Jumat, 27 Februari 2009

Sebongkah Emas di Balik Tumpukan Sampah

Manusia muncul belakangan sekali dalam sejarah bumi tetapi ia telah menguasai bumi dan merusaknya besar-besaran. Bahkan, ia mampu memusnahkan hampir segala makhluk termasuk dirinya sendiri. Apakah ada masa depan bagi makhluk seagresif ini? Jawabannya terletak pada dirinya sendiri karena sudah dua abad dia menamakan dirinya sebagai Homo Sapiens (Manusia yang Bijaksana).

Sekilas Mengenal Sampah
Sampah adalah konsekuensi dari kehidupan manusia. Tidak bisa dipungkiri, selama manusia beraktivitas, maka sampah akan selalu hadir. Dilihat dari pengertiannya, sampah berarti barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi[1].
Kini sampah menjadi masalah yang kompleks karena makin lama jumlah manusia yang hidup di dunia semakin bertambah. Padahal pada awalnya jumlah manusia sangatlah sedikit, namun pada perkembangannya manusia semakin lama semakin banyak. Awalnya pengaruh perkembangan jumlah populasi manusia tidak terlalu berarti dalam merusak lingkungan. Kehidupan yang masih bersatu dengan alam, jumlah manusia pun sedikit, dan ekploitasi alam tidak terlampau besar menyebabkan alam tidak mengalami kerusakan yang berarti. Mungkin, ada sedikit kerusakan tetapi intensitasnya masih sangatlah kecil dan alam pun segera bisa pulih kembali karena alam mempunyai kemampuan untuk menjaga kelestariannya yang biasa kita sebut sebagai proses suksesi.
Pengaruh manusia terhadap alam pun berubah seiring dengan makin banyaknya jumlah populasi manusia. Kecenderungannya, makin banyak jumlah manusia berarti semakin banyak pula kebutuhan primer yang harus dipenuhi agar manusia bisa mempertahankan hidupnya sehingga ekploitasi terhadap alam semakin intensif.
Jumlah sampah yang dihasilkan sebanding dengan jumlah barang yang manusia konsumsi, semakin banyak barang yang manusia konsumsi berarti semakin banyak pula sampah yang dihasilkan dan begitu pulalah sebaliknya. Bila manusia tidak hati-hati, bukan tidak mungkin masalah ini justru akan menjadi bom waktu dan pada akhirnya akan menyengsarakan umat manusia sendiri.
Menurut HM Itoc Tochija (2005:115), pada tahun 1984, rata–rata setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah sekitar 2,3 liter atau sebanding dengan 0,575 kg. Namun, setiap tahunnya, produksi sampah tersebut terus meningkat. Kini, diperkirakan sampah yang dihasilkan setiap orang bisa sampai mendekati 1 kg. Menurut Kim Seok Cheon, satu orang saja dapat menghasilkan sampah sekitar 55 ton sampah semasa hidupnya, maka dapat dibayangkan seberapa banyak sampah yang dihasilkan manusia di seluruh dunia.[2] Untuk kota Jakarta saja pada tahun 2000, sampah yang dihasilkan dalam satu tahun mencapai 9.252.000 meter kubik[3] atau setara dengan 170 kali volume candi Borobudur.[4]Bila sampah tidak tertangani dengan baik, bukan mustahil, beberapa tahun ke depan, Jakarta akan tenggelam oleh sampah yang diproduksinya.
Secara garis besar, menurut Setyo Purwendro dan Nurhidayat (2006:6), sampah dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu
a.Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Bahan sampah organik biasanya berjumlah sekitar 60-75% dari total volume sampah.
b. Sampah anorganikSampah anorganik adalah sampah yang berasal bukan dari makhluk hidup. Sampah ini bisa berasal dari bahan yang bisa diperbarui dan bahan yang beracun serta berbahaya. Sampah yang masuk ke dalam golongan ini adalah sampah yang terbuat dari plastik dan logam.
c. Sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya)
Sampah B3 adalah sampah yang dikategorikan beracun dan berbahaya bagi manusia karena jumlahnya maupun konsentrasinya. Benda-benda yang dikatagorikan dalam golongan ini adalah benda-benda yang memiliki sifat mudah terbakar, korosif, mudah menularkan penyakit, dan reaktif. Sampah B3 ini tidak bisa dicampurkan dengan sampah lain.
Sampah Sumber Masalah Lingkungan
Sampah yang sedemikian besar tentunya bisa menjadi bom waktu bila masalah sampah ini tidak tertangani dengan baik. Salah satu kasus tidak dikelolanya sampah dengan baik adalah Longsornya sampah TPA[5] Leuwigajah. Kejadian itu mengakibatkan dua desa yang berdekatan dengan lokasi TPA terkubur,143 orang tewas dan 139 rumah terkubur. Hal ini menjadi catatan kelam Bangsa Indonesia sebagai tragedi yang diakibatkan oleh buruknya pengelolaan sampah terbesar di Indonesia dan bahkan terbesar kedua di dunia setelah peristiwa tewasnya 200 orang di TPA Payatas di Quezon City, Filipina tahun 2000[6].
Sampah berpotensi mengandung berbagai bahan pencemar, seperti pencemar biologis yang terdiri dari bakteri, virus, jamur, protozoa dan sebagainya baik yang bersifat patogen maupun tidak yang bisa menyebabkan suatu penyakit. Di sisi lain, banyak sekali pencemar anorganik dalam setiap sampah yang memiliki sifat sulit diuraikan secara alami seperti plastik yang mampu bertahan ratusan tahun dan hal ini menyebabkan sampah jenis ini bisa terus menumpuk tanpa bisa dikurangi keberadaanya di alam.
Di samping kedua hal yang telah disebutkan di atas sampah pun mengandung bahan yang mengandung racun (toxic) seperti sisa-sisa obat, baterai yang mengandung logam berat seperti merkuri yang menyebabkan penyakit minamata dan asbes yang diindikasikan mengandung karsinogen, penyebab utama timbulnya sel kanker. Maka, pada dasarnya, sampah memiliki kaitan erat dengan kesehatan dan kehidupan manusia secara umum.
Sekalipun sampah merupakan produk sisa, namun sesungguhnya merupakan sebagai suatu “rantai makanan” bagi organisme tingkat rendah. Sampah jika dikaitkan dengan ekosistemnya disebut sebagai Dendritus Food Chain[7]. Sampah organik memiliki sifat mudah busuk. Senyawa sulfat yang berada di dalam sampah diubah menjadi sulfida oleh bakteri pembusuk. Proses pembusukkan ini mereaksikan laktat dan sulfat menjadi asetat, sulfida, air, dan karbon dioksida. Sedangkan ion sulfida akan bereaksi dengan H+ dan Fe2+ menjadi H2S dan FeS. Reaksi inilah yang menyebabkan sampah menghasilkan cairan hitam berbau busuk dan sering disebut air lindi (leachate)[8].
Karena sampah bisa mengakibatkan pencemaran, maka tempat pembuangan sampah harus dijauhi dari pemukiman penduduk dan sumber-sumber air. Apabila sampah tidak dikelola dengan baik maka sampah bisa menyebabkan suatu efek negatif seperti:
1. Mewabahnya lebih dari 25 jenis penyakit misalnya diare, keracunan, koreng, kolera, tifus, demam berdarah, penyakit kulit, dan lain-lain.
2. merusak keindahan lingkungan sehingga menimbulkan lingkungan yang tidak memberi rasa nyaman.
3. Menimbulkan bau yang tidak sedap dan polusi udara akibat pembakaran dan proses pembusukan sampah.
4. Meningkatnya penyakit ISPA[9] di masyarakat sekitar TPA karena polusi udara.
5. Turunnya kualitas air akibat dari masuknya air lindi ke dalam tanah dan mencemari air tanah.
6. Turunnya kadar oksigen dalam air karena oksigen yang ada di dalam air digunakan oleh bakteri untuk menguraikan sampah organik tersebut.
7. Uap air tercemar sampah yang turun bersama hujan menyebabkan kerusakan pada logam karena mengandung garam yang bersifat korosif.
8. Sampah masuk ke dalam saluran air bisa menyumbat aliran air, akibatnya air akan meluap dan terjadilah banjir.
9. Sampah di sungai dapat mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga volume air yang dapat ditampung oleh sungai tidak maksimal.
10. Gas-gas seperti metana dan karbon dioksida yang dihasilkan selama degradasi sampah dapat membahayakan kesehatan dan mematikan.
11. sampah dapat menimbulkan kondisi yang tidak normal, misalnya kenaikan suhu dan perubahan pH (derajat keasaman suatu zat) sehingga tidak memungkinkan makhuk hidup dapat hidup dengan baik.
12. Tingkat tingkat kadar garam di dalam tanah akan menjadi sangat tinggi sehingga pemulihan tanah untuk tujuan pertanian akan memakan waktu sangat lama.
13. Dari sisi ekonomi, Hal ini menyebabkan harga jual tanah di daerah TPA menjadi turun karena dianggap daerah yang berpolusi.

Ubahlah Paradigma Sampahmu...!
Selama ini, sampah selalu dipandang sebagai hal yang kotor, tidak berguna, bau, menjijikan, dan sumber penyakit. Paradigma inilah yang menyebabkan sedikit sekali orang yang mau peduli dengan sampah Paradigma ini jelas membuat ruang lingkup penanganan sampah menjadi sempit dalam prakteknya. Selama ini pasti tidak ada yang.mengira bahwa bahan yang yang tidak berguna dan dibuang oleh seseorang mempunyai nilai yang sangat tinggi jika diolah dengan serius.
Paradigma masyarakat dalam memaknai sampah sebagai barang yang tidak berguna sehingga perlu dibuang atau disingkarkan menghapuskan pemikiran ‘pemanfaatan kembali’ (re-use) pada sampah-sampah tersebut. Di sisi lain, makna kebersihan yang mendera pikiran kita adalah bentuk penyingkiran atau pemindahan sampah dari suatu tempat ke tempat lain tidak peduli sampah yang kita buang juga akan mengotori tempat yang lain. Menurut Sri Hartati Samhadi, sindrom ini dapat diistilahkan sebagai “sindrom” NIMBY (Not In My Back Yard)-[10] dalam pengelolaan sampah. Sikap masa bodoh dan acuh tak acuh terhadap sampah sudah seharusnya diganti dengan budaya yang lebih mencerminkan tingkat kedewasaan masyarakat. Ubahlah kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah.
Berpikirlah kreatif...! Selama ini, manusia tidak bisa selalu mengandalkan alam sebagai ladang usahanya. Dengan sedikit polesan kekreatifan, tumpukan sampah bisa menjadi alternatif yang bisa diandalkan untuk bahan produksi. Dengan bahan yang sangatlah melimpah disertai teknologi, bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang, setumpuk sampah bisa menjadi sesuatu yang diperebutkan karena manusia sudah menemukan “tambang emas” yang selama ini tidak disadari dan selama ini kehadirannya dibiarkan terkubur di dalam tumpukan sampah.
Seperti hewan pengurai yang membantu alam dalam menjaga keseimbangannya, seorang manusia yang jeli bisa mendapatkan keuntungan yang besar dan juga sekaligus bisa menjadi kader-kader lingkungan yang handal. Para “makhluk pengurai” tersebut akan menciptakan sebuah siklus yang selama ini tidak berjalan yaitu siklus yang dinamakan oleh penulis dengan sebutan “siklus sampah”.
Bila sampah dikelola dengan baik, sampah yang tidak berguna itu dapat diubah menjadi banyak hal seperti bahan pembuatan pupuk kompos, briket arang sampah, makanan ternak, bahan daur ulang, sumber pembangkit listrik, material reklamasi pantai, media budidaya jamur, bahan pembuatan pestisida organik, bahan batako, sumber biogas,bahan bioplastik dan biodiesel, media produksi PST[11] , media produksi vitamin, penyubur plankton, dan lain-lain. Maka, jangan anggap remeh sampah, karena ada harta terpendam di dalamnya.
Sampah, Tanggung Jawab Bersama
Seharusnya permasalahan sampah diselesaikan dari akarnya. Permasalahan sampah yang ada selama ini di Indonesia terkesan tidak pernah bisa memberikan solusi yang tepat karena masyarakat kurang ikut ambil bagian di dalam penanganan sampah. Padahal, masyarakat yang merupakan produsen sampah dan seharusnya turut mengambil bagian dalam penanganan sampah karena pada dasarnya masalah sampah berkaitan erat dengan gaya hidup dan budaya masyarakat.
Kini, sudah saatnya pendidikan pada masyarakat mengenai penanganan sampah menjadi program pemerintah. Keberhasilan dalam pengelolaan sampah seharusnya bisa terwujud jika konsep penanganan sampah 3R (reduce, reuse, recycle) dan composting sudah dilakukan dari tingkat wilayah terendah misalnya kecamatan, kelurahan, RW, RT, bahkan sampai tingkat wilayah terendah yaitu rumah masing-masing. Perlakuan sampah dengan cara seperti ini sesuai dengan prinsip pengolahan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya.
Penanganan sampah yang efektif adalah penanganan sampah yang dilakukan dengan cara melibatkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Selama ini, pengelolaan sampah terkesan tidak efektif karena pengelolaan sampah tidak ditempatkan kembali pada basis masyarakat.
Peran masyarakat dalam pengelolaan sampah sangatlah penting. Sebagai konsumen, masyarakat perlu disadarkan melalui edukasi publik untuk sebisa mungkin mengurangi konsumsi produk-produk yang bisa mencemari lingkungan. Sebagai produsen, masyarakat perlu intensif dari permerintah misalnya diadakannya undang-undang atau peraturan untuk mencegah produsen memproduksi barang yang tidak ramah lingkungan. Pengelolaan sampah secara mandiri sangatlah penting, mengingat kemampuan pemerintah dalam penanganan sampah sangatlah terbatas. Usaha sedikit demi sedikit misalnya mulai memilah-milah sampah dari rumah dan mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan masyarakat sangatlah membantu menangani permasalahan sampah.
Dari kenyataan yang ada di atas, maka sudah selayaknya sampah perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak. Urusan sampah pada dasarnya tidak hanya urusan pemerintah saja, tetapi juga masyarakat. Masing-masing pihak memiliki kepentingan yang sama yaitu membuat sebuah komunitas yang beradab demi kesejahteraan hidup bersama. Tidaklah salah jika diperlukan suatu sinergi (hubungan kerja sama yang kreatif) sehingga mendapatkan hasil yang menguntungkan bagi kedua pihak.

DAFTAR PUSTAKA
Hartana, Albertus. 1983. Sampah Sampah Sampah, Sebuah Karya Tulis. Magelang: Seminari Menegah Mertoyudan.
Cheon, Kim Seok. 2006. Tiga Menit Belajar Pengetahuan Umum. Jakarta: BIP.
Daryanto. 2004. Masalah Pencemaran. Bandung: Tarsito.
Apriaji, Wied Harry. 2005. Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hurhidayat dan Setyo Purwedro. 2006. Mengolah Sampah untuk Pupuk dan Pestisida Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sudrajat, H.R. 2006. Mengelola Sampah Kota. Jakarta: Penebar Swadaya.
Simamora, Suhut. 2005.Membuat Biogas. Bogor: Agromedia Pustaka,
Suhadi. 1984.Sampah dan Lingkungan Hidup Manusia. Jakarta: Kucica.
Tochija, Itoc dan Budiman. 2005.Tragedi Leuwigajah. Bogor: Penerbit Buku Ilmiah Populer.

[1] -, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta,1994) hal 776
[2] Kim Seok Cheon, 3 Menit Belajar Pengetahuan Umum, (Jakarta, 2006) hal 23
[3] HM. Itoc Tochija, Tragedi Leuwigajah, (Jakarta,2005) hal. 126
[4] Volume Borobudur diperkirakan sekitar 55.000 meter kubik
[5] TPA adalah singkatan dari Tempat Pembuangan Akhir
[6] HM. Itoc Tochija, Tragedi Leuwigajah, (Jakarta,2005) hal. 5

[7] Dendritus Food Chain: sampah yang masih berfungsi dalam suatu rantai tersendiri.
[8] Leachate;cairan yang mengandung zat padat tersuspensi yang sangat halus dan merupakan hasil dari penguraian mikroba.
[9] ISPA adalah singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas.
[10] Terjemahan bebasnya di dalam bahasa Indonesia adalah asal bukan di halaman belakang rumah saya
[11] PST singkatan dari Protein Sel Tunggal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar