Jumat, 27 Februari 2009

Duc in altum de architectura

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Disadari atau tidak, dunia arsitektural mengalami revolusi yang demikian cepat. Kini,Bangunan tidak lagi sekedar menjadi kebutuhan akan tempat bernaung dan berlindung tetapi jauh melampaui dari itu semua yakni menjadi sebuah bagian dari gaya hidup manusia. Arsitektur dianggap bisa mengekspresikan diri dari pemiliknya sekaligus bisa menciptakan trend an komoditi yang selalu berubah-ubah tak ubahnya tren mode pakaian di saat ini.
Dalam dunia arsitektur, khususnya dalam cara pandang menurut segi material, pada mulanya, fungsi mengatur material. Pada zaman revolusi industri, terjadi perubahan yang sangat berbeda dengan paradigma yang jauh berbeda dengan masa sebelumnya yakni material mengatur fungsi. Perkembangan pun terus berlanjut. Pada abad 19, muncul aliran Historicism par excellence yang begitu menekankan pada gaya sehingga terjadi lagi pergeseran paradigma yakni gaya mengatur fungsi. Langgam gaya bangunan dalam arsitektur pun dikenal ada begitu banyak mulai dari gaya klasik sebagai symbol dari demokrasi, gaya Palladio sebagai symbol dari anti feodalisme, gaya barok sebagai symbol dari keindahan yang tertinggi dengan ciri hiasan dan ornament yang begitu ditonjolkan, gaya renaisaince sebagai symbol dari pencerahan, gaya rococo sebagai symbol dari pendidikan seni, gaya Victorian sebagai symbol keramahtamahan, sampai pada gaya modern yang berusaha membebaskan dirinya dari gaya yang sudah menyejarah dengan bentuk-bentuk geometrinya sehingga menciptakan gaya yang universal.
Tren arsitektur semacam itu pun nampaknya mulai menggejala di Indonesia. Kini, sebagian masyarakat pun berlomba-lomba menciptakan bangunan seturut tren yang berkembang saat ini di dunia. Tak dapat dipungkiri,hal semacam ini memang bisa jadi menjadi sebuah indikator baru berkembangnya dunia properti di Indonesia tetapi bila tidak hati-hati, tren yang berkembang dan diadopsi mentah-mentah oleh masyarakat Indonesia itu bisa menjadi boomerang tersediri bagi para penggunanya sebab tidak semua hal dari tren yang ada dapat cocok dengan keadaan di Indonesia.





B. Tujuan Penulisan

Segala hal dan aktivitas di dunia ini tentunya tidak akan berarti bila tidak disertai dengan tujuan. Memang, karya tulis ini disusun untuk melengkapi persyaratan mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) tetapi karya tulis ini disusun bukan sekedar memenuhi kewajiban belaka namun penulis sadar melalui karya tulis ini, penulis mencoba berusaha mengembangkan kemampuan dan pengetahuan penulis dan pembaca.
Melalui karya tulis ini, penulis mencoba mengajak pembaca melihat lebih dalam mengenai hakekat dari terciptanya sebuah bangunan dengan berlandaskan pada syarat-syarat terciptanya good building. Dengan semangat duc in altum de Architectura (Bahasa Latin: bertolak ke tempat yang dalam mengenai arsitektur), penulis mencoba mengkritisi perkembangan arsitektural di Indonesia dengan mengkomparasikan kenyataan yang ada di masyarakat dengan teori-teori yang telah diberikan dalam pelajaran Pengantar Arsitektur dengan menyertakan contoh bangunan yang dianggap oleh penulis adalah bangunan yang baik

C. Metode Penulisan

Penulisan karya tulis ii tentunya dilakukan dengan memperhatikan berbagia tahap sehingga diharapkan mendapatkan hasil yang sistematis. Dalam karya tulis ini, penulis memakai beberapa tahap sehingga dalam proses penyusunannya terbagi menjadi lima bagian yakni:
1. Pengumpulan data
Data-data yang ada dalam karya tulis ini tentunya bersandarkan pada data-data yang telah ada dan dibuat oleh para ahli yang berkompeten dalam.
2. Klasifikasi Data
Penulis mengelompokkan dan memasukan data-data yang diperoleh sesuai dengan permasalahan yang diangkat oleh penulis. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pembuatan karya tulis dan mencegah tercampurnya data yang ada sehingga dalam penyajiannya dapat dipahami secara jelas
3. komparatif/pembandingan
Data-data yang sejenis dibandingkan dan dicocokkan sehingga dapat menjadi acuan dalam penarikkan kesimpulan dari permasalah yang ada.

4. sintesis data
Fata yang ada dan sudah dikelompokkan menurut golongannya dibyat alur yang jelan dan saling berhubungan antar bab dalam karya tulis ini sehingga bab-bab yang ada tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan.
5. Penulisan
Setelah melalui empat proses di atas, kemudian penulis menyusunnya secara keseluruhan dan menuliskannya di dalam karya tulis ini.

