar tentunya bisa menjadi bom waktu bila masalah sampah ini tidak tertangani dengan baik. Salah satu kasus tidak dikelolanya sampah dengan baik adalah Longsornya sampah TPA[5] Leuwigajah. Kejadian itu mengakibatkan dua desa yang berdekatan dengan lokasi TPA terkubur,143 orang tewas dan 139 rumah terkubur. Hal ini menjadi catatan kelam Bangsa Indonesia sebagai tragedi yang diakibatkan oleh buruknya pengelolaan sampah terbesar di Indonesia dan bahkan terbesar kedua di dunia setelah peristiwa tewasnya 200 orang di TPA Payatas di Quezon City, Filipina tahun 2000[6].
Sampah berpotensi mengandung berbagai bahan pencemar, seperti pencemar biologis yang terdiri dari bakteri, virus, jamur, protozoa dan sebagainya baik yang bersifat patogen maupun tidak yang bisa menyebabkan suatu penyakit. Di sisi lain, banyak sekali pencemar anorganik dalam setiap sampah yang memiliki sifat sulit diuraikan secara alami seperti plastik yang mampu bertahan ratusan tahun dan hal ini menyebabkan sampah jenis ini bisa terus menumpuk tanpa bisa dikurangi keberadaanya di alam.
Di samping kedua hal yang telah disebutkan di atas sampah pun mengandung bahan yang mengandung racun (toxic) seperti sisa-sisa obat, baterai yang mengandung logam berat seperti merkuri yang menyebabkan penyakit minamata dan asbes yang diindikasikan mengandung karsinogen, penyebab utama timbulnya sel kanker. Maka, pada dasarnya, sampah memiliki kaitan erat dengan kesehatan dan kehidupan manusia secara umum.
Sekalipun sampah merupakan produk sisa, namun sesungguhnya merupakan sebagai suatu “rantai makanan” bagi organisme tingkat rendah. Sampah jika dikaitkan dengan ekosistemnya disebut sebagai Dendritus Food Chain[7]. Sampah organik memiliki sifat mudah busuk. Senyawa sulfat yang berada di dalam sampah diubah menjadi sulfida oleh bakteri pembusuk. Proses pembusukkan ini mereaksikan laktat dan sulfat menjadi asetat, sulfida, air, dan karbon dioksida. Sedangkan ion sulfida akan bereaksi dengan H+ dan Fe2+ menjadi H2S dan FeS. Reaksi inilah yang menyebabkan sampah menghasilkan cairan hitam berbau busuk dan sering disebut air lindi (leachate)[8].
Karena sampah bisa mengakibatkan pencemaran, maka tempat pembuangan sampah harus dijauhi dari pemukiman penduduk dan sumber-sumber air. Apabila sampah tidak dikelola dengan baik maka sampah bisa menyebabkan suatu efek negatif seperti:
1. Mewabahnya lebih dari 25 jenis penyakit misalnya diare, keracunan, koreng, kolera, tifus, demam berdarah, penyakit kulit, dan lain-lain.
2. merusak keindahan lingkungan sehingga menimbulkan lingkungan yang tidak memberi rasa nyaman.
3. Menimbulkan bau yang tidak sedap dan polusi udara akibat pembakaran dan proses pembusukan sampah.
4. Meningkatnya penyakit ISPA[9] di masyarakat sekitar TPA karena polusi udara.
5. Turunnya kualitas air akibat dari masuknya air lindi ke dalam tanah dan mencemari air tanah.
6. Turunnya kadar oksigen dalam air karena oksigen yang ada di dalam air digunakan oleh bakteri untuk menguraikan sampah organik tersebut.
7. Uap air tercemar sampah yang turun bersama hujan menyebabkan kerusakan pada logam karena mengandung garam yang bersifat korosif.
8. Sampah masuk ke dalam saluran air bisa menyumbat aliran air, akibatnya air akan meluap dan terjadilah banjir.
9. Sampah di sungai dapat mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga volume air yang dapat ditampung oleh sungai tidak maksimal.
10. Gas-gas seperti metana dan karbon dioksida yang dihasilkan selama degradasi sampah dapat membahayakan kesehatan dan mematikan.
11. sampah dapat menimbulkan kondisi yang tidak normal, misalnya kenaikan suhu dan perubahan pH (derajat keasaman suatu zat) sehingga tidak memungkinkan makhuk hidup dapat hidup dengan baik.
12. Tingkat tingkat kadar garam di dalam tanah akan menjadi sangat tinggi sehingga pemulihan tanah untuk tujuan pertanian akan memakan waktu sangat lama.
13. Dari sisi ekonomi, Hal ini menyebabkan harga jual tanah di daerah TPA menjadi turun karena dianggap daerah yang berpolusi.
Ubahlah Paradigma Sampahmu...!
Selama ini, sampah selalu dipandang sebagai hal yang kotor, tidak berguna, bau, menjijikan, dan sumber penyakit. Paradigma inilah yang menyebabkan sedikit sekali orang yang mau peduli dengan sampah Paradigma ini jelas membuat ruang lingkup penanganan sampah menjadi sempit dalam prakteknya. Selama ini pasti tidak ada yang.mengira bahwa bahan yang yang tidak berguna dan dibuang oleh seseorang mempunyai nilai yang sangat tinggi jika diolah dengan serius.
Paradigma masyarakat dalam memaknai sampah sebagai barang yang tidak berguna sehingga perlu dibuang atau disingkarkan menghapuskan pemikiran ‘pemanfaatan kembali’ (re-use) pada sampah-sampah tersebut. Di sisi lain, makna kebersihan yang mendera pikiran kita adalah bentuk penyingkiran atau pemindahan sampah dari suatu tempat ke tempat lain tidak peduli sampah yang kita buang juga akan mengotori tempat yang lain. Menurut Sri Hartati Samhadi, sindrom ini dapat diistilahkan sebagai “sindrom” NIMBY (Not In My Back Yard)-[10] dalam pengelolaan sampah. Sikap masa bodoh dan acuh tak acuh terhadap sampah sudah seharusnya diganti dengan budaya yang lebih mencerminkan tingkat kedewasaan masyarakat. Ubahlah kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah.
Berpikirlah kreatif...! Selama ini, manusia tidak bisa selalu mengandalkan alam sebagai ladang usahanya. Dengan sedikit polesan kekreatifan, tumpukan sampah bisa menjadi alternatif yang bisa diandalkan untuk bahan produksi. Dengan bahan yang sangatlah melimpah disertai teknologi, bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, setumpuk sampah bisa menjadi sesuatu yang diperebutkan karena manusia sudah menemukan “tambang emas” yang selama ini tidak disadari dan selama ini kehadirannya dibiarkan terkubur di dalam tumpukan sampah.
Seperti hewan pengurai yang membantu alam dalam menjaga keseimbangannya, seorang manusia yang jeli bisa mendapatkan keuntungan yang besar dan juga sekaligus bisa menjadi kader-kader lingkungan yang handal. Para “makhluk pengurai” tersebut akan menciptakan sebuah siklus yang selama ini tidak berjalan yaitu siklus yang dinamakan oleh penulis dengan sebutan “siklus sampah”.
Bila sampah dikelola dengan baik, sampah yang tidak berguna itu dapat diubah menjadi banyak hal seperti bahan pembuatan pupuk kompos, briket arang sampah, makanan ternak, bahan daur ulang, sumber pembangkit listrik, material reklamasi pantai, media budidaya jamur, bahan pembuatan pestisida organik, bahan batako, sumber biogas,bahan bioplastik dan biodiesel, media produksi PST[11] , media produksi vitamin, penyubur plankton, dan lain-lain. Maka, jangan anggap remeh sampah, karena ada harta terpendam di dalamnya.
Sampah, Tanggung Jawab Bersama
Seharusnya permasalahan sampah diselesaikan dari akarnya. Permasalahan sampah yang ada selama ini di Indonesia terkesan tidak pernah bisa memberikan solusi yang tepat karena masyarakat kurang ikut ambil bagian di dalam penanganan sampah. Padahal, masyarakat yang merupakan produsen sampah dan seharusnya turut mengambil bagian dalam penanganan sampah karena pada dasarnya masalah sampah berkaitan erat dengan gaya hidup dan budaya masyarakat.
Kini, sudah saatnya pendidikan pada masyarakat mengenai penanganan sampah menjadi program pemerintah. Keberhasilan dalam pengelolaan sampah seharusnya bisa terwujud jika konsep penanganan sampah 3R (reduce, reuse, recycle) dan composting sudah dilakukan dari tingkat wilayah terendah misalnya kecamatan, kelurahan, RW, RT, bahkan sampai tingkat wilayah terendah yaitu rumah masing-masing. Perlakuan sampah dengan cara seperti ini sesuai dengan prinsip pengolahan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya.
Penanganan sampah yang efektif adalah penanganan sampah yang dilakukan dengan cara melibatkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Selama ini, pengelolaan sampah terkesan tidak efektif karena pengelolaan sampah tidak ditempatkan kembali pada basis masyarakat.
Peran masyarakat dalam pengelolaan sampah sangatlah penting. Sebagai konsumen, masyarakat perlu disadarkan melalui edukasi publik untuk sebisa mungkin mengurangi konsumsi produk-produk yang bisa mencemari lingkungan. Sebagai produsen, masyarakat perlu intensif dari permerintah misalnya diadakannya undang-undang atau peraturan untuk mencegah produsen memproduksi barang yang tidak ramah lingkungan. Pengelolaan sampah secara mandiri sangatlah penting, mengingat kemampuan pemerintah dalam penanganan sampah sangatlah terbatas. Usaha sedikit demi sedikit misalnya mulai memilah-milah sampah dari rumah dan mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan masyarakat sangatlah membantu menangani permasalahan sampah.
Dari kenyataan yang ada di atas, maka sudah selayaknya sampah perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak. Urusan sampah pada dasarnya tidak hanya urusan pemerintah saja, tetapi juga masyarakat. Masing-masing pihak memiliki kepentingan yang sama yaitu membuat sebuah komunitas yang beradab demi kesejahteraan hidup bersama. Tidaklah salah jika diperlukan suatu sinergi (hubungan kerja sama yang kreatif) sehingga mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi kedua pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Hartana, Albertus. 1983. Sampah Sampah Sampah, Sebuah Karya Tulis. Magelang: Seminari Menegah Mertoyudan.
Cheon, Kim Seok. 2006. Tiga Menit Belajar Pengetahuan Umum. Jakarta: BIP.
Daryanto. 2004. Masalah Pencemaran. Bandung: Tarsito.
Apriaji, Wied Harry. 2005. Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hurhidayat dan Setyo Purwedro. 2006. Mengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sudrajat, H.R. 2006. Mengelola Sampah Kota. Jakarta: Penebar Swadaya.
Simamora, Suhut. 2005.Membuat Biogas. Bogor: Agromedia Pustaka,
Suhadi. 1984.Sampah dan Lingkungan Hidup Manusia. Jakarta: Kucica.
Tochija, Itoc dan Budiman. 2005.Tragedi Leuwigajah. Bogor: Penerbit Buku Ilmiah Populer.
[1] -, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta,1994) hal 776
[2] Kim Seok Cheon, 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum, (Jakarta, 2006) hal 23
[3] HM. Itoc Tochija, Tragedi Leuwigajah, (Jakarta,2005) hal. 126
[4] Volume Borobudur diperkirakan sekitar 55.000 meter kubik
[5] TPA adalah singkatan dari Tempat Pembuangan Akhir
[6] HM. Itoc Tochija, Tragedi Leuwigajah, (Jakarta,2005) hal. 5
[7] Dendritus Food Chain: sampah yang masih berfungsi dalam suatu rantai tersendiri.
[8] Leachate;cairan yang mengandung zat padat tersuspensi yang sangat halus dan merupakan hasil dari penguraian mikroba.
[9] ISPA adalah singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas.
[10] Terjemahan bebasnya di dalam bahasa Indonesia adalah asal bukan di halaman belakang rumah saya
[11] PST singkatan dari Protein Sel Tunggal
Sekilas Mengenal Sampah
Sampah adalah konsekuensi dari kehidupan manusia. Tidak bisa dipungkiri, selama manusia beraktivitas, maka sampah akan selalu hadir. Dilihat dari pengertiannya, sampah berarti barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi[1].
Kini sampah menjadi masalah yang kompleks karena makin lama jumlah manusia yang hidup di dunia semakin bertambah. Padahal pada awalnya jumlah manusia sangatlah sedikit, namun pada perkembangannya manusia semakin lama semakin banyak. Awalnya pengaruh perkembangan jumlah populasi manusia tidak terlalu berarti dalam merusak lingkungan. Kehidupan yang masih bersatu dengan alam, jumlah manusia pun sedikit, dan ekploitasi alam tidak terlampau besar menyebabkan alam tidak mengalami kerusakan yang berarti. Mungkin, ada sedikit kerusakan tetapi intensitasnya masih sangatlah kecil dan alam pun segera bisa pulih kembali karena alam mempunyai kemampuan untuk menjaga kelestariannya yang biasa kita sebut sebagai proses suksesi.
Pengaruh manusia terhadap alam pun berubah seiring dengan makin banyaknya jumlah populasi manusia. Kecenderungannya, makin banyak jumlah manusia berarti semakin banyak pula kebutuhan primer yang harus dipenuhi agar manusia bisa mempertahankan hidupnya sehingga ekploitasi terhadap alam semakin intensif.
Jumlah sampah yang dihasilkan sebanding dengan jumlah barang yang manusia konsumsi, semakin banyak barang yang manusia konsumsi berarti semakin banyak pula sampah yang dihasilkan dan begitu pulalah sebaliknya. Bila manusia tidak hati-hati, bukan tidak mungkin masalah ini justru akan menjadi bom waktu dan pada akhirnya akan menyengsarakan umat manusia sendiri.
Menurut HM Itoc Tochija (2005:115), pada tahun 1984, rata–rata setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah sekitar 2,3 liter atau sebanding dengan 0,575 kg. Namun, setiap tahunnya, produksi sampah tersebut terus meningkat. Kini, diperkirakan sampah yang dihasilkan setiap orang bisa sampai mendekati 1 kg. Menurut Kim Seok Cheon, satu orang saja dapat menghasilkan sampah sekitar 55 ton sampah semasa hidupnya, maka dapat dibayangkan seberapa banyak sampah yang dihasilkan manusia di seluruh dunia.[2] Untuk kota Jakarta saja pada tahun 2000, sampah yang dihasilkan dalam satu tahun mencapai 9.252.000 meter kubik[3] atau setara dengan 170 kali volume candi Borobudur.[4]Bila sampah tidak tertangani dengan baik, bukan mustahil, beberapa tahun ke depan, Jakarta akan tenggelam oleh sampah yang diproduksinya.
Secara garis besar, menurut Setyo Purwendro dan Nurhidayat (2006:6), sampah dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
a.Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahan sampah organik biasanya berjumlah sekitar 60-75% dari total volume sampah.
b. Sampah anorganikSampah anorganik adalah sampah yang berasal bukan dari makhluk hidup. Sampah ini bisa berasal dari bahan yang bisa diperbarui dan bahan yang beracun serta berbahaya. Sampah yang masuk ke dalam golongan ini adalah sampah yang terbuat dari plastik dan logam.
c. Sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya)
Sampah B3 adalah sampah yang dikategorikan beracun dan berbahaya bagi manusia karena jumlahnya maupun konsentrasinya. Benda-benda yang dikatagorikan dalam golongan ini adalah benda-benda yang memiliki sifat mudah terbakar, korosif, mudah menularkan penyakit, dan reaktif. Sampah B3 ini tidak bisa dicampurkan dengan sampah lain.
Sampah Sumber Masalah Lingkungan
Sampah yang sedemikian besar tentunya bisa menjadi bom waktu bila masalah sampah ini tidak tertangani dengan baik. Salah satu kasus tidak dikelolanya sampah dengan baik adalah Longsornya sampah TPA[5] Leuwigajah. Kejadian itu mengakibatkan dua desa yang berdekatan dengan lokasi TPA terkubur,143 orang tewas dan 139 rumah terkubur. Hal ini menjadi catatan kelam Bangsa Indonesia sebagai tragedi yang diakibatkan oleh buruknya pengelolaan sampah terbesar di Indonesia dan bahkan terbesar kedua di dunia setelah peristiwa tewasnya 200 orang di TPA Payatas di Quezon City, Filipina tahun 2000[6].
Sampah berpotensi mengandung berbagai bahan pencemar, seperti pencemar biologis yang terdiri dari bakteri, virus, jamur, protozoa dan sebagainya baik yang bersifat patogen maupun tidak yang bisa menyebabkan suatu penyakit. Di sisi lain, banyak sekali pencemar anorganik dalam setiap sampah yang memiliki sifat sulit diuraikan secara alami seperti plastik yang mampu bertahan ratusan tahun dan hal ini menyebabkan sampah jenis ini bisa terus menumpuk tanpa bisa dikurangi keberadaanya di alam.
Di samping kedua hal yang telah disebutkan di atas sampah pun mengandung bahan yang mengandung racun (toxic) seperti sisa-sisa obat, baterai yang mengandung logam berat seperti merkuri yang menyebabkan penyakit minamata dan asbes yang diindikasikan mengandung karsinogen, penyebab utama timbulnya sel kanker. Maka, pada dasarnya, sampah memiliki kaitan erat dengan kesehatan dan kehidupan manusia secara umum.
Sekalipun sampah merupakan produk sisa, namun sesungguhnya merupakan sebagai suatu “rantai makanan” bagi organisme tingkat rendah. Sampah jika dikaitkan dengan ekosistemnya disebut sebagai Dendritus Food Chain[7]. Sampah organik memiliki sifat mudah busuk. Senyawa sulfat yang berada di dalam sampah diubah menjadi sulfida oleh bakteri pembusuk. Proses pembusukkan ini mereaksikan laktat dan sulfat menjadi asetat, sulfida, air, dan karbon dioksida. Sedangkan ion sulfida akan bereaksi dengan H+ dan Fe2+ menjadi H2S dan FeS. Reaksi inilah yang menyebabkan sampah menghasilkan cairan hitam berbau busuk dan sering disebut air lindi (leachate)[8].
Karena sampah bisa mengakibatkan pencemaran, maka tempat pembuangan sampah harus dijauhi dari pemukiman penduduk dan sumber-sumber air. Apabila sampah tidak dikelola dengan baik maka sampah bisa menyebabkan suatu efek negatif seperti:
1. Mewabahnya lebih dari 25 jenis penyakit misalnya diare, keracunan, koreng, kolera, tifus, demam berdarah, penyakit kulit, dan lain-lain.
2. merusak keindahan lingkungan sehingga menimbulkan lingkungan yang tidak memberi rasa nyaman.
3. Menimbulkan bau yang tidak sedap dan polusi udara akibat pembakaran dan proses pembusukan sampah.
4. Meningkatnya penyakit ISPA[9] di masyarakat sekitar TPA karena polusi udara.
5. Turunnya kualitas air akibat dari masuknya air lindi ke dalam tanah dan mencemari air tanah.
6. Turunnya kadar oksigen dalam air karena oksigen yang ada di dalam air digunakan oleh bakteri untuk menguraikan sampah organik tersebut.
7. Uap air tercemar sampah yang turun bersama hujan menyebabkan kerusakan pada logam karena mengandung garam yang bersifat korosif.
8. Sampah masuk ke dalam saluran air bisa menyumbat aliran air, akibatnya air akan meluap dan terjadilah banjir.
9. Sampah di sungai dapat mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga volume air yang dapat ditampung oleh sungai tidak maksimal.
10. Gas-gas seperti metana dan karbon dioksida yang dihasilkan selama degradasi sampah dapat membahayakan kesehatan dan mematikan.
11. sampah dapat menimbulkan kondisi yang tidak normal, misalnya kenaikan suhu dan perubahan pH (derajat keasaman suatu zat) sehingga tidak memungkinkan makhuk hidup dapat hidup dengan baik.
12. Tingkat tingkat kadar garam di dalam tanah akan menjadi sangat tinggi sehingga pemulihan tanah untuk tujuan pertanian akan memakan waktu sangat lama.
13. Dari sisi ekonomi, Hal ini menyebabkan harga jual tanah di daerah TPA menjadi turun karena dianggap daerah yang berpolusi.
Ubahlah Paradigma Sampahmu...!
Selama ini, sampah selalu dipandang sebagai hal yang kotor, tidak berguna, bau, menjijikan, dan sumber penyakit. Paradigma inilah yang menyebabkan sedikit sekali orang yang mau peduli dengan sampah Paradigma ini jelas membuat ruang lingkup penanganan sampah menjadi sempit dalam prakteknya. Selama ini pasti tidak ada yang.mengira bahwa bahan yang yang tidak berguna dan dibuang oleh seseorang mempunyai nilai yang sangat tinggi jika diolah dengan serius.
Paradigma masyarakat dalam memaknai sampah sebagai barang yang tidak berguna sehingga perlu dibuang atau disingkarkan menghapuskan pemikiran ‘pemanfaatan kembali’ (re-use) pada sampah-sampah tersebut. Di sisi lain, makna kebersihan yang mendera pikiran kita adalah bentuk penyingkiran atau pemindahan sampah dari suatu tempat ke tempat lain tidak peduli sampah yang kita buang juga akan mengotori tempat yang lain. Menurut Sri Hartati Samhadi, sindrom ini dapat diistilahkan sebagai “sindrom” NIMBY (Not In My Back Yard)-[10] dalam pengelolaan sampah. Sikap masa bodoh dan acuh tak acuh terhadap sampah sudah seharusnya diganti dengan budaya yang lebih mencerminkan tingkat kedewasaan masyarakat. Ubahlah kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah.
Berpikirlah kreatif...! Selama ini, manusia tidak bisa selalu mengandalkan alam sebagai ladang usahanya. Dengan sedikit polesan kekreatifan, tumpukan sampah bisa menjadi alternatif yang bisa diandalkan untuk bahan produksi. Dengan bahan yang sangatlah melimpah disertai teknologi, bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, setumpuk sampah bisa menjadi sesuatu yang diperebutkan karena manusia sudah menemukan “tambang emas” yang selama ini tidak disadari dan selama ini kehadirannya dibiarkan terkubur di dalam tumpukan sampah.
Seperti hewan pengurai yang membantu alam dalam menjaga keseimbangannya, seorang manusia yang jeli bisa mendapatkan keuntungan yang besar dan juga sekaligus bisa menjadi kader-kader lingkungan yang handal. Para “makhluk pengurai” tersebut akan menciptakan sebuah siklus yang selama ini tidak berjalan yaitu siklus yang dinamakan oleh penulis dengan sebutan “siklus sampah”.
Bila sampah dikelola dengan baik, sampah yang tidak berguna itu dapat diubah menjadi banyak hal seperti bahan pembuatan pupuk kompos, briket arang sampah, makanan ternak, bahan daur ulang, sumber pembangkit listrik, material reklamasi pantai, media budidaya jamur, bahan pembuatan pestisida organik, bahan batako, sumber biogas,bahan bioplastik dan biodiesel, media produksi PST[11] , media produksi vitamin, penyubur plankton, dan lain-lain. Maka, jangan anggap remeh sampah, karena ada harta terpendam di dalamnya.
Sampah, Tanggung Jawab Bersama
Seharusnya permasalahan sampah diselesaikan dari akarnya. Permasalahan sampah yang ada selama ini di Indonesia terkesan tidak pernah bisa memberikan solusi yang tepat karena masyarakat kurang ikut ambil bagian di dalam penanganan sampah. Padahal, masyarakat yang merupakan produsen sampah dan seharusnya turut mengambil bagian dalam penanganan sampah karena pada dasarnya masalah sampah berkaitan erat dengan gaya hidup dan budaya masyarakat.
Kini, sudah saatnya pendidikan pada masyarakat mengenai penanganan sampah menjadi program pemerintah. Keberhasilan dalam pengelolaan sampah seharusnya bisa terwujud jika konsep penanganan sampah 3R (reduce, reuse, recycle) dan composting sudah dilakukan dari tingkat wilayah terendah misalnya kecamatan, kelurahan, RW, RT, bahkan sampai tingkat wilayah terendah yaitu rumah masing-masing. Perlakuan sampah dengan cara seperti ini sesuai dengan prinsip pengolahan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya.
Penanganan sampah yang efektif adalah penanganan sampah yang dilakukan dengan cara melibatkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Selama ini, pengelolaan sampah terkesan tidak efektif karena pengelolaan sampah tidak ditempatkan kembali pada basis masyarakat.
Peran masyarakat dalam pengelolaan sampah sangatlah penting. Sebagai konsumen, masyarakat perlu disadarkan melalui edukasi publik untuk sebisa mungkin mengurangi konsumsi produk-produk yang bisa mencemari lingkungan. Sebagai produsen, masyarakat perlu intensif dari permerintah misalnya diadakannya undang-undang atau peraturan untuk mencegah produsen memproduksi barang yang tidak ramah lingkungan. Pengelolaan sampah secara mandiri sangatlah penting, mengingat kemampuan pemerintah dalam penanganan sampah sangatlah terbatas. Usaha sedikit demi sedikit misalnya mulai memilah-milah sampah dari rumah dan mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan masyarakat sangatlah membantu menangani permasalahan sampah.
Dari kenyataan yang ada di atas, maka sudah selayaknya sampah perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak. Urusan sampah pada dasarnya tidak hanya urusan pemerintah saja, tetapi juga masyarakat. Masing-masing pihak memiliki kepentingan yang sama yaitu membuat sebuah komunitas yang beradab demi kesejahteraan hidup bersama. Tidaklah salah jika diperlukan suatu sinergi (hubungan kerja sama yang kreatif) sehingga mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi kedua pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Hartana, Albertus. 1983. Sampah Sampah Sampah, Sebuah Karya Tulis. Magelang: Seminari Menegah Mertoyudan.
Cheon, Kim Seok. 2006. Tiga Menit Belajar Pengetahuan Umum. Jakarta: BIP.
Daryanto. 2004. Masalah Pencemaran. Bandung: Tarsito.
Apriaji, Wied Harry. 2005. Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hurhidayat dan Setyo Purwedro. 2006. Mengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sudrajat, H.R. 2006. Mengelola Sampah Kota. Jakarta: Penebar Swadaya.
Simamora, Suhut. 2005.Membuat Biogas. Bogor: Agromedia Pustaka,
Suhadi. 1984.Sampah dan Lingkungan Hidup Manusia. Jakarta: Kucica.
Tochija, Itoc dan Budiman. 2005.Tragedi Leuwigajah. Bogor: Penerbit Buku Ilmiah Populer.
[1] -, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta,1994) hal 776
[2] Kim Seok Cheon, 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum, (Jakarta, 2006) hal 23
[3] HM. Itoc Tochija, Tragedi Leuwigajah, (Jakarta,2005) hal. 126
[4] Volume Borobudur diperkirakan sekitar 55.000 meter kubik
[5] TPA adalah singkatan dari Tempat Pembuangan Akhir
[6] HM. Itoc Tochija, Tragedi Leuwigajah, (Jakarta,2005) hal. 5
[7] Dendritus Food Chain: sampah yang masih berfungsi dalam suatu rantai tersendiri.
[8] Leachate;cairan yang mengandung zat padat tersuspensi yang sangat halus dan merupakan hasil dari penguraian mikroba.
[9] ISPA adalah singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas.
[10] Terjemahan bebasnya di dalam bahasa Indonesia adalah asal bukan di halaman belakang rumah saya
[11] PST singkatan dari Protein Sel Tunggal
Langganan:
Postingan (Atom)