D. Sumber Data

Dalam penulisan karya tulis ini, data dan informasi diperoleh dengan beberapa cara seperti studi pustaka, observasi media massa dan mencari data-data yang diperoleh dari internet. Data-data yang ada itu dicoba diolah sehingga tersusunlah karya tulis ini






















BAB II
DASAR TEORI

A. Pengantar Awal
Seringkali ketika berhadapan dengan desain, termasuk desain arsitektur, kita seolah dihadapkan pada pilihan. Mau bagus/estetik atau fungsional? Seolah segala yang bagus cenderung tidak fungsional, demikian pula sebaliknya.Selain itu, muncul pula isu, untuk menghasilkan desain yang bagus vs murah, bagus vs cepat dibuat/dibangun, dan sebagainya.
Marcus Vitruvius Pollio, seorang “arsitek” Romawi (aktif 46-30 M), menjabarkan sebuah diktum sederhana tentang arsitektur. Menurut Vitruvius, arsitektur yang baik, yang menyatakan kebijaksanaan atau tingginya peradaban, seharusnya memenuhi tiga syarat: firmitas, utilitas, dan venustas.
Ia harus memenuhi syarat kekokohan, suatu syarat utama menyangkut kekuatan bangunan, pengamanan terhadap keselamatan pengguna, baik dalam kondisi sehari-hari maupun dalam kondisi tak terduga (force majeur); sampai suatu batas yang ditentukan, untuk jangka waktu cukup panjang.
Arsitektur juga harus memenuhi prasyarat berlangsungnya fungsi-fungsi kehidupan di dalam bangunan, secara terus-menerus dan berkelanjutan. Ini adalah soal masukan dan luaran ke dalam bangunan, menyangkut air, listrik, jalur-jalur informasi (telkom dan Internet), pengolahan limbah, aliran udara, jarak-jarak minimal perlindungan fisik dari kondisi alam dan sebagainya.
Vitruvius juga menyatakan, karya arsitektur haruslah memenuhi syarat keindahan. Hal ini adalah yang tersulit, bahkan muskil dijabarkan. Keindahan terkait dengan interpretasi pribadi. Satu hal yang indah bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain.
Keindahan juga bisa merupakan interpretasi kolektif. Satu kelompok sering berbeda pandang secara drastis dengan kelompok lain. Kesadaran kolektif tentang keindahan, nyata dalam karya-karya di dalam kultur, tradisi tertentu.
Pada setiap zaman, pada setiap periode langgam arsitektur, selalu muncul upaya membakukan interpretasi keindahan, bahkan mengarahkannya untuk menjadi nilai universal. Jika kita melihat tampilan-tampilan arsitektur Indonesia yang mirip dengan karya-karya bahkan di negara dengan perbedaan iklim begitu ekstremnya, hal itu dapat dimengerti sebagai mengacu pada estetika yang dianggap bernilai universal.
Sedemikian sulitnya menjabarkan isu keindahan dalam arsitektur sehingga terkadang arsitek-arsitek menerima bahwa karya yang indah adalah karya yang sudah memenuhi syarat “kebenaran” arsitektur, yaitu ia cukup kokoh dan bisa menjadi wadah bagi fungsi-fungsi yang berlangsung di dalamnya secara terus-menerus dan berkelanjutan.
Dalam arsitektur, dikenal kebutuhan dan keinginan yang mendasari manusia membangun sebuah bangunan, yakni:
1. Memodifikasi iklim yang ada-Kebutuhan akan tempat bernaung.
Dimulai daengan mencari tempat untuk bernaung
Memodifikasi tempat menjadi sebuah tempat bernaung
2. Memenuhi aktivitas settled-Kebutuhan akan tempat aktivitas (kering)
Membuat bentuk (stuktur untuk menampung aktivitas (ruang ) dalam tempat tertentu
3. Memenuhi aktivitas settled-Kebutuhan akan aktivitas religius
Membuat bentuk (struktur)untuk mengakomodasi aktivitas tempat pemujaan dalam tempat tertentu
4. Memenuhi aktivitas settled-Kebutuhan akan aktivitas pelayanan
Membuat bentuk (struktur)untuk mengakomodasi aktivitas ruang pelayanan dalam tempat tertentu
5. Bentuk dan aktivitas penyimbolan-kebutuhan akan identitas, pembedaan dengan yang lain
Mengartikulasikan bentuk (struktur) penandaan untuk membentuk makna dari identitas
6. Mengkomodifikasi bentuk-kebutuhan akan nilai yang lain
Mengartikulasikan bentuk (struktur) penandaan untuk membuat gaya hidup dalam komoditas
Dalam perkembangannya, terjadi perubahan pola pikir kebanyakan orang mengenai kebutuhan dan keinginan dalam membangun sebuah bangunan yakni


Pada permulaannya
Kebutuhan Keinginan
Tempat bernaung
Aktivitas
Penyimbolan
Komoditas

Dan sekarang,

Sebelum Sesudah
Keinginan Kebutuhan



Kebutuhan Kebutuhan

Kebutuhan dan keinginan manusia serta perubahannya mempengaruhi manusia dalam menciptakan bangunan. Pola pikir yang ada berdasarkan kebutuhan dan keinginan membentuk manusia dalam menciptakan sebuah bangunan. Namun, dengan terpenuhinya kebutuhan dan keinginan pengguna dalam menciptakan bangunan, tidak serta merta akan menciptakan sebuah good building karena dalam menciptakan good building, dibutuhkan empat aspek penting dan mendasar yang harus diperhatikan, yakni:
A. Climate (iklim)
B. Site (tapak)
C. Culture (Budaya)
D. Inhabitant (kebiasaan)
Keempat aspek penting dan mendasarkan tersebut akan dibahas dan diuraikan secara mendalam pada bab-bab berikutnya.





B. Climate (iklim)
Iklim adalah perubahan kondisi cuaca yang relatif tetap dan secara berkala karena pengaruh perputaran bumi (diteliti 10-20 tahun sekali), hasilnya berupa: tropis, sub tropis, dingin dan lain-lain. Sedangkan cuaca merupakan perubahan kondisi udara yang sifatnya setempat, dalam kurun waktu pendek, dan terjadi akibat bentang alam seperti pantai gunung dan padang rumput.
Iklim suatu lingkungan atau regional merupakan suatu keadaan atmosphere yang dipengaruhi oleh lima buah unsur penting yakni: suhu udara, kelembaban, angin, curah hujan, radiasi matahari. Unsur-unsur di atas tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Saling tergantung dalam memberikan karakter dari iklim daerah tersebut.
Iklim mikro adalah faktor-faktor kondisi iklim setempat yang memberikan pengaruh langsung terhadap kenikmatan (fisik) dan kenyamanan (rasa) pemakai di sebuah ruang bangunan. Sedangkan iklim makro adalah kondisi iklim pada suatu daerah tertentu yang meliputi area yang lebih besar dan mempengaruhi iklim mikro. Iklim makro dipengaruhi oleh lintasan matahari, posisi dan model geografis, yang mengakibatkan pengaruh pada cahaya matahari dan pembayangan serta hal-hal lain pada kawasan tersebut, misalnya radiasi panas, pergerakan udara, curah hujan, kelembaban udara, dan temperatur udara.
Modifier merupakan cara mengatasi iklim dengan mempergunakan teknologi tepat guna. Modifier adalah barang buatan yang mampu membuat iklim mikro yang nyaman bagi manusia, misalnya dengan:Membuka jendela pada utara–selatan, Pohon perdu diletakkan di timur, sebab angin pada bulan Maret-September kering (tidak membawa uap air), sehingga tidak lembab. Jika menanam pohon di barat, sebaiknya dipertinggi agar tidak membawa uap air masuk ke ruangan, Yang dibuka dinding timur, sehingga bila Desember, angin tidak masuk, Kamar mandi sebaiknya ditaruh di sebelah barat saja agar cepat kering (tidak lembab), Angin yang baik adalah yang lewat depan/samping (posisi bangunan tidak membelakangi angin). Angin dari bawah dan atas tidak baik.
Iklim mikro dipengaruhi oleh faktor-faktor: Orientasi bangunan, Ventilasi (lubang-lubang pembukaan di dalam ruang untuk masuknya penghawaan) ,Sun shading (penghalang cahaya matahari), Pengendalian kelembaban udara,Penggunaan bahan-bahan bangunan ,Bentuk dan ukuran ruang ,Pengaturan vegetasi
Salah satu alasan mengapa manusia membuat bangunan adalah karena kondisi alam iklim tempat manusia berada tidak selalu baik menunjang aktivitas yang dilakukannya. Aktivitas manusia yang bervariasi memerlukan kondisi iklim sekitar tertentu yang bervariasi pula. Untuk melangsungkan aktivitas kantor, misalnya, diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik dengan intensitas cahaya yang cukup; kondisi termis yang mendukung dengan suhu udara pada rentang-nyaman tertentu; dan kondisi audial dengan intensitas gangguan bunyi rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan. Karena cukup banyak aktivitas manusia yang tidak dapat diselenggarakan akibat ketidaksesuaian kondisi iklim luar, manusia membuat bangunan. Dengan bangunan, diharapkan iklim luar yang tidak menunjang aktivitas manusia dapat dimodifikasidiubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang lebih sesuai. Usaha manusia untuk mengubah kondisi iklim luar yang tidak sesuai menjadi iklim dalam (bangunan) yang sesuai seringkali tidak seluruhnya tercapai. Dalam banyak kasus, manusia di daerah tropis seringkali gagal menciptakan kondisi termis yang nyaman di dalam bangunan. Ketika berada di dalam bangunan, pengguna bangunan justru seringkali merasakan udara ruang yang panas, sehingga kerap mereka lebih memilih berada di luar bangunan. Kemudian mengapa muncul sebutan arsitektur tropis? Seolah-olah jenis arsitektur ini sepadan dengan julukan bagi arsitektur modern, modern baru dan dekonstruksi. Jenis yang disebut belakangan lebih mengarah pada pemecahan estetika seperti bentuk, ritme dan hirarki ruang. Sementara arsitektur tropis, sebagaimana arsitektur sub-tropis, adalah karya arsitektur yang mencoba memecahkan problematik iklim setempat. Bagaimana problematik iklim tropis tersebut dipecahkan secara desain atau rancangan arsitektur? Jawabannya dapat seribu satu macam. Seperti halnya yang terjadi pada arsitektur sub-tropis, arsitek dapat menjawab dengan warna pasca-modern, dekonstruksi ataupun High-Tech, sehingga pemahaman tentang arsitektur tropis yang selalu beratap lebar ataupun berteras menjadi tidak mutlak lagi. Yang penting apakah rancangan tersebut sanggup mengatasi problematik iklim tropishujan deras, terik radiasi matahari, suhu udara yang relatif tinggi, kelembapan yang tinggi (untuk tropis basah) ataupun kecepatan angin yang relatif rendahsehingga manusia yang semula tidak nyaman berada di alam terbuka, menjadi nyaman ketika berada di dalam bangunan tropis itu. Bangunan dengan atap lebar mungkin hanya mampu mencegah air hujan untuk tidak masuk bangunan, namun belum tentu mampu menurunkan suhu udara yang tinggi dalam bangunan tanpa disertai pemecahan rancangan lain yang tepat. Dengan pemahaman semacam ini, kemungkinan bentuk arsitektur tropis, sebagaimana arsitektur sub-tropis, menjadi sangat terbuka. Ia dapat bercorak atau berwarna apa saja sepanjang bangunan tersebut dapat mengubah kondisi iklim luar yang tidak nyaman, menjadi kondisi yang nyaman bagi manusia yang berada di dalam bangunan itu. Dengan pemahaman semacam ini pula, kriteria arsitektur tropis tidak perlu lagi hanya dilihat dari sekedar 'bentuk' atau estetika bangunan beserta elemen-elemennya, namun lebih kepada kualitas fisik ruang yang ada di dalamnya: suhu ruang rendah, kelembapan relatif tidak terlalu tinggi, pencahayaan alam cukup, pergerakan udara (angin) memadai, terhindar dari hujan, dan terhindar dari terik matahari. Penilaian terhadap baik atau buruknya sebuah karya arsitektur tropis harus diukur secara kuantitatif menurut kriteria-kriteria fluktuasi suhu ruang (dalam unit derajat Celcius); fluktuasi kelembapan (dalam unit persen); intensitas cahaya (dalam unit lux); aliran atau kecepatan udara (dalam unit meter per detik); adakah air hujan masuk bangunan; serta adakah terik matahari mengganggu penghuni dalam bangunan. Dalam bangunan yang dirancang menurut kriteria seperti ini, pengguna bangunan dapat merasakan kondisi yang lebih nyaman dibanding ketika mereka berada di alam luar. Penulis menganggap bahwa definisi atau pemahaman tentang arsitektur tropis di Indonesia hingga saat ini cenderung keliru. Arsitektur tropis sering sekali dibicarakan, didiskusikan, diseminarkan dan diperdebatkan oleh mereka yang memiliki keahlian dalam bidang sejarah atau teori arsitektur. Arsitektur tropis seringkali dilihat dari konteks 'budaya'. Padahal kata 'tropis' tidak ada kaitannya dengan budaya atau kebudayaan, melainkan berkaitan dengan 'iklim'. Pembahasan arsitektur tropis harus didekati dari aspek iklim. Mereka yang mendalami persoalan iklim dalam arsitekturpersoalan yang cenderung dipelajari oleh disiplin ilmu sains bangunan (fisika bangunan)akan dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan terukur secara kuantitatif. Mereka yang dianggap ahli dalam bidang arsitektur tropis Koenigsberger, Givoni, Kukreja, Sodha, Lippsmeier dan Nick Bakermemiliki spesialisasi keilmuan yang berkaitan dengan sains bangunan, bukan ilmu sejarah atau teori arsitektur. Kekeliruan pemahaman mengenai arsitektur tropis di Indonesia nampaknya dapat dipahami, karena pengertian arsitektur tropis sering dicampuradukkan dengan pengertian 'arsitektur tradisional' di Indonesia, yang memang secara menonjol selalu dipecahkan secara tropis. Pada masyarakat tradisional, iklim sebagai bagian dari alam begitu dihormati bahkan dikeramatkan, sehingga pertimbangan iklim amat menonjol pada karya arsitektur tersebut. Manusia Indonesia cenderung akan membayangkan bentuk-bentuk arsitektur tradisional Indonesia ketika mendengar istilah arsitektur tropis. Dengan bayangan iniyang sebetulnya tidak seluruhnya benarpembicaraan mengenai arsitektur tropis akan selalu diawali. Dari sini pula pemahaman mengenai arsitektur tropis lalu memiliki konteks dengan budaya, yakni kebudayaan tradisional Indonesia. Hanya mereka yang mendalami ilmu sejarah dan teori arsitektur yang mampu berbicara banyak mengenai budaya dalam kaitannya dengan arsitektur, sementara arsitektur tropis (basah) tidak hanya terdapat di Indonesia, akan tetapi di seluruh negara yang beriklim tropis (basah) dengan budaya yang berbeda-beda, sehingga pendekatan arsitektur tropis dari aspek budaya menjadi tidak relevan. Dari uraian di atas, perlu ditekankan kembali bahwa pemecahan rancangan arsitektur tropis (basah) pada akhirnya sangatlah terbuka. Arsitektur tropis dapat berbentuk apa sajatidak harus serupa dengan bentuk-bentuk arsitektur tradisional yang banyak dijumpai di wilayah Indonesia, sepanjang rancangan bangunan tersebut mengarah pada pemecahan persoalan yang ditimbulkan oleh iklim tropis seperti terik matahari, suhu tinggi, hujan dan kelembapan tinggi.

C. Site (tapak)
Jika perencana ingin merealisasikan proposal royek ke dalam tapak, pertama harus meneliti kesesuaian rencananya dengan struktur yang telah ada di tapak. Arsitek harus melihat semua struktur yang mungkin kurang sesuai dengan karakter struktur yang akan digunakan di lokasi tersebut.
Meskipun struktur yang telah ada tampak bagus, tapi jika tidak sesuai dengan karakter proyek yang diusulkan dalam proposal, maka kemungkinan hasilnya tidak memuaskan karena tidak terjadi keharmonisan dalam tapak. Pembangunan yang harmonis adalah yang sesuai dengan karakteristik alami tapak,seperti garis bentuk pepohonan, bentuk topografis, serta kontur lahan misalnya lembah yang indah. Sebagai contoh: Sekolah dengan taman bermain yang terletak di kawasan taman dekat pusat komunitas yang dapat dijangkau dengan aman melalui jalur pejalan kaki; Pabrik dengan unit produksi yang teratur, tangki-tangki, area penyimpanan, dan ruang parkir yang ke semuanya direncanakan berhubungan dengan memikirkan jalur pejalan kaki, jalur-jalur lalu lintas, atau dermaga pelabuhan.
Dalam banyak kasus, sebuah proyek pendekatan kepada dimulai tanpa mempertanyakan penerimaan publik pada lokasi yang tidak sesuai. Hal ini merupakan kesalahan pokok dalam perencanaan. Yang penting, walau bukan yang terpenting, fungsi seorang perencana terkadang sulit, terkadang mempunyai tugas yang sukar dalam membimbing pengusaha dalam memilih tempat yang paling memungkinkan dalam sebuah proyek.
Arsitek berperan penasehat, harus mampu menentukan kebutuhan untuk spekulasi yang ada dan mampu meningkatkan hal-hal yang relatif positif darisituasi-situasi alternative Jadikan hal itu sebagai sebuah pusat pembangkit energi, sebuah kota yang baru, atau sebuah toko kue. Selanjutnya kita harus mengamati dan menelusuri wilayah yang akan menjadi lokasi. Untuk membantu tugas ini kita memiliki beberapa peralatan yang dapat membantu, seperti fotografi wilayah dan daerah, peta US Geological Survey (USGS), peta jalan, peta transportasi, data komisi perencanaan, peta wilayah, ruang atau kawasan publik, perdagangan, zoning-atau kawasan di dalam kota dan rencana wilayah
Hal yang harus diperhatikan oleh seorang arsitek dalam merancang yang berhubungan dengan tapak antara lain: luas tapak dibandingkan dengan luas bangunan atau fasilitas lain, bentuk tapak, persil yang tidak digunakan, status lahan & ruang bebas, topografi seperti pohon peneduh, pemandangan bagus & lereng yang menyenangkan, kualitas lingkungan, dampak proyek terhadap lingkungan sekitarnya, bahaya misalnya kemungkinan banjir, longsoran, kedekatan terhadap jalur kereta api, lalu lintas cepat, bantaran tinggi, perairan yang tidak terlindungi, keberadaan serangga anggu seperti rayap, nyamuk, muka air tanah yang tinggi sehingga menyebabkan kelembaban pada bangunan, gangguan: kedekatan terhadap pabrik, rel kereta api, bengkel, lalu lintas dan sebagainya, yang mengakibatkan gangguan suara, asap, debu, bau-bauan atau getaran.

Pertimbangan lingkungan menjadi aspek penting dalam proses perencanaan tapak, mencakup analisis iklim mikro dan makro, ekosistem dan keterkaitannya, hidrologi,vegetasi, serta kondisi tanah bawahpermukaan.Seperti tapak di tepi pantai, di pegunungan(lihat gambar sebelah) atau di daerah genangan banjir. Kriteria umum memilih tapak telah berkembang dari berbagai sumber. Kriteria ini mencakup lingkungan keseluruhan, regional maupun lokal. Pertimbangan setempat yang khusus jugaharus disesuaikan dengan persyaratan umum. Kesesuaian terhadap rencana tata kota yang telah disetujui, rencana sementara atau beberapa kecenderungan dalam penggunaan tanah.

D. Culture (Budaya)
GAYA (style) arsitektur diwakili oleh dua hal.Pertama, yang paling kasat mata adalah arsitekturdalam pengertian formalistik (wujud), bentukan masa, teknik membangun, fungsi-fungsi yang diwadahi,dan kesan keseluruhan karya tersebut. Kedua, lebih sulit dikenali, adalah dalam pengertian pra-anggapan, interpretasi dan wacana yang melatari kehadiran wujud arsitektur. Pada tataran ini, ujud “hanya” merupakan hasil dari proses desain. Yang harus diapresiasi adalah bobot pemikiran, curahan emosi, maupun penyaluran kehendak dari si arsitek. Beberapa karya yang dirancang dalam proses dan alur pemikiran yang kurang lebih serupa bisa menjadi pemicu kehadiran “gaya” tertentu.
Secara taksonomis-simplistik, gaya arsitektur dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, gaya arsitektur yang bersifat kultural. Kedua, gaya yang lebih berorientasi pada referensi personal. Dan ketiga, gaya yang tampil sebagai gaya “universal”. Kehadiran ketiga gaya arsitektur tersebut sangat nyata di seluruh belahan dunia dan sangat terkait dengan tarik-menarik kekuatan global versus lokal, homogenitas versus heterogenitas kultur, keterbukaan versus ketertutupan masyarakat terhadap ide baru. Juga tidak kalah pentingnya, tergantung situasi finansial bangsa dan negara.
Taksonomi tersebut sangat simplistik sifatnya, untuk itu jangan dipandang secara kaku. Di dalam gaya arsitektur yang lebih dekat pada referensi kultur tertentu, tetap saja akan ditemui pendekatan personal arsitek di dalamnya yang cukup untuk menghadirkan perbedaan dengan apa yang umum dilakukan. Tetap saja ada pendekatan arsitektur, pencarian yang bisa dikaitkan dengan samudera arsitektur di jagat ini. Arketip Carl Gustav Jung juga berlaku dalam arsitektur. Pada zaman teknologi informasi seperti ini, bahkan tidak mungkin bagi kita untuk secara ketat menerapkan “kemurnian” gaya.
Situasi arsitektur mutakhir Indonesia memperlihatkan beragam gaya muncul di berbagai bagian negeri ini. Secara umum, kita bisa menyaksikan contoh pembagian taksonomis yang diterapkan secara eklektik, terkadang tanpa kesadaran atas “kepantasan” dengan alam negeri yang berbeda dengan alam asal gaya arsitektur tersebut.
Gaya ini secara umum sering disebut gaya arsitektur tradisional dan perkembangannya adalah gaya arsitektur vernakular. Arsitektur tradisional lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan, wawasan, dan tata laku yang berlaku sehari-hari secara umum. Bali, terutama pada daerah pedesaan dengan basis pertanian, menjadi saksi arsitektur jenis ini. Di kota-kota besar Bali, pada daerah yang berbasis pariwisata, lebih banyak kita saksikan arsitektur bergaya vernakular, seperti pada bangunan dengan tipologi baru yang tidak dikenal secara umum pada tataran tradisional, yaitu pada rancangan hotel, toko, dan sebagainya.

itektur vernakular merupakan transformasi dari situasi kultur homogen ke situasi yang lebih heterogen dan berusaha sebisa mungkin menghadirkan citra, bayang-bayang realitas arsitektur tradisional. Rasa hormat pada tradisi “agung” dan “tinggi” biasanya cukup nyata pada arsitektur vernakular. Citra yang disajikan lebih banyak bersandar pada referensi arsitektur “rakyat” daripada terhadap bangunan keagamaan, bangunan milik bangsawan-penguasa dan sejenisnya. Referensi pada arsitektur “rakyat” yang secara fungsional sudah beradaptasi, jitu, teruji terhadap alam tempatnya berada, biasanya lebih memiliki kepekaan baik secara teknis, sosial, dan kultural.
Pada perkembangan mutakhir, di mana heterogenitas kultur menjadi dominan, arsitektur tradisional mengalami lompatan melampaui proses vernakularisasi, dan muncul dalam wujud eklektik (campur aduk) wujud tradisional, tanpa perduli pada tatanan, hirarki makna, pengertian yang terkandung pada wujud “asli”-nya. Kita bisa saksikan, masih di Bali, berbagai tradisi arsitektur, baik tradisi “agung” dan “tinggi”, bahkan juga dari berbagai belahan dunia, dari puncak-puncak kebudayaan sejagat disajikan dalam kehadiran baru di dalam kerangka kultur Bali kontemporer. Lihat saja daerah Kuta.

E. Inhabitant (Kebiasaan)
Disadari atau tidak, sepanjang hidupnya, manusia tidak akan pernah lepas dari aktivitas. Mulai dari pertama kali kita membuka mata ketika bangun tidur sampai mata kembali tertutup ketika tidur kembali, begitu banyak aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Aktivitas itu bisa berupa apa saja, mulai dari aktivitas harian yang remeh-remeh seperti bangun, mandi, gosok gigi, berpakaian, makan, berjalan kaki, tidur, berolahraga, bersosialisasi sampai pada aktivitas yang dapat dianggap sebagai aktivitas besar yang bisa jadi seperti aktivitas ekonomi misalnya bekerja.
Tidak bisa dipungkiri, setiap aktivitas itu tidak akan terpisahkan dengan wadah yang menaunginya. Sederhananya, setiap aktivitas pasti berkaitan dengan fasilitas dan begitu juga sebaliknya. Dilihat dari akar katanya, fasilitas berasal dari kata sifat dari Bahasa Latin yakni facilis-e yang berarti mudah. Maka, suatu fasilitas tentu memudahkan dan menunjang sebuah aktivitas tertentu.
Konsep daily yang diartikan sebagai sehari-hari sangat berkaitan dengan pemahaman akan arsitektur dan ruang serta hubungan antara sosial dengan keruangan yang terjadi di dalamnya. Bagaimana manusia berperilaku dan mendefinisikan sebuah ruang, dan lain-lain.
Maka, aktivitas selalu berkaitan dengan pekerjaan arsitektur. Setelah mempelajari dan memahami daily masing-masing orang, arsitek bisa memperkirakan kebutuhan mereka dan dengan berdasarkan pada kebiasaan dan mendesain wadah hidup manusia. Arsitek menerapkan sistem participatory design agar lebih optimal dengan melibatkan calon user dalam proses desain sehingga hasilnya lebih representatif dan mencerminkan diri mereka dan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
Fasilitas bisa disebut bangunan (building) jika sebuah fasilitas bisa mengakomodasi aktivitas manusia dari segi keruangannya. Hal inilah yang membedakan sebuah fasilitas bisa disebut building atau non building.

Rapoport (dalam Catanese & Snyder, 1991) mengungkapkan bahwa arsitektur bermula sebagai tempat bernaung. Oleh karena itu banyak anggapan di masyarakat bahwa arsitektur adalah sesuatu yang berhubungan dengan bangunan sebagai tempat tinggal. Bagi orang yang berkecimpung di bidang arsitektur umumnya pemahaman mereka mengenai arsitektur berbeda dengan masyarakat awam. Mereka pun umumnya lebih dapat memandang arsitektur secara luas dan lebih terbuka. Banyak dari mereka yang berpendapat bahwa arsitektur merupakan bagian dari kehidupan, yang mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan dekat dengan manusia. Konsep tersebut lebih dikenal sebagai konsep Architectural Everyday. Dan karena arsitektur berhubungan dengan yang ada di sekitar dan dekat dengan kehidupan manusia, maka arsitektur berhubungan pula dengan ruang dan perasaan.
Kata fungsi menjadi kata kunci ketika Louis Sullivan, seorang arsitek pada awal abad ke-20, melontarkan diktum “Form follow function”.Istilah fungsi kemudian dijabarkan desainer produk Victor Papanek sebagai syarat bagi kehadiran desain yang baik.
“Fungsi”, bagi Papanek, adalah gabungan tidak terlepaskan dari banyak elemen; metoda, kegunaan/kebutuhan, keinginan, kesezamanan, estetika, asosiasi, dalam kaitannya dengan isu lingkungan.





BAB III
PEMBAHASAN

Dari sedemikian banyak paparan di atas mengenai good building, penulis memilih kompleks Seminari Tinggi Keuskupan Bandung Fermentum sebagai bangunan Good Building. Menurut penulis, kompleks yang dibangun oleh Rm. Y.B Mangunwidjaja Pr ini memenuhi berbagai kriteria good building. Bangunan yang diresmikan tahun 1997 ini memiliki ciri khas yang unik .
Rm Mangunwijaya berusaha menerapkan konsep arsitektur sederhana tapi sangat memperhatikan aspek sosial dan ekonomi penghuninya. Kesederhanaan itu nampak dari tembok batu bata yang tidak diekspos tanpa plesteran namun justru memberikan tekstur yang unik

Bukaan jendela yang besar membantu memberi penerangan alami dari matahari yang cukup pada siang hari tanpa menjadikan ruangan di dalamnya menjadi panas karena arah jendela menghadap ke Utara dan selatan. Rm Mangun berhasil memanfaatkan iklim tropis dengan matahari yang menyinari sepanjang tahun yang dimiliki Negara ini dan menjadikkannya kekayaan dalam karya Seminari Fermentum ini sekaligus membantu menciptakan sebuah hunian yang hemat energi.










Pencahayaan alami dari matahari “dimainkan” secara baik sehingga memberi kesan efek dramatis nan syahdu pada ruang di bawahnya (dulu merupakan ruang Capela Magna (Kapel Besar) namun kini diubah menjadi ruang Aula).








Bukaan-bukaan antar ruangan pun dimanfaatkan secara baik sebagai sirkulasi udara sehingga di siang haripun tanpa sama sekali pemakaian penyejuk ruangan, ruang di dalamnya tetap terasa sejuk dan nyaman secara thermal.





Pemakaian elemen kayu dalam bangunan memberikan kesan akrab dan hangat sehingga ketika penulis masuk ke dalam ruangan terasa semacam penerimaan secara tidak langsung dari penghuni





Seperti karya-karya Rm Mangun yang lain seperti Kompleks Ziarah Sendang Sono di Muntilan, Beliau selalu memanfaatkan kontur tanah yang ada tanpa banyak “memaksakan” kontur tanah menjadi rata. Menurut penulis, hal ini menjadi nilai lebih dari bangunan karena dengan variasi kontur tanah yang ada dimanfaatkan secara optimal dan memberik kesan penyatuan bangunan dengan lingkungan di sekitarnya




Konsep Seminari Tinggi yang notabenenya merupakan sebuah kompleks komunitas Calon Rohaniwan yang memerlukan suasana tenang (Latin:silentium) diusahakan secara baik dengan memberi tanaman-tanaman yang rimbun untuk mereduksi kebisingan yang ada di sekitar kompleks khususnya kebisingan akibat relatif dekatnya kompleks dengan bandara Hussein Sastranegara Bandung







Meskipun ruang kamar seminaris ini pada kenyataan sangat sempit, namun terasa lega dengan penggunaan atap yang tinggi sekaligus bukaan jendela yang banyak sehingga ruang kamar dapat “melampaui” batas-batas ruang kamar itu sendiri dan menjadikan keindahan lingkungan di sekitarnya menjadi bagian dari ruangan itu sendiri




Ruang makan sekaligus ruang rekreasi di lantai bawah mampu mengakomodasi interaksi pengguna dalam suasana yang akrab.






Bentuk atap yang unik memberi kesan tersendiri sekaligus menjadi perhatian yang mampu mengingatkan orang akan bentuk dan suasana bangunan.


Tatanan ritme ditonjolkan melalui penonjolan ruangan yang ada dan perletakan jendela
Kompleks seminari ini terdiri dari beberapa bangunan yang tetap menyatu dengan kesamaan bentuk dalam susunan cluster. Selain itu, tatanan heirarki dengan pusat Bangunan Capela Magna dengan bentuk dan ukuran relatif berbeda menciptakan penonjolan yang khas dan menjadi symbol bahwa di sanalah inti dari kehidupan di Seminari tersebut.
Ruang buku disediakan untuk mengakomodasi kebutuhan seminaris yang selalu berusaha mengembangkan ilmunya dengan membaca buku


Rm Mangunwidjaja pun tidak memperhatikan aspek cultural dalam karya ini. Beliau mengadopsi bentuk atap Julang Ngapak yang menjadi ciri bangunan Sunda. Sehingga memberi kesan bahwa nilai kearifan lokal adalah elemen penting dan patut djunjung tinggi dalam setiap karya Arsitektur




BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari berbagai pemaparan di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa sebuah bangunan yang baik haruslah memperhatikan empat aspek yakni
1. Climate (iklim)
2. Site (tapak)
3. Culture (Budaya)
4. Inhabitant (kebiasaan)
Perkembangan tren arsitektur yang ada di dunia tidak bisa serta merta diadopsi secara mentah-mentah karena bagaimanapun keempat aspek di ataslah yang memegang peranan penting dalam terciptanya good building.
B. Saran
Penulis berharap semoga dengan penulisan karya tulis ini, para pembaca khususnya para calon arsitek dapat lebih mendalami terciptanya good building bukan modist building dengna mempertimbangkan empat aspek di atas. Selain itu, penulis berharap semoga bangunan Seminari Tinggi Keuskupan Bandung Fermentum dapat selalu menjaga keaslian dan keterawatan bangunan karya Rm Mangun ini sehingga konsep awal pendirian bangunan ini dapat terus hidup dan menghidupi orang-orang yang tinggal dan singgah di dalamnya.






DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari Buku:
Ching, D.K Francis.2000.ARSITEKTUR:Bentuk , Ruang, dan Tatanan, Jakarta: Erlangga.
_____, 1997. Buku Kenangan Peresmian Seminari Tinggi Fermentum. Bandung: Seminari Tinggi Fermentum.

Sumber dari Internet:
www.dahlanforum.wordpress.com
www. esubijono.wordpress.com
www.kompas.com
www.pursal.com
www.silabanbrotherhood.com
www.sinarharapan.com
www.tempointeraktif.com
www. wastumaja.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar